Judul Buku 'Islam ala Prabowo' Dinilai Picu Perpecahan, Anwar Abbas Minta Ganti
Baca dalam 60 detik
- Pengamat Anwar Abbas meminta penerbit mengganti judul buku yang dinilai mempersempit ajaran Islam pada satu tokoh.
- Buku yang memuat nama sejumlah tokoh tanpa izin berpotensi merusak citra Presiden Prabowo Subianto.
- Langkah pergantian judul dinilai penting untuk meredam polemik dan menjaga keutuhan umat.

Pengamat sosial-ekonomi dan keagamaan Anwar Abbas mendesak tim penulis serta penerbit buku "Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" untuk segera mengganti judulnya. Menurutnya, judul yang melekatkan ajaran Islam pada satu figur berpotensi memicu perdebatan panjang dan bahkan memecah belah umat.
Buku setebal 368 halaman yang diluncurkan pada 26 Agustus 2025 oleh Atmosphere Publishing House itu belakangan menjadi sorotan publik. Kritik mengalir deras di media sosial sejak awal September 2026, banyak netizen mempertanyakan mengapa ajaran Islam dipersempit pada pemahaman seorang tokoh. Anwar menilai kekhawatiran itu beralasan karena judul semacam ini bisa membuka ruang munculnya klaim "Islam versi lain" yang saling bertentangan.
Lebih jauh, Anwar menyoroti potensi kerusakan nama baik Presiden Prabowo Subianto. Pasalnya, buku tersebut bukan ditulis langsung oleh Prabowo, melainkan berupa bunga rampai yang memuat kontribusi sejumlah tokoh, seperti Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Muhadjir Effendy, dan Tuan Guru Bajang (TGB) M. Zainul Majdi. Ia menegaskan bahwa judul yang ada saat ini dapat menyudutkan Prabowo, apalagi jika publik mengira isi buku merupakan representasi langsung dari pemikiran sang presiden.
Yang lebih memprihatinkan, Anwar mengungkapkan adanya pihak-pihak yang namanya tercantum dalam daftar isi tetapi mengaku tidak pernah mengirimkan tulisan apa pun. Hal ini memperkuat kesan bahwa buku tersebut bukan buah pemikiran dari tokoh-tokoh yang tertera, sehingga semakin mengaburkan kredibilitas kontennya. Meski demikian, Anwar menilai substansi buku sebenarnya tidak bermasalah karena berisi pengamatan dan testimoni para penulis terhadap sikap serta kebijakan Prabowo dari perspektif ajaran Islam.
Untuk meredam polemik yang kian meluas, Anwar menyarankan agar judul buku diganti dengan narasi yang lebih mencerminkan isi. Ia mengusulkan alternatif seperti "Sikap dan Pandangan Prabowo terhadap Kehidupan Kebangsaan dan Kemanusiaan Dilihat dari Perspektif Ajaran Islam". Dengan begitu, publik tidak akan terseret dalam perdebatan yang tidak produktif dan nama baik semua pihak tetap terjaga.
Polemik ini mengingatkan pada dinamika publikasi buku bermuatan politik di Indonesia yang kerap memicu sensitivitas keagamaan. Di tengah masyarakat yang majemuk, pelabelan ajaran agama pada figur tertentu dapat menimbulkan resistensi dan salah tafsir. Bagi pembaca Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam memilih judul dan memastikan izin dari semua pihak yang terlibat, terutama ketika menyangkut tokoh publik dan isu agama.
Ke depan, penerbit dan penulis perlu segera merespons masukan ini dengan langkah konkret. Apakah mereka akan mengganti judul atau justru mempertahankan dengan memberikan klarifikasi publik? Keputusan ini akan menentukan apakah polemik ini mereda atau justru berlarut-larut, dan pada akhirnya menguji sejauh mana industri penerbitan di Indonesia mampu menjaga etika dan harmoni sosial.



