Hujan Akhirnya Turun di Kalimantan: Kabut Asap Mereda, OMC Kembali Digulirkan
Baca dalam 60 detik
- Setelah berminggu-minggu dilanda kekeringan dan kabut asap, hujan lebat mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan, membawa kelegaan bagi warga.
- Fenomena ini dipicu oleh dinamika atmosfer, termasuk gelombang Kelvin, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang kembali dilakukan BNPB di Kalimantan Selatan.
- Meski hujan membawa harapan, para ahli mengingatkan bahwa ketersediaan bahan semai tidak menjamin keberhasilan OMC tanpa dukungan kondisi awan yang memadai.

Setelah berbulan-bulan dilanda kekeringan ekstrem dan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan, sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan akhirnya mulai merasakan guyuran hujan. Hujan yang turun sejak akhir pekan lalu ini tidak hanya membasahi tanah yang kering, tetapi juga membawa harapan baru bagi warga yang selama ini terpaksa membatasi aktivitas di luar ruangan.
Di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, hujan deras tercatat mengguyur sejak Sabtu (5/9/2026) sore hingga malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mendata hujan turun di empat kecamatan: Melata, Sematu Jaya, Kujan, dan Bunut. Meski demikian, sejumlah desa di kecamatan lain masih terpanggang terik matahari. Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Hendrikel, mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memantau perkembangan cuaca di wilayah yang belum tersentuh hujan.
Kelegaan serupa dirasakan warga Balikpapan, Kalimantan Timur, yang pada Senin (7/9/2026) pagi diguyur hujan lebat. Hujan ini sempat reda, lalu turun kembali dengan deras tanpa disertai angin kencang atau petir. Menurut Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, hujan ini terjadi karena dinamika atmosfer yang aktif, dengan pertumbuhan awan yang terdeteksi pertama kali di Selat Makassar. Fenomena ini dipicu oleh penjalaran gelombang Kelvin sejak 4 September 2026, yang mendorong massa udara lembap ke arah pesisir dan membentuk sistem awan hujan baru.
Di Kalimantan Tengah bagian selatan, tepatnya Kabupaten Kotawaringin Timur, hujan juga turun pada Senin siang. Di wilayah Baamang, hujan mulai mengguyur sekitar pukul 14.00 WIB dengan intensitas sedang hingga deras. Warga seperti Ani Setiani menyambut gembira kehadiran hujan ini, berharap udara kembali segar dan kabut asap berkurang. BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit bahkan telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah tersebut, berlaku sejak pukul 13.15 hingga 15.15 WIB.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akhirnya dapat kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan setelah terhenti lebih dari sebulan. Sebanyak kurang lebih 1 ton garam halus disemai di wilayah utara provinsi tersebut pada Minggu (6/9/2026). Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjen (Purn) Herman Hidayat, menjelaskan bahwa operasi ini berjalan kembali setelah koordinasi dengan BMKG dan evaluasi tim internal. OMC direncanakan berlangsung hingga Rabu (9/9/2026) mendatang.
Sementara itu, Provinsi Kalimantan Tengah telah menyiapkan 31 ton bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) untuk mendukung OMC. Namun, Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng, Ahmad Toyib, mengingatkan bahwa ketersediaan bahan semai tidak menjamin hujan turun. "Persoalannya, banyaknya bahan semai tidak otomatis membuat hujan turun. Penyemaian awan hanya dapat dilakukan apabila terdapat pertumbuhan awan dengan kondisi yang memenuhi persyaratan," jelasnya pada Senin (7/9/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan besar dalam upaya modifikasi cuaca di tengah musim kemarau yang ekstrem.
Bagi Indonesia, kehadiran hujan di Kalimantan bukan sekadar kabar gembira, melainkan penanda penting dalam upaya mitigasi bencana karhutla yang setiap tahun mengancam kesehatan masyarakat dan perekonomian regional. Kabut asap lintas batas sering kali menjadi isu diplomatik dengan negara tetangga, sehingga langkah OMC dan kesiapsiagaan daerah menjadi sorotan. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah hujan akan terus turun, tetapi bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat langkah pencegahan agar ketergantungan pada teknologi modifikasi cuaca tidak menjadi satu-satunya solusi di tengah perubahan iklim yang kian tidak menentu.



