Surplus Transaksi Berjalan Jepang Membaik di Juli: Pariwisata dan Investasi Jadi Penopang
Baca dalam 60 detik
- Neraca transaksi berjalan Jepang mencatat surplus 2,99 triliun yen pada Juli, didorong pendapatan investasi dan sektor pariwisata.
- Defisit perdagangan barang melebar karena impor energi melonjak, namun surplus jasa dan pendapatan primer menutupi pelemahan tersebut.
- Pemulihan ini terjadi di tengah penurunan wisatawan China, sinyal diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi Jepang.

Tokyo, 8 September 2026 โ Neraca transaksi berjalan Jepang kembali mencatat surplus pada Juli setelah dua bulan sebelumnya tertekan. Kementerian Keuangan mengumumkan angka surplus mencapai 2,99 triliun yen (sekitar Rp317 triliun), tumbuh 15,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendorong utamanya adalah membaiknya neraca jasa, khususnya sektor pariwisata, serta meningkatnya pendapatan dividen dari investasi di luar negeri.
Perbaikan ini menjadi sinyal bahwa ekonomi Jepang tetap resilien di tengah gejolak global. Meski defisit perdagangan barang masih terjadi, surplus pendapatan primer dan jasa mampu mengkompensasi. Kondisi ini berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya ketika kenaikan harga energi dan pelemahan yen membuat neraca eksternal Jepang rentan.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan defisit perdagangan barang melebar menjadi 399,9 miliar yen, bertambah 212,2 miliar yen dari bulan sebelumnya. Ekspor naik signifikan 24,1 persen menjadi 11,26 triliun yen, ditopang pengiriman mobil dan produk semikonduktor. Namun, impor melonjak lebih tinggi, 25,9 persen menjadi 11,66 triliun yen, akibat harga minyak mentah yang melambung tinggi dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Sementara itu, pendapatan primerโyang mencerminkan pendapatan Jepang dari investasi luar negeriโnaik 5,8 persen menjadi 4,29 triliun yen. Defisit jasa, yang mencakup perjalanan dan angkutan barang, menyempit menjadi 512,9 miliar yen dari sebelumnya 771,1 miliar yen. Perbaikan ini terutama berkat surplus neraca perjalanan yang ditopang kunjungan wisatawan asing.
Jumlah wisatawan asing ke Jepang pada Juli mencapai 3,44 juta orang, naik tipis 0,1 persen secara tahunan. Angka ini terbilang impresif mengingat adanya peringatan perjalanan dari pemerintah China setelah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu yang mengisyaratkan potensi intervensi jika Taiwan diserang. Akibatnya, kunjungan dari China turun tajam, tetapi wisatawan dari negara lain mampu menutup kekurangan tersebut. Di sisi lain, jumlah wisatawan Jepang yang bepergian ke luar negeri turun 1,2 persen menjadi 1,19 juta orang, yang turut memperbaiki neraca perjalanan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi ganda. Pertama, sebagai sesama negara Asia yang mengandalkan ekspor dan pariwisata, Jepang menunjukkan bahwa diversifikasi sumber pendapatan eksternal penting untuk meredam gejolak harga komoditas. Kedua, bagi pelaku pasar Indonesia, surplus Jepang berpotensi memperkuat yen, yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dan arus investasi Jepang ke Indonesia. Jepang merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia, dan stabilitas ekonomi makro Negeri Sakura menjadi faktor penting bagi kelanjutan investasi di sektor manufaktur dan infrastruktur.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah surplus ini dapat bertahan. Normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan yang mulai menaikkan suku bunga dapat menguatkan yen, tetapi juga berisiko menekan daya saing ekspor. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan potensi eskalasi konflik Taiwan tetap menjadi variabel yang bisa membalikkan arah neraca berjalan. Pemerintah Jepang tampaknya akan terus mengandalkan sektor jasa dan investasi luar negeri sebagai penopang utama, sambil berupaya mengurangi ketergantungan pada impor energi melalui transisi hijau.



