Harga Minyak Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah: Pasokan Global Terancam hingga 2027?
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Selasa, didorong kekhawatiran konflik berkepanjangan di kawasan Teluk.
- Iran mengancam infrastruktur energi AS, memicu serangan balasan terhadap kapal tanker dan meningkatkan premi risiko di Selat Hormuz.
- Bank investasi global menaikkan proyeksi harga minyak, dengan asumsi gangguan pengiriman berlanjut hingga tahun depan.

Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (8/9), ditopang kekhawatiran pasokan di tengah meningkatnya risiko konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman balasan dari Teheran terhadap serangan baru AS di wilayahnya membuat pelaku pasar semakin memasukkan premi risiko ke dalam harga, terutama untuk pengiriman melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Brent crude tercatat naik 34 sen menjadi 97,34 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 1,15 dolar AS ke level 92,63 dolar AS. Kenaikan ini melanjutkan tren positif sesi sebelumnya, ketika Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli. Para analis menilai eskalasi terbaru telah mengubah lanskap geopolitik energi, dari sekadar ancaman menjadi aksi militer nyata yang saling balas membalas.
Pada akhir pekan lalu, militer AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu di dekat Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor utama Teheran. Serangan itu merupakan respons atas aksi Korps Garda Revolusi Iran yang menargetkan kapal perang AS di kawasan tersebut. Iran, melalui pernyataan resmi, memperingatkan bahwa seluruh infrastruktur energi di Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas AS, kini berada dalam jangkauan serangan balasan.
Daniel Hynes, analis komoditas di ANZ, dalam catatan risetnya menggarisbawahi bahwa eskalasi ini meningkatkan probabilitas kebuntuan yang berkepanjangan. "Konflik Timur Tengah yang memanas membuat pasokan Teluk Persia berpotensi tetap terbatas hingga akhir 2026," tulisnya. Ia menambahkan, pemulihan penuh ke tingkat sebelum konflik diperkirakan baru terjadi pada kuartal pertama atau kedua 2027. Pandangan senada disampaikan Ed Meir dari platform layanan keuangan Marex, yang menilai harga minyak akan tetap tinggi hingga akhir tahun selama perang masih berlangsung.
Koreksi proyeksi harga juga datang dari Goldman Sachs. Bank investasi global itu menaikkan perkiraan harga Brent dan WTI masing-masing sebesar 5 dolar AS menjadi 85 dan 80 dolar AS untuk kontrak Desember 2026, serta menjadi 80 dan 75 dolar AS untuk 2027. Revisi ini mencerminkan asumsi baru bahwa gangguan pengiriman di Timur Tengah akan berlanjut hingga tahun depan, sebuah skenario yang sebelumnya dianggap tidak mungkin oleh banyak pelaku pasar.
Bagi Indonesia, dinamika harga minyak ini memiliki implikasi langsung terhadap anggaran negara dan daya beli masyarakat. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga mentah akan menekan nilai impor energi dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Pemerintah pun dihadapkan pada dilema: menyesuaikan harga BBM bersubsidi atau menambah beban subsidi di tengah tekanan fiskal. Para pengamat memperkirakan, jika harga bertahan di atas 90 dolar AS per barel, pemerintah perlu mengkaji ulang asumsi makro dalam APBN, terutama untuk kompensasi energi.
Di sisi lain, situasi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi ke energi terbarukan. Meski dalam jangka pendek ketergantungan pada minyak impor masih tinggi, krisis berulang di kawasan penghasil minyak utama dunia memperkuat argumen untuk mempercepat pengembangan energi domestik, termasuk geothermal dan bioenergi. Namun, langkah tersebut membutuhkan investasi besar dan waktu yang tidak singkat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah diplomasi internasional mampu meredakan ketegangan sebelum berdampak lebih parah pada perekonomian global. Dengan tidak adanya tanda-tanda kemajuan menuju solusi damai, pelaku pasar dan pembuat kebijakan di Indonesia harus bersiap menghadapi volatilitas harga yang berkepanjangan. Akankah harga minyak menembus level psikologis 100 dolar AS? Atau adakah kejutan diplomasi yang mampu mengubah arah pasar?



