Huawei Pamer Mate XT2, Ponsel Lipat Tiga Seharga Rp47 Juta: Sinyal Perang Premium di Asia
Baca dalam 60 detik
- Huawei resmi meluncurkan Mate XT2, ponsel lipat tiga dengan chip Kirin 9050 Pro, mulai 19.999 yuan (sekitar Rp47 juta) dan dijual 12 September.
- Langkah Huawei ini merupakan respons atas tekanan biaya komponen dan persaingan ketat dengan Apple serta Xiaomi yang juga merilis produk anyar pekan ini.
- Dengan penguasaan 68% pasar ponsel lipat China, Huawei berpotensi memperkuat dominasi, sementara Samsung mundur dari segmen tri-fold.

Huawei meluncurkan Mate XT2, ponsel lipat tiga generasi terbaru, pada Senin (7/9) di Guangzhou, China. Langkah ini menjadi manuver strategis untuk mempertahankan supremasi di segmen ponsel premium Asia, tepat di tengah gempuran Apple dan Xiaomi yang juga bersiap merilis produk anyar pekan ini.
Mate XT2 hadir dengan layar yang dapat dilipat dua kali hingga berubah menjadi ukuran tablet, ditenagai chip Kirin 9050 Pro. Huawei mengklaim arsitektur chip anyar yang disebut LogicFolding ini mampu meningkatkan efisiensi daya sekaligus performa 42 persen lebih baik dibanding pendahulunya. Fitur unggulan lain mencakup engsel yang didesain ulang, ketahanan air yang lebih baik, serta teknologi privasi layar yang mencegah orang di sekitar melihat isi ponsel.
Namun, harga jualnya tidak ramah kantong. Versi termurah dibanderol 19.999 yuan (sekitar Rp47 juta), sementara varian tertinggi mencapai 24.999 yuan (sekitar Rp58 juta). Penjualan perdana akan dimulai pada 12 September. Direktur Eksekutif Huawei, Richard Yu, mengakui bahwa penetapan harga menjadi tantangan besar karena biaya memori yang melonjak tajam. "Kami mengadopsi banyak teknologi baru, dan tekanan biayanya sangat besar," ujarnya dalam konferensi pers.
Langkah Huawei ini bukan tanpa alasan. Perusahaan asal China tersebut tengah berupaya keras menembus embargo teknologi Amerika Serikat dengan mengembangkan prinsip "Tau Scaling Law" yang diperkenalkan pada Mei lalu. Strategi ini diyakini menjadi kunci bagi Huawei untuk terus berinovasi di tengah pembatasan akses chip canggih. Meski demikian, Huawei tetap dilarang beroperasi di pasar AS karena isu keamanan nasional.
Persaingan di pasar ponsel lipat kian memanas. Xiaomi dijadwalkan meluncurkan ponsel lipat saingannya pada hari yang sama, sementara Apple dikabarkan akan memperkenalkan iPhone terbaru pada Rabu (9/9) dengan spekulasi kehadiran model lipat. Samsung, yang selama ini memimpin pasar global ponsel lipat, justru dilaporkan menghentikan penjualan tri-fold Galaxy Z Fold 6 Special Edition setelah hanya tiga bulan beredar. Langkah Samsung ini memberi ruang bagi Huawei untuk tampil sebagai satu-satunya pemain utama di segmen tri-fold.
Di pasar domestik China, data IDC menunjukkan Huawei memimpin pangsa pasar smartphone dengan 22,6 persen pada kuartal kedua, mengungguli Apple yang hanya 18,1 persen. Xiaomi berada di posisi ketiga dengan 12,4 persen. Sementara itu, riset Smart Analytics Global mencatat Huawei menguasai 68 persen pangsa pengiriman ponsel lipat di China pada periode yang samaโangka yang menunjukkan dominasi yang sulit ditandingi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Meski harga Mate XT2 yang selangit membuatnya hanya terjangkau segmen ultra-premium, kehadiran ponsel lipat tiga ini bisa menjadi katalis tren adopsi teknologi lipat di Asia Tenggara. Samsung selama ini mendominasi pasar ponsel lipat Indonesia, namun agresivitas Huawei dalam inovasi dapat memicu persaingan harga dan fitur yang lebih ketat. Konsumen Indonesia yang loyal pada ekosistem Android dan mencari pengalaman baru mungkin mulai melirik opsi selain Samsung, terutama jika Huawei mampu menawarkan nilai lebih dalam hal kamera dan performa.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan memenangkan pertarungan tri-fold, tetapi juga apakah teknologi ini akan menjadi arus utama atau sekadar niche. Dengan biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang premium, adopsi massal masih jauh. Namun, jika Apple benar-benar meluncurkan ponsel lipat, pasar bisa berubah drastis. Akankah Huawei mampu mempertahankan keunggulannya, atau justru tergerus oleh raksasa Cupertino? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, persaingan ponsel premium Asia sedang memasuki babak baru yang menegangkan.



