Erupsi Anak Krakatau: Tujuh Bandara Ditutup Lebih Lama, 341 Ribu Penumpang Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Kemenhub memperpanjang penutupan tujuh bandara di Jawa-Sumatera hingga Senin malam sebagai antisipasi sebaran abu vulkanik.
- Lebih dari 2.900 penerbangan dan 341 ribu penumpang terkena dampak, dengan maskapai dan pengelola bandara disiapkan untuk pembersihan.
- Keputusan pembukaan kembali menunggu hasil VAAC Darwin dan pemantauan BMKG, mengindikasikan normalisasi bertahap.

Kementerian Perhubungan memutuskan memperpanjang penutupan operasional tujuh bandara di Pulau Jawa dan Sumatra hingga Senin (7/9) pukul 23.59 WIB menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih menyelimuti wilayah udara dengan abu vulkanik. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan pola angin yang dinamis dan demi menjaga keselamatan penerbangan, ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin sore.
Langkah konservatif ini bukan tanpa alasan. Dudy menegaskan bahwa pergerakan abu vulkanik yang tidak menentu membuat otoritas enggan mengambil risiko. "Kita ingin memastikan betul bahwa debu vulkanik ini menjauh dari lokasi bandara yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau," katanya. Sikap ini mencerminkan standar keselamatan yang ketat, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan membahayakan navigasi.
Tujuh bandara yang terdampak meliputi Soekarno-Hatta (Banten), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Radin Inten II (Lampung), Husein Sastranegara (Jawa Barat), serta Budiarto, Pondok Cabe, dan Muhammad Taufiq Kiemas. Hingga Senin sore, tercatat 2.961 penerbangan—terdiri dari 2.339 rute domestik dan 622 internasional—mengalami pembatalan, penundaan, atau pengalihan. Sekitar 341 ribu penumpang ikut merasakan dampaknya.
Meski hasil paper test di sejumlah bandara menunjukkan negatif, pembukaan kembali belum bisa dilakukan. Otoritas masih menunggu rekomendasi Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin yang menjadi rujukan internasional untuk sebaran abu vulkanik. Perpanjangan waktu ini juga dimanfaatkan pengelola bandara untuk memeriksa dan membersihkan landasan pacu, taxiway, dan apron, sementara maskapai menyiapkan pesawat dari kontaminasi abu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat delapan bandara sempat ditutup, termasuk Bandara Atungbusu di Sumatra Selatan. Namun, Dudy menyatakan keputusan akhir tetap mengacu pada data VAAC dan pemantauan cuaca. "Kami memastikan semua berjalan dengan baik dan tidak mengesampingkan aspek keselamatan," tegasnya.
Bagi industri penerbangan nasional, kejadian ini menjadi ujian ketahanan operasional. Maskapai harus merombak jadwal, sementara calon penumpang dihadapkan pada ketidakpastian. Para analis memperkirakan kerugian ekonomi bisa mencapai miliaran rupiah jika penutupan berlanjut, apalagi Bandara Soekarno-Hatta adalah gerbang utama internasional. Pertanyaannya, seberapa cepat normalisasi dapat terjadi dan apakah infrastruktur bandara siap menghadapi bencana serupa di masa depan.
Dengan erupsi yang masih berlangsung, koordinasi antara Kemenhub, BMKG, dan VAAC Darwin menjadi kunci. Publik diharapkan memantau informasi resmi dan menyesuaikan rencana perjalanan. Akankah langkah konservatif ini menjadi preseden baru dalam manajemen risiko vulkanik di Indonesia?



