Gattuso Samakan Hadapi Udinese dengan Cabut Gigi: 'Menyebalkan Tapi Perlu Ketabahan'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Lazio, Gennaro Gattuso, mengibaratkan laga kontra Udinese seperti pergi ke dokter gigi karena gaya bermain lawan yang sulit ditembus.
- Gattuso menegaskan prioritasnya adalah permainan kolektif, bukan sekadar jumlah gol, meski ada penyerang baru Andrea Pinamonti.
- Lazio mengincar kemenangan ketiga beruntun di Serie A untuk mempertahankan start sempurna di bawah arahan Gattuso.

Gennaro Gattuso, pelatih Lazio, melontarkan perumpamaan yang tidak biasa menjelang laga melawan Udinese: menghadapi tim asuhan Kosta Runjaic sama seperti duduk di kursi dokter gigi—prosedurnya tidak menyenangkan, tetapi harus dijalani dengan kesabaran ekstra. Pernyataan itu disampaikan Gattuso dalam wawancara dengan Sky Sport beberapa saat sebelum kick-off, dan dikutip oleh TuttoMercatoWeb.
Bagi Gattuso, tantangan terbesar bukan hanya pada kualitas individu pemain Udinese, melainkan pada cara mereka mengatur ritme pertandingan. "Tim yang dipimpin oleh 'dokter gigi' itu, Runjaic, selalu menyebalkan untuk dilawan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa level Serie A musim ini sangat tinggi, dan ia memberikan apresiasi kepada para wasit yang dinilainya mulai memimpin jalannya laga dengan lebih baik, sebuah sinyal positif bagi perkembangan sepak bola Italia.
Lebih jauh, Gattuso menekankan bahwa kunci menghadapi laga seperti ini adalah keberanian untuk tidak sekadar bereaksi terhadap jalannya pertandingan. "Kita tidak boleh menderita karena kejadian di lapangan; itu harus menjadi kekuatan kami," tegasnya. Meski ia mengakui bahwa wajar jika timnya sedikit tertekan oleh permainan Udinese, ia menuntut para pemainnya untuk tetap berani mengambil inisiatif.
Pertanyaan tentang ekspektasi terhadap Andrea Pinamonti, rekrutan anyar Lazio, juga dijawab dengan tegas oleh Gattuso. Ia menegaskan bahwa gol bukanlah segalanya. "Bagi saya, gol tidak penting; yang terpenting adalah kolektif. Saya tidak akan menukarnya dengan 15 gol," katanya. Ia menilai para pemain yang bergabung dengan Lazio datang bukan untuk dirinya, melainkan untuk ambisi mereka sendiri dan klub. "Kami harus berterima kasih kepada klub, bekerja keras, dan terus berkembang dari satu laga ke laga," tambahnya.
Bagi pengamat sepak bola Italia, pernyataan Gattuso mencerminkan filosofi yang ia bawa sejak menukangi Lazio: mengedepankan identitas tim yang solid dan proaktif. Ini berbeda dengan pendekatan beberapa pelatih lain yang lebih pragmatis. Gattuso tampaknya ingin membangun budaya kerja yang kuat, di mana setiap pemain memahami perannya dalam skema besar, bukan sekadar mengejar statistik pribadi.
Bagi pembaca di Indonesia, gaya kepelatihan Gattuso yang blak-blakan dan fokus pada kolektivitas bisa menjadi pelajaran berharga, terutama bagi klub-klub Liga 1 yang kerap bergantung pada bintang asing. Fenomena "pemain asing sebagai penyelamat" memang jamak terjadi, tetapi pendekatan Gattuso mengingatkan bahwa kesuksesan jangka panjang tetap bertumpu pada kekompakan tim dan budaya kerja yang jelas.
Lazio sendiri tengah menikmati start sempurna di Serie A. Dua kemenangan beruntun membuat mereka percaya diri, tetapi laga melawan Udinese akan menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi mereka. Gattuso sadar bahwa timnya belum mencapai level yang ia inginkan, dan ia terus mendorong para pemainnya untuk tidak cepat puas.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah Lazio mampu mempertahankan ritme permainan dan meraih tiga poin penuh, atau justru tergelincir oleh permainan "menyebalkan" ala Udinese? Gattuso tampaknya sudah menyiapkan jawaban di lapangan, dengan keyakinan bahwa keberanian dan ketabahan akan menjadi penentu.



