Patrick Dorgu, Reinkarnasi Fred di Sayap Kiri Manchester United?
Baca dalam 60 detik
- Penampilan inkonsisten Patrick Dorgu di posisi sayap kiri memicu perbandingan dengan mantan gelandang United, Fred.
- Dibeli seharga £25 juta, pemain asal Denmark itu kesulitan memenuhi ekspektasi di bawah arahan Michael Carrick.
- Kritik tajam dari legenda klub seperti Roy Keane dan Paul Scholes menambah tekanan pada pemain berusia 21 tahun tersebut.

Keputusan Manchester United mengangkat Michael Carrick sebagai manajer permanen musim lalu memang menuai pro-kontra. Namun, di balik perdebatan itu, muncul pola yang mengingatkan pada era Ole Gunnar Solskjaer: kehadiran pemain yang diharapkan menjadi pembeda, tetapi justru kerap tampil inkonsisten. Kini, sorotan mengarah pada Patrick Dorgu, pemain sayap kiri yang mulai disamakan dengan Fred, gelandang Brasil yang pernah menjadi bulan-bulanan kritik di Old Trafford.
Dorgu, yang direkrut dari Lecce dengan nilai transfer sekitar £25 juta, awalnya didatangkan untuk menjadi kompetitor Luke Shaw di posisi bek kiri. Namun, di bawah kepemimpinan Carrick, ia lebih sering dimainkan di posisi lebih maju. Dari 21 penampilannya musim lalu, hanya empat kali ia benar-benar beroperasi sebagai bek kiri. Sisanya, ia ditempatkan sebagai pemain sayap atau bahkan gelandang serang, sebuah eksperimen yang hasilnya masih jauh dari memuaskan.
Perbandingan dengan Fred bukan tanpa alasan. Fred, yang dibeli dengan harga £52 juta pada 2018, selalu bekerja keras tetapi sering melakukan kesalahan mendasar. Kritik pedas dari Paul Scholes dan Roy Keane—yang menyebutnya "kurang fight" dan "ceroboh serta malas"—menjadi gambaran bagaimana performanya dinilai. Dorgu, dengan gaya bermain yang mirip, mulai menuai kritik serupa. Dalam laga melawan Everton akhir pekan lalu, ia masuk menggantikan Marcus Rashford pada 20 menit terakhir, tetapi gagal memberikan dampak positif. Ia bahkan tidak menciptakan satu peluang pun dan akurasi umpan hanya 63 persen.
Padahal, Dorgu sempat menunjukkan kilatan kelas dunia. Gol kerasnya ke gawang Arsenal di Emirates Stadium dan kontribusinya saat melawan Manchester City di derby menjadi bukti bahwa ia punya naluri menyerang yang tajam. Namun, setelah dua laga awal yang impresif di bawah Carrick, performanya justru menurun drastis. Cedera hamstring yang memaksanya absen sepuluh pertandingan seolah menghentikan momentum yang sudah terbangun. Meski sempat mencetak gol dan assist saat melawan Brighton di akhir musim, konsistensi tetap menjadi masalah utama.
Fenomena ini mengingatkan pada siklus yang sering terjadi di klub besar: pemain dengan harga mahal dan ekspektasi tinggi, tetapi gagal memenuhi standar. Bagi Manchester United, kegagalan Dorgu menjadi pemain sayap kiri andalan bukan hanya soal teknis, tetapi juga taktis. Carrick tampaknya masih mencari formula terbaik untuk memaksimalkan potensi pemain Denmark itu. Apakah ia akan tetap bertahan di posisi sayap atau kembali ke peran aslinya sebagai bek kiri? Atau justru dipinjamkan untuk mencari jam terbang?
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Dorgu bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam mengembangkan pemain muda. Di Liga 1, banyak klub kerap terburu-buru menilai pemain asing atau muda hanya dari beberapa pertandingan. Padahal, adaptasi taktis dan mental adalah kunci. Jika Manchester United—dengan segala sumber dayanya—masih kesulitan mengoptimalkan Dorgu, bagaimana dengan klub-klub di Indonesia yang fasilitasnya jauh lebih terbatas?
Pertanyaan besarnya kini: apakah Carrick akan terus memaksakan Dorgu di posisi sayap, atau justru mengembalikannya ke posisi asli sebagai bek kiri? Atau mungkin, seperti Fred yang akhirnya dijual ke Fenerbahce, Dorgu juga akan menjadi korban dari ekspektasi yang terlalu tinggi? Yang jelas, masa depan pemain berusia 21 tahun ini akan menjadi ujian bagi manajemen MU dalam membaca potensi pemain muda.



