Krisis Mathys Tel di Tottenham: De Zerbi Siap Beri Debut Penuh untuk Luca Williams-Barnett, Remaja 17 Tahun yang Disebut Pewaris Dele Alli
Baca dalam 60 detik
- Penampilan apik Luca Williams-Barnett sepanjang pramusim menjadi sinyal kuat bagi Roberto De Zerbi untuk menepikan Mathys Tel yang kembali gagal tampil konsisten di awal musim.
- Remaja 17 tahun itu mencatatkan 16 gol dan 8 assist musim lalu, serta disebut memiliki kemiripan gaya dengan Dele Alli oleh jurnalis GOAL, Sean Walsh.
- Jika Williams-Barnett terus menunjukkan performa impresif, bukan tidak mungkin ia akan menggeser posisi Tel yang dibeli Tottenham dengan mahal, sekaligus menjadi solusi jangka panjang lini serang Spurs.

Tottenham Hotspur kembali memulai musim dengan tertatih-tatih. Setelah dua musim beruntun finis di peringkat ke-17 Premier League, klub asal London Utara itu lagi-lagi menempati posisi yang sama pada awal 2026/27. Padahal, belanja besar-besaran senilai sekitar Rp6 triliun telah digelontorkan pada bursa transfer musim panas lalu. Sorotan pun tertuju pada Roberto De Zerbi, pelatih anyar yang diharapkan mampu membawa Spurs keluar dari keterpurukan. Namun, hasil awal belum sesuai ekspektasi, dan salah satu pemain yang paling merasakan tekanan adalah Mathys Tel.
Tel, penyerang asal Prancis berusia 21 tahun, hanya mencetak empat gol musim lalu. Ia diharapkan bangkit musim ini, dan pramusim memberinya secercah harapan. Tendangan bebasnya yang indah ke gawang Sydney FC serta tiga assist yang ia catat sepanjang pramusim sempat membuat para pendukung Spurs bermimpi melihat versi terbaik dari pemain yang pernah digadang-gadang sebagai salah satu talenta muda paling bersinar di Eropa. Namun, begitu musim kompetisi resmi dimulai, Tel kembali ke performa lamanya yang inkonsisten. Ia belum mencatatkan satu pun kontribusi gol, dan dua pertandingan terakhirnya—saat ditarik keluar pada menit ke-68 melawan Newcastle United dan menit ke-74 melawan Nottingham Forest—menjadi gambaran nyata kekecewaan tersebut.
Statistik Tel melawan Forest bahkan lebih memprihatinkan. Meski mencatatkan sentuhan terbanyak di kotak penalti lawan (10 kali), ia gagal melepaskan satu pun tembakan, hanya menyelesaikan 43 persen dribelnya, dan hanya menciptakan satu peluang. Ia juga kalah dalam sembilan dari 13 duel yang ia jalani. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Tel, yang sebenarnya memiliki kemampuan satu lawan satu yang mematikan, gagal memberikan kontribusi menyeluruh bagi tim yang sedang berjuang untuk bangkit.
Manajemen Tottenham sebenarnya sudah menyadari kelemahan ini. Mereka sempat mengincar Cody Gakpo dari Liverpool dan bahkan telah mencapai kesepakatan pribadi, namun pemain Belanda itu memilih bertahan di Anfield. Iliman Ndiaye pun nyaris bergabung dengan nilai transfer 60 juta poundsterling, sebelum Manchester City membajaknya di menit-menit akhir bursa transfer. Alhasil, Spurs harus puas mendatangkan Mykhailo Mudryk, pemain yang belum tampil dalam pertandingan kompetitif selama lebih dari 20 bulan akibat larangan bermain karena kasus doping meldonium. Wajar jika De Zerbi tidak bisa langsung berharap banyak dari Mudryk.
Di tengah kebuntuan ini, De Zerbi sebenarnya punya opsi lain yang lebih segar: Luca Williams-Barnett. Remaja berusia 17 tahun ini menjadi bintang pramusim bersama Tel. Ia tampil memukau dengan kemampuan dribelnya yang lincah, dipadukan dengan flair, ketenangan, dan kontribusi gol yang konsisten. Jurnalis GOAL, Sean Walsh, bahkan menyebut Williams-Barnett memiliki "nuansa Dele Alli"—sebuah perbandingan yang sangat menarik mengingat Alli adalah salah satu produk akademi Spurs yang paling sukses. Musim lalu, Williams-Barnett mencetak 16 gol dan 8 assist dalam 20 pertandingan bersama tim muda, menjadikannya salah satu prospek paling menjanjikan di Inggris saat ini.
Penampilan Williams-Barnett di pramusim menjadi bukti nyata. Ia mencetak gol saat Spurs mengalahkan Hoffenheim, dan tampil impresif melawan MK Dons dan Auckland FC. Dalam laga melawan MK Dons, ia masuk pada babak kedua dan langsung menciptakan tiga peluang serta dua dribel sukses—keduanya terbanyak dalam pertandingan tersebut. Ia juga menunjukkan keberanian luar biasa dengan mengeksekusi penalti ala panenka dalam adu penalti melawan Sydney FC. Kepercayaan diri yang dimiliki remaja ini memang luar biasa, sesuatu yang justru mulai luntur dari diri Tel.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Tottenham adalah klub yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia, dan persaingan ketat di lini serang Spurs akan memengaruhi daya tarik klub di mata penggemar Tanah Air. Jika Williams-Barnett berhasil menembus tim utama, ia bisa menjadi magnet baru bagi penggemar muda Indonesia yang haus akan talenta-talenta segar Eropa. Selain itu, kisah Williams-Barnett juga menjadi inspirasi bagi akademi-akademi sepak bola di Indonesia bahwa usia muda bukanlah halangan untuk bersinar di panggung sebesar Premier League.
Dengan segala pertimbangan, De Zerbi tampaknya harus segera mengambil keputusan. Apakah ia akan terus bersabar dengan performa Tel yang inkonsisten, atau berani memberikan kepercayaan penuh kepada Williams-Barnett yang sudah membuktikan kualitasnya? Jika melihat tren yang ada, bukan tidak mungkin remaja 17 tahun itu akan segera menggeser posisi Tel di sayap kiri. Bersama Mudryk yang perlahan kembali pulih, Williams-Barnett bisa menjadi kombinasi mematikan yang membuat Tel semakin tersingkir. Pertanyaannya, mampukah De Zerbi mengelola ekspektasi dan tekanan untuk memberikan kesempatan emas bagi talenta mudanya?



