Reaktor Nuklir Rahasia Era Assad Hampir Rampung: Temuan IAEA dan Implikasinya bagi Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- IAEA mengonfirmasi keberadaan reaktor nuklir tak terdeklarasi di Suriah yang konstruksinya nyaris selesai, lengkap dengan fasilitas pengayaan dan penyimpanan uranium.
- Temuan ini menguak jejak program nuklir rahasia era Assad yang berpotensi memicu perlombaan senjata di kawasan, serta memunculkan pertanyaan tentang keterlibatan Korea Utara.
- Keputusan Dewan Gubernur IAEA untuk menutup atau melanjutkan penyelidikan kasus Suriah akan menjadi ujian kredibilitas rezim non-proliferasi global.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengungkap temuan mengejutkan: sebuah reaktor nuklir yang dibangun secara rahasia oleh rezim Bashar al-Assad di Suriah nyaris mencapai tahap penyelesaian sebelum pemerintahannya runtuh. Dalam laporan yang dirilis Senin (7/9), inspektur IAEA menyatakan bahwa reaktor di Deir Ezzor itu telah mencapai tahap konstruksi yang sangat maju, lengkap dengan pabrik fabrikasi bahan bakar dan lokasi penyimpanan uranium, menandakan ambisi nuklir yang jauh melampaui dugaan sebelumnya.
Temuan ini muncul setelah inspektur IAEA mengunjungi dua situs pada bulan lalu, termasuk satu lokasi yang sebelumnya tidak diungkap dan baru dilaporkan oleh otoritas Suriah yang baru. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menegaskan bahwa aktivitas tersebut jelas-jelas bersifat klandestin. "Mereka tidak ingin dunia mengetahui apa yang mereka lakukan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa konfigurasi reaktor tersebut sangat efisien untuk memproduksi bahan fisil yang dapat langsung digunakan untuk senjata nuklir.
Reaktor yang kini tengah digali tersebut "hampir selesai" menurut Grossi, dan kemungkinan besar otoritas Suriah lama telah melakukan ledakan untuk menghancurkan bukti sebelum jatuhnya rezim. Selain reaktor, IAEA juga menemukan sekitar 73 ton uranium alam dalam bentuk logam, serta fasilitas penyimpanan limbah nuklir. Temuan ini mengkonfirmasi kecurigaan lama yang pertama kali diungkapkan IAEA pada 2011, bahwa situs tersebut sangat mungkin merupakan reaktor nuklir yang dibangun dengan bantuan Korea Utara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki resonansi ganda. Pertama, sebagai negara yang konsisten memperjuangkan kawasan bebas senjata nuklir di Asia Tenggara dan Timur Tengah, Indonesia perlu mencermati bagaimana IAEA menangani kasus ini. Kedua, temuan ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap transfer teknologi nuklir, mengingat Indonesia sendiri tengah mengembangkan program nuklir sipil untuk energi. Keberadaan reaktor rahasia di Suriah menunjukkan bahwa celah dalam rezim non-proliferasi masih ada, dan negara-negara seperti Indonesia harus waspada terhadap potensi penyalahgunaan teknologi serupa.
Grossi memuji keputusan Damaskus untuk melaporkan situs yang tidak diungkap tersebut sebagai langkah "berani", namun ia menyerahkan keputusan lanjutan kepada Dewan Gubernur IAEA. Sebuah draf resolusi yang beredar mengusulkan penutupan berkas nuklir Suriah, yang dapat mengakhiri penyelidikan atas dugaan keterlibatan Korea Utara. Jika resolusi ini disahkan, maka akan menjadi preseden yang berbahaya, karena negara-negara yang melanggar perjanjian non-proliferasi dapat lolos tanpa konsekuensi yang berarti.
Ke depan, pertanyaan krusial yang menggantung adalah: apakah komunitas internasional akan membiarkan kasus ini ditutup begitu saja, atau justru mendorong penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan proliferasi yang lebih luas? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib program nuklir Suriah, tetapi juga menguji efektivitas arsitektur non-proliferasi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Bagi Indonesia, sikap yang diambil dalam forum IAEA akan menjadi cermin komitmennya terhadap perdamaian dan keamanan internasional.



