Gunung Anak Krakatau Melandai tapi Belum Aman: 9 Gempa Vulkanik Terekam dalam 2 Jam
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menunjukkan penurunan, namun sembilan gempa vulkanik dalam masih terekam dalam rentang dua jam siang tadi.
- Para ahli menilai penurunan ini belum menandakan kondisi aman karena suplai magma dari dapur magma masih berlangsung.
- Masyarakat diimbau tetap waspada dan mematuhi radius aman 3 kilometer dari kawah, serta menggunakan masker untuk menghindari dampak abu vulkanik.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan denyut aktivitas vulkanik yang tak bisa diabaikan. Meski erupsi cenderung melandai, tim pemantau mencatat sembilan kali gempa vulkanik dalam hanya dalam dua jam pengamatan siang ini, Senin (7/9/2026).
Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Anak Krakatau, M Nugraha Kartadinata, mengungkapkan data terbaru dari Pos Pengamatan Gunung Api di Cinangka, Serang, Banten. Rentang waktu pukul 12.00 hingga 14.42 WIB, tercatat tujuh kali vulkanik dangkal, sembilan kali vulkanik dalam, dan tujuh kali gempa hybrid. Kombinasi ini menjadi sinyal bahwa dapur magma di bawah gunung masih aktif memasok material ke permukaan, meski intensitasnya tak sebesar dua hari sebelumnya.
"Artinya bahwa suplai ke arah dapur magma masih terjadi dan kemudian dilepaskan ke atas, tetapi tidak seintensif dua hari yang lalu," jelas Nugraha. Pernyataan ini menegaskan bahwa penurunan aktivitas bukan berarti ancaman telah berakhir. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah, sebab gempa vulkanik dalam yang masih terekam mengindikasikan adanya pergerakan magma dari kedalaman.
Erupsi terakhir tercatat pada Minggu (6/9) pukul 20.23 WIB, dengan skala yang jauh lebih kecil dibanding letusan sebelumnya. Jika erupsi awal memuntahkan lava pijar secara menerusโfenomena yang dikenal sebagai lava fountainโkini aktivitasnya berupa erupsi menerus dengan skala kecil. Perbedaan ini menunjukkan dinamika gunung yang masih fluktuatif.
Nugraha juga menjelaskan sebaran abu vulkanik yang tidak merata di wilayah sekitar. Fenomena ini disebabkan oleh perbedaan arah dan kecepatan angin pada tiap ketinggian atmosfer. "Kalau di atmosfer namanya arah dan kecepatan angin berbeda tiap ketinggian, makanya tidak merata," ujarnya. Imbasnya, sebagian daerah mungkin mengalami hujan abu tipis, sementara lainnya bersih dari abu.
Bagi warga di pesisir Banten dan Lampung, kondisi ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan. Sejarah mencatat letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 yang memicu tsunami dahsyat. Meski Anak Krakatau yang muncul dari kaldera tua itu tidak sebesar induknya, potensi bahaya tetap nyata, terutama bagi nelayan dan wisatawan yang kerap beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda.
Nugraha mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun waspada. Ia meminta warga memantau perkembangan melalui kanal resmi dan tidak mendekati area dalam radius 3 kilometer. "Harap memakai masker karena abu vulkanik halus sekali kadang-kadang terlihat seperti pecahan kaca itu sangat tajam," pungkasnya.
Pertanyaannya kini, apakah penurunan aktivitas ini akan berlanjut menuju kondisi normal, atau justru menjadi jeda sebelum letusan yang lebih besar? Para ahli akan terus memantau, namun kewaspadaan publik adalah kunci. Dengan koordinasi antara PVMBG, BPBD, dan masyarakat, risiko bencana dapat ditekan seminimal mungkin.



