Teguran Hukum Singapura: Pengemudi Mabuk yang Menewaskan Pejalan Kaki Tetap Dihukum 11 Tahun Penjara
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Tinggi Singapura menolak banding jaksa dan terdakwa, mempertahankan hukuman 11 tahun penjara bagi pengemudi mabuk yang menabrak hingga tewas.
- Insiden tragis ini menyoroti ketegasan hukum lalu lintas Singapura, dengan hukuman yang dianggap salah satu terberat untuk kasus serupa.
- Kasus ini menjadi pengingat akan konsekuensi fatal dari mengemudi dalam pengaruh alkohol, sekaligus memicu diskusi tentang perbandingan penegakan hukum di kawasan Asia Tenggara.

Pengadilan Tinggi Singapura pada Senin (7/9) memutuskan untuk mempertahankan hukuman 11 tahun penjara bagi seorang pria Australia berusia 46 tahun yang mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak seorang pensiunan hingga tewas secara mengenaskan. Putusan ini sekaligus menolak banding dari jaksa yang menginginkan hukuman lebih berat, maupun dari pihak terdakwa yang meminta keringanan hukuman.
Peristiwa nahas itu terjadi pada 23 April 2023, ketika terdakwa, yang merupakan penduduk tetap Singapura, tengah dalam perjalanan pulang dari pesta ulang tahun anaknya. Ia mengemudikan mobil BMW M3 Coupe dengan kecepatan antara 111 hingga 122 km/jam di jalan dengan batas kecepatan 70 km/jam. Dalam kondisi mabuk akibat minum anggur, ia gagal menyadari keberadaan seorang pensiunan berusia 64 tahun yang sedang menyeberang di Dunearn Road menuju Bukit Timah Canal. Benturan keras tersebut tidak hanya merenggut nyawa korban, tetapi juga menyebabkan tubuh korban terpotong menjadi tiga bagian, dengan kepala dan badan menembus kaca depan mobil dan jatuh ke pangkuan pengemudi. Dua anak terdakwa yang saat itu berada di kursi belakang juga mengalami luka-luka.
Hakim Christopher Tan yang memimpin persidangan menilai bahwa kedua banding memiliki dasar, namun tidak cukup kuat untuk mengubah putusan pengadilan tingkat pertama. Ia setuju dengan argumen jaksa bahwa pengurangan hukuman sebesar 30 persen yang diberikan oleh hakim sebelumnya karena pengakuan bersalah terdakwa seharusnya hanya 20 persen. Meski demikian, Hakim Tan menegaskan bahwa keputusan hakim pengadilan bawah secara keseluruhan sudah solid dan beralasan. Terdakwa, yang dijatuhi hukuman pada Februari lalu, juga dikenakan denda S$12.000 (sekitar Rp140 juta) dan larangan mengemudi selama 15 tahun. Hukuman ini diyakini sebagai salah satu yang terberat untuk kasus semacam ini di Singapura.
Kasus ini menarik perhatian publik karena melibatkan pengemudi yang tergolong sebagai pelanggar berulang. Terdakwa mengaku bersalah atas tuduhan mengemudi berbahaya yang menyebabkan kematian sebagai pelanggar berulang yang serius, serta tuduhan mengemudi dalam keadaan mabuk untuk kedua kalinya. Ada pula tuduhan ketiga terkait mengemudi berbahaya yang melibatkan anak-anaknya, yang dipertimbangkan dalam vonis. Identitas terdakwa sengaja tidak diungkap untuk melindungi anak-anaknya yang masih kecil, yang dilindungi oleh perintah pengadilan.
Di Indonesia, kasus seperti ini seringkali menjadi sorotan karena tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi dalam pengaruh alkohol. Meskipun regulasi di Indonesia telah mengatur batas maksimum alkohol dalam darah, penegakan hukumnya masih lemah dan hukuman bagi pelanggar seringkali tidak memberikan efek jera. Putusan Singapura ini dapat menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya penegakan hukum yang tegas dan konsisten untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. Dengan hukuman berat yang dijatuhkan, Singapura menunjukkan bahwa keselamatan publik adalah prioritas utama, sebuah pendekatan yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh negara-negara tetangga.
Ke depannya, kasus ini memunculkan pertanyaan tentang apakah hukuman yang dijatuhkan sudah cukup adil, baik bagi korban maupun bagi terdakwa yang harus menjalani hukuman panjang. Di sisi lain, putusan ini juga menegaskan bahwa sistem peradilan Singapura tidak ragu untuk memberikan hukuman berat bagi pelanggar lalu lintas yang menyebabkan kematian. Apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa untuk memperketat hukuman bagi pengemudi mabuk? Hanya waktu yang akan menjawab.



