Hayama Kembali Jadi Kota Paling Layak Huni di Tokyo Raya: Tren Baru Masyarakat Jepang Meninggalkan Kenyamanan Stasiun
Baca dalam 60 detik
- Untuk keenam kalinya berturut-turut, Hayama di Kanagawa dinobatkan sebagai wilayah paling diinginkan untuk ditinggali di kawasan metropolitan Tokyo.
- Kota-kota pesisir Shonan seperti Kamakura dan Zushi menguasai posisi teratas, menandakan pergeseran preferensi dari akses transportasi menuju kualitas hidup dan alam.
- Fenomena ini mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat Jepang yang mulai mengedepankan kesejahteraan dibanding kemudahan akses, sebuah pelajaran bagi pengembangan kota di Indonesia.

Untuk keenam kalinya secara beruntun, Hayama, sebuah kota kecil di Prefektur Kanagawa, Jepang, dinobatkan sebagai wilayah paling diinginkan untuk terus ditinggali di kawasan metropolitan Tokyo. Hasil survei yang dirilis oleh perusahaan properti besar Daito Trust Construction pada 2026 ini menegaskan bahwa daya tarik sebuah tempat tinggal tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kedekatan dengan stasiun kereta atau kemudahan transportasi, melainkan oleh kualitas lingkungan dan ketenangan hidup.
Dalam survei bertajuk "Places residents most want to keep living in" tersebut, kota pesisir Kamakura dan Zushi masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga, mempertahankan pencapaian mereka dari tahun sebelumnya. Ketiga wilayah yang berada di kawasan Shonan ini berhasil menggeser paradigma lama tentang hunian ideal yang selalu dikaitkan dengan aksesibilitas. Menariknya, Hayama bahkan tidak memiliki jaringan kereta api di dalam wilayahnya, sebuah fakta yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghuninya.
Para responden yang tinggal di Hayama mengungkapkan bahwa stasiun terdekat memang jauh, namun di luar musim turis, suasana kota sangat tenang dan memungkinkan gaya hidup yang santai. Pemandangan alam yang indah serta keramahan warga setempat juga menjadi alasan utama mereka betah. Survei ini melibatkan 250.879 responden berusia 20 tahun ke atas yang tersebar di Tokyo, Kanagawa, Chiba, dan Saitama, dengan pengumpulan data dilakukan sejak 2022 hingga 2026. Setiap responden diminta menilai keinginan mereka untuk tetap tinggal di lokasi saat ini menggunakan skala 0 hingga 100.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama di tengah tren global yang semakin mengedepankan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Takeshi So, profesor perencanaan kota dari Universitas Reitaku yang menganalisis survei tersebut, menilai bahwa orang-orang dengan kemampuan ekonomi mapan dan kesadaran akan kesejahteraan cenderung aktif memilih pindah ke komunitas seperti Hayama, Zushi, dan Kamakura. Kehadiran mereka inilah yang kemudian turut meningkatkan popularitas kawasan tersebut.
Seorang pejabat Hayama menambahkan bahwa kota ini baru saja merayakan seratus tahun berdirinya pada 1 Januari 2025. Dikelilingi oleh laut dan pegunungan, Hayama memiliki lingkungan alam yang luar biasa, yang berimbas pada tingginya kesadaran warga terhadap isu-isu lingkungan. Hal ini sejalan dengan data yang menunjukkan bahwa lima dari sepuluh besar wilayah paling diminati berada di Prefektur Kanagawa, termasuk Kaisei di posisi kelima dan Chigasaki di posisi ketujuh.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan pelajaran berharga. Selama ini, pengembangan kota di Indonesia, terutama di sekitar Jakarta, masih sangat terpusat pada kemudahan akses transportasi dan pembangunan infrastruktur. Padahal, seperti ditunjukkan oleh Hayama, kualitas lingkungan dan ketenangan hidup justru menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat kelas menengah atas yang mulai jenuh dengan kepadatan dan kebisingan kota besar. Kawasan seperti Puncak, Bogor, atau kawasan pesisir selatan Jawa memiliki potensi serupa jika dikelola dengan baik, meski tantangan seperti kesenjangan infrastruktur dan tata ruang masih menjadi pekerjaan rumah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan mendorong pergeseran kebijakan tata kota di Jepang, misalnya dengan mulai mempertimbangkan aspek kesejahteraan subjektif dalam perencanaan wilayah. Sementara itu, bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi momentum untuk mulai memikirkan ulang konsep hunian ideal yang tidak hanya berorientasi pada akses, tetapi juga pada kualitas hidup secara menyeluruh.



