Kecelakaan Pesawat Kargo Amazon di Miami: Lima Tewas, Operasional Bandara Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Sebuah pesawat kargo bermerek Amazon keluar dari landasan pacu di Miami International Airport, menewaskan lima orang dan melukai belasan lainnya.
- Insiden yang melibatkan Boeing 767 berusia 32 tahun itu memicu penundaan sekitar 250 penerbangan dan penyelidikan oleh otoritas keselamatan AS.
- Kecelakaan ini menyoroti risiko operasi kargo udara yang padat, sekaligus menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus memperketat standar keselamatan penerbangan.

Lima orang tewas setelah sebuah pesawat kargo yang dioperasikan untuk Amazon keluar dari landasan pacu di Bandara Internasional Miami, Minggu (6/9) waktu setempat. Pesawat menabrak sejumlah kendaraan dan terbakar, memicu kekacauan di salah satu bandara tersibuk di Amerika Serikat itu.
Menurut keterangan resmi otoritas Miami-Dade, pesawat yang baru tiba dari San Juan, Puerto Riko, itu melampaui batas landasan sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Selain korban tewas, tiga orang dilaporkan kritis dan dua lainnya dirawat dengan luka ringan. Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih menyelidiki apakah para korban tewas berada di dalam pesawat atau di dalam kendaraan yang tertabrak.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Miami-Dade, Ray Jadallah, mengatakan kecelakaan itu menjebak pilot dan kopilot di kokpit, sementara sejumlah orang terjebak di dalam mobil. Satu orang lainnya tertimpa kendaraan. Asap hitam tebal membumbung tinggi ke langit, dan petugas masih berupaya menangani kebocoran bahan bakar beberapa jam setelah kejadian.
Pesawat yang mengangkut barang-barang Amazon ini dioperasikan oleh 21 Air, maskapai kargo yang berbasis di North Carolina. Menurut data Flightradar24, Boeing 767 yang berusia 32 tahun itu awalnya dirancang untuk mengangkut penumpang dan telah digunakan oleh sejumlah maskapai selama lebih dari dua dekade sebelum dikonversi menjadi pesawat kargo pada 2015. Insiden ini memicu penundaan sekitar 250 penerbangan di bandara tersebut pada Minggu sore, sebagaimana dilaporkan FlightAware.
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat telah mengirim tim investigasi yang dipimpin langsung oleh Ketua Jennifer Homendy. Sementara itu, Amazon dalam pernyataan resminya menyatakan "sangat berduka" atas insiden ini dan berjanji bekerja sama penuh dengan proses penyidikan.
Kecelakaan ini kembali menyoroti risiko yang melekat pada industri kargo udara yang terus tumbuh pesat, terutama didorong oleh lonjakan belanja online. Pesawat kargo kerap beroperasi dengan jadwal padat dan dalam kondisi cuaca yang menantang, sehingga keselamatan menjadi isu krusial. Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap maskapai kargo, mengingat lalu lintas udara domestik yang padat dan pertumbuhan e-commerce yang signifikan.
Jackson Lee, pemilik toko elektronik di dekat lokasi kecelakaan, menuturkan bahwa ia dan rekan-rekannya melihat asap mengepul dari balik pagar bandara. "Kami mendengar pesawat lepas landas dan mendarat setiap lima menit. Saya pikir saya sudah terbiasa," ujarnya. "Saya tidak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan kami." Kesaksian ini menggambarkan betapa dekatnya kecelakaan dengan pemukiman warga, sebuah fenomena yang juga relevan di Indonesia, di mana beberapa bandara berada di tengah permukiman padat.
Investigasi NTSB diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaan besar yang menggantung: apakah faktor kelelahan kru, masalah mekanis, atau kondisi cuaca menjadi pemicu? Sementara itu, bandara Miami berangsur pulih, tetapi duka mendalam masih menyelimuti keluarga korban. Insiden ini menegaskan bahwa meskipun teknologi penerbangan semakin maju, faktor manusia dan infrastruktur tetap menjadi penentu utama keselamatan. Akankah industri penerbangan global, termasuk Indonesia, menjadikan tragedi ini sebagai momentum untuk mengevaluasi ulang prosedur keselamatan kargo?



