Bandara Soekarno-Hatta Kembali Beroperasi: Dampak Abu Vulkanik Mereda, Penerbangan Mulai Normal
Baca dalam 60 detik
- Erupsi Gunung Anak Krakatau sempat melumpuhkan tiga bandara utama, namun operasional telah pulih sejak Selasa dini hari.
- Pembukaan bandara diputuskan setelah evaluasi arah angin dan hasil paper test, meski sempat ada perpanjangan penutupan.
- Para calon penumpang tetap diminta memantau jadwal secara berkala karena potensi perubahan cuaca masih mengancam.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kembali melayani penerbangan mulai Selasa (8/9) dini hari setelah sempat ditutup akibat terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Keputusan ini diumumkan melalui kanal resmi InJourney, operator bandara, yang menyatakan bahwa operasional telah berjalan normal kembali. Langkah ini membawa kelegaan bagi ribuan calon penumpang yang sempat tertahan sejak Minggu (6/9) ketika status siaga dinaikkan.
Penutupan sementara yang berlangsung lebih dari 24 jam itu bukan tanpa alasan. Kementerian Perhubungan menilai sebaran abu vulkanik masih membahayakan keselamatan penerbangan, terutama setelah hasil paper test di sejumlah bandara menunjukkan adanya partikel abu di udara. Namun, berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, arah angin mulai bergeser ke barat daya dengan kecepatan sekitar 10 knot, menjauh dari koridor penerbangan menuju Soetta. Kondisi inilah yang menjadi dasar pertimbangan untuk membuka kembali bandara.
Selain Soetta, dua bandara lain yang sempat lumpuh juga telah beroperasi kembali, yakni Halim Perdanakusuma di Jakarta dan Husein Sastranegara di Bandung. Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I mengonfirmasi bahwa ketiga bandara tersebut sudah dapat melayani aktivitas penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku. Meski demikian, otoritas masih memberlakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan abu vulkanik, mengingat Gunung Anak Krakatau masih berstatus waspada.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang memiliki rencana perjalanan udara dalam waktu dekat, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur transportasi terhadap bencana geologi. Letusan Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda memang bukan fenomena baru, tetapi dampaknya terhadap penerbangan kerap kali melumpuhkan konektivitas antarwilayah. Para pengamat penerbangan menilai bahwa koordinasi antara BMKG, maskapai, dan otoritas bandara menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian ekonomi dan sosial.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menjelaskan bahwa perpanjangan penutupan hingga batas waktu tertentu merupakan langkah antisipatif. Meski hasil paper test menunjukkan hasil negatif, pertimbangan keselamatan tetap diutamakan. "Apabila arah angin bergeser lebih menjauhi bandara, kita bisa mempertimbangkan untuk membuka kembali," ujarnya saat meninjau langsung kondisi di Terminal 1 Soetta. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keputusan pembukaan bandara tidak diambil secara terburu-buru, melainkan melalui evaluasi menyeluruh.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa siap Indonesia menghadapi gangguan serupa yang mungkin terjadi lagi mengingat aktivitas vulkanik yang dinamis. Apakah sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi bandara sudah cukup adaptif? Pengalaman kali ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan ketahanan sektor penerbangan nasional.



