Prabowo Perintahkan Perbanyak Drone dan Kapal Induk untuk Perangi Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah akan menambah armada drone penebar air dan pesawat modifikasi cuaca untuk pencegahan karhutla.
- Kapal induk pertama Indonesia akan difungsikan ganda, termasuk mengangkut helikopter pemadam dengan kapasitas 4-5 ton air.
- Instruksi ini menandai pergeseran strategi dari responsif ke antisipatif dengan penempatan alat di desa rawan.

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pengadaan besar-besaran pesawat nirawak (drone) penebar air dan peralatan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bagian dari langkah antisipatif pemerintah menghadapi musim kemarau. Dalam Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam yang dipantau dari Jakarta, Senin, kepala negara menegaskan bahwa respons tahun ini dinilai masif namun masih terdapat catatan keterlambatan di sejumlah titik.
Instruksi tersebut ditujukan kepada Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi untuk diteruskan ke Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas. Prabowo meminta penambahan helikopter, pompa air, ekskavator, hingga drone berkapasitas besar yang dapat ditempatkan di garis depan penanganan karhutla. Yang menarik, alat-alat berukuran kecil direncanakan didistribusikan hingga tingkat desa, khususnya di wilayah dengan riwayat kebakaran berulang.
Langkah ini menandai perubahan paradigma dari penanganan reaktif menjadi pencegahan dini. "Kita persiapan mengatasi dan mitigasi itu jangan menunggu kejadian, jauh sebelumnya kita siapkan," ujar Prabowo dalam rapat tersebut. Prinsip yang ditekankan adalah "lebih baik lebih daripada kurang" dalam perencanaan pengadaan alutsista.
Kepala negara juga menyoroti potensi kapal induk pertama Indonesia yang sebentar lagi akan dimiliki. Kapal tersebut direncanakan tidak hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk penanggulangan bencana, mampu membawa sepuluh helikopter ukuran menengah yang masing-masing dapat mengangkut 4-5 ton air untuk pemadaman dari udara.
Selain itu, Prabowo meminta alokasi lebih banyak pesawat untuk modifikasi cuaca dan mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji zat yang paling efisien guna mempercepat hujan buatan. Ini menunjukkan perhatian serius pada teknologi sebagai ujung tombak mitigasi.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi luas. Di satu sisi, pengadaan teknologi canggih seperti drone dan kapal induk menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi lingkungan dan masyarakat dari dampak asap. Namun, di sisi lain, hal ini menuntut kesiapan anggaran dan sumber daya manusia yang mumpuni. Pertanyaannya, apakah alokasi dana untuk sektor ini akan memadai di tengah berbagai prioritas pembangunan lainnya?
Ke depan, efektivitas strategi ini akan teruji pada musim kemarau berikutnya. Apakah dengan peralatan yang lebih modern dan penempatan yang lebih dekat ke lokasi rawan, Indonesia mampu menekan luas kebakaran secara signifikan? Publik tentu berharap agar langkah antisipatif ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dieksekusi tepat waktu.



