Erupsi Anak Krakatau Meluas, Empat Bandara Alternatif Disiagakan 24 Jam
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mengaktifkan Kertajati, Juanda, YIA, dan Adi Soemarmo sebagai jalur penerbangan pengganti selama Soekarno-Hatta ditutup.
- Perubahan arah angin ke timur mendorong perpanjangan penutupan hingga tengah malam, dengan pemantauan ketat setiap 30 menit.
- Penumpang yang terdampak akan difasilitasi transportasi darat, termasuk kereta, menuju bandara alternatif.

Menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali memuntahkan abu vulkanik, Kementerian Perhubungan mengambil langkah darurat dengan membuka empat bandara alternatif sebagai penampung lalu lintas penerbangan yang seharusnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Langkah ini diambil setelah otoritas memutuskan memperpanjang penghentian operasional bandara tersibuk di Indonesia itu hingga tengah malam nanti.
Menteri Perhubungan Dudi Purwagandhi, saat meninjau kondisi di Soekarno-Hatta, Minggu (6/9/2026), menyatakan bahwa Bandara Kertajati di Jawa Barat, Juanda di Surabaya, Yogyakarta International Airport, serta Adi Soemarmo di Solo akan beroperasi penuh selama 24 jam. Maskapai dipersilakan mengalihkan rute penerbangan ke bandara-bandara tersebut untuk lepas landas maupun mendarat. "Silakan digunakan," ujarnya, menegaskan kesiapan infrastruktur.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi perubahan arah angin yang sebelumnya bertiup ke barat kini bergerak ke timur dengan kecepatan lima knot di ketinggian 15.000 kaki. Kondisi ini dinilai berpotensi memperluas sebaran abu vulkanik, mengancam keselamatan penerbangan, dan memaksa pemerintah memperpanjang penutupan delapan bandara yang berada di jalur sebaran abu.
"Kami khawatir penyebaran akan semakin melebar," kata Dudi, menjelaskan pertimbangan di balik perpanjangan status darurat hingga pukul 24.00 WIB. Meski demikian, pemerintah tidak tinggal diam. Evaluasi dilakukan secara berkala setiap 30 menit menggunakan metode paper test di sejumlah bandara untuk memantau perkembangan konsentrasi abu di udara.
Di tengah kekhawatiran akan kekacauan perjalanan udara, pemerintah juga menyiapkan jaring pengaman bagi penumpang yang terdampak. Mereka yang memilih melanjutkan perjalanan melalui bandara alternatif seperti Juanda, YIA, atau Adi Soemarmo akan mendapatkan fasilitas transportasi darat, termasuk kereta api. "Transportasi daratnya akan kita tanggung," tegas Dudi, memastikan tidak ada penumpang yang terlantar.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi ujian nyata ketangguhan infrastruktur transportasi udara dalam menghadapi bencana alam. Penutupan Soekarno-Hatta, yang melayani jutaan penumpang setiap tahunnya, bukan sekadar gangguan operasional, melainkan juga pukulan bagi konektivitas nasional dan perekonomian. Bandara-bandara alternatif yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah diharapkan mampu menyerap lonjakan penumpang, namun apakah kapasitas dan aksesibilitasnya memadai masih menjadi pertanyaan besar.
Para pengamat penerbangan menilai langkah pemerintah ini sebagai respons yang cepat, namun mereka juga menggarisbawahi perlunya koordinasi yang matang antara maskapai, otoritas bandara, dan penyedia transportasi darat. Pengalihan rute yang tidak terkoordinasi dengan baik berpotensi menimbulkan penumpukan penumpang di bandara alternatif, yang justru memperparah kekacauan.
Ke depan, pemerintah perlu mempertimbangkan skenario jangka panjang, termasuk pengembangan bandara-bandara alternatif sebagai hub cadangan yang siap difungsikan setiap saat. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan sektor penerbangan nasional, atau justru hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah panjang erupsi Anak Krakatau yang terus mengancam?



