Latihan Tembak Super Garuda Shield 2026: 270 Personel Lintas Negara Uji Akurasi di Sumatera Selatan
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 270 prajurit dari empat negara menjalani latihan menembak presisi di Martapura, menandai fase penting interoperabilitas militer kawasan.
- Latihan ini merupakan bagian dari SGS 2026 yang melibatkan 21 negara dan 4.743 personel, menguji kesiapan operasional serta diplomasi pertahanan Indonesia.
- Keberhasilan latihan tanpa insiden memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah latihan militer multilateral terbesar di Asia Tenggara.

Sebanyak 270 personel militer dari Indonesia, Amerika Serikat, India, dan Selandia Baru mengasah kemampuan menembak presisi dalam rangkaian Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) 2026, yang berlangsung di Lapangan Tembak Puslatpur TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan, pada akhir pekan lalu. Latihan menembak yang dikenal dengan istilah Sof Flat Range Advance Shooting ini menjadi salah satu materi kunci untuk menguji akurasi dan kecepatan reaksi pasukan dalam kondisi medan yang menuntut ketepatan tinggi.
Latihan yang berjalan tanpa insiden ini mempertemukan satuan-satuan elite dari masing-masing negara. Kontingen Indonesia mengerahkan 110 personel dari Yonif 502/UY, sementara Amerika Serikat menerjunkan 80 prajurit dari 1-501 PIR dan 1st SFG. Selandia Baru membawa 45 personel dari 57/7 RAR, dan India mengirimkan 40 personel dari 50th Independent Para SF. Komposisi ini menunjukkan bahwa latihan tidak sekadar seremonial, melainkan melibatkan unit-unit yang terbiasa dengan operasi khusus dan pertempuran jarak dekat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari SGS 2026 yang berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September di sejumlah titik strategis Indonesia, mulai dari Bandung, Jakarta, Lampung, Baturaja, hingga Nunukan. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengungkapkan bahwa total personel yang terlibat mencapai 4.743 orang dari 21 negara, dengan 12 materi latihan yang dirancang untuk menguji kesiapan operasional dan memperkuat diplomasi pertahanan. "Super Garuda Shield ini dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Yang hadir ada 21 negara tahun ini," ujarnya di Bandung, Senin (31/8).
Bagi Indonesia, penyelenggaraan SGS memiliki nilai strategis yang melampaui aspek militer. Di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif, latihan ini menjadi instrumen penting untuk menunjukkan kapabilitas TNI serta memperkuat kepercayaan mitra internasional. Kehadiran negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Inggris dalam daftar peserta menegaskan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra keamanan yang kredibel di kawasan. Lebih dari itu, latihan ini juga menjadi ajang transfer pengetahuan dan teknologi pertahanan, yang pada gilirannya dapat mendorong modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.
Dari perspektif domestik, latihan ini juga berdampak pada ekonomi dan pariwisata daerah. Kedatangan ribuan personel asing ke berbagai wilayah, termasuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Utara, memberikan suntikan bagi sektor jasa lokal, mulai dari akomodasi hingga transportasi. Namun, yang lebih penting adalah efek jangka panjang terhadap industri pertahanan dalam negeri. Keterlibatan TNI dalam latihan semacam ini sering kali menjadi pintu masuk bagi alih teknologi dan peluang kerja sama industri pertahanan dengan negara-negara maju, sejalan dengan target pemerintah untuk memperkuat kemandirian alutsista.
Kendati demikian, penyelenggaraan latihan militer berskala besar tidak lepas dari sorotan. Sebagian pengamat menilai bahwa SGS 2026 juga menjadi sinyal bagi aktor-aktor regional lainnya, terutama Tiongkok, mengenai soliditas aliansi pertahanan di kawasan. Meski Indonesia menganut politik bebas aktif, partisipasi aktif dalam latihan yang diprakarsai Amerika Serikat ini menunjukkan adanya pergeseran penekanan dalam kebijakan luar negeri pertahanan. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia menjaga keseimbangan antara memperkuat kerja sama dengan Barat dan memelihara hubungan baik dengan Tiongkok yang merupakan mitra dagang utama?
Ke depan, keberhasilan SGS 2026 akan menjadi tolok ukur bagi penyelenggaraan latihan serupa di tahun-tahun mendatang. Dengan meningkatnya kompleksitas tantangan keamanan, mulai dari terorisme hingga keamanan maritim, kemampuan TNI untuk beroperasi secara interoperabel dengan pasukan asing menjadi semakin krusial. Apakah Indonesia akan terus memperluas skala latihan ini, atau justru mulai mengembangkan inisiatif pertahanan regional yang lebih mandiri? Jawabannya akan menentukan arah postur pertahanan Indonesia dalam dekade berikutnya.



