Badai di Belfry: Penge dan Hillier Pimpin British Masters, Final Diprediksi Dramatis
Baca dalam 60 detik
- Marco Penge dan Daniel Hillier memuncaki klasemen British Masters dengan skor 11-under, unggul satu pukulan dari Tom McKibbin.
- Gangguan cuaca ekstrem memangkas lebih dari sembilan jam permainan, memaksa jadwal padat dan final yang menegangkan di The Belfry.
- Penge, yang tampil impresif dengan 32 hole dalam sehari, menjadi sorotan utama jelang putaran final yang diprediksi berlangsung ketat.

Marco Penge dari Inggris dan Daniel Hillier dari Selandia Baru memimpin klasemen British Masters dengan skor 11-under, setelah putaran ketiga dihentikan akibat kegelapan di The Belfry, Warwickshire. Keduanya baru menyelesaikan lima hole sebelum permainan dihentikan pada pukul 19:57 waktu setempat, menyisakan drama yang belum tuntas di lapangan yang terkenal menantang itu.
Kompetisi yang seharusnya berjalan mulus ini harus berhadapan dengan cuaca buruk yang melanda sejak hari pertama. Lebih dari sembilan jam permainan hilang pada Kamis dan Jumat, memaksa penyelenggara untuk mengatur ulang jadwal. Para pemain kini harus kembali ke lapangan pada Minggu pagi pukul 07:00 BST, dengan pasangan yang sama untuk putaran ketiga yang dilanjutkan, sebelum langsung memasuki putaran final. Prakiraan cuaca menunjukkan langit cerah di pagi hari, namun hujan deras diprediksi datang pada sore hingga malam, menambah ketidakpastian bagi para kontestan.
Penge, yang baru berusia 28 tahun, menunjukkan performa luar biasa dengan bermain 32 hole pada hari Jumat, mencatatkan satu eagle, sepuluh birdie, dan hanya satu bogey. Ia sempat berada di posisi 11-under setelah 14 hole sebelum cahaya memudar, dan kembali pada Sabtu pagi untuk menyelesaikan putaran keduanya dengan skor 10-under, unggul satu pukulan atas Hillier. "Ini tipikal saya, menjalani putaran yang naik turun. Beruntung kali ini berada di sisi yang benar dari par," ujarnya dengan nada lega.
Persaingan di papan atas tidak kalah sengit. Tom McKibbin dari Irlandia Utara, yang bergabung dengan LIV Golf pada Januari 2025, hanya tertinggal satu pukulan setelah memainkan enam hole di putaran ketiga. Pemain berusia 23 tahun itu menyelesaikan seluruh 18 hole putaran kedua pada hari Sabtu, dengan empat birdie sebelum penutup yang dramatis: bogey-eagle-bogey. Sementara itu, sejumlah nama besar seperti Matt Wallace dan Tyrrell Hatton masih berada di posisi yang lebih belakang, tetapi dengan cuaca yang tidak menentu, segalanya bisa berubah cepat.
Bagi penggemar golf di Indonesia, ajang ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan bagaimana para pemain top Eropa beradaptasi dengan kondisi ekstrem. Meski tidak ada wakil Indonesia di turnamen ini, dinamika persaingan dan strategi menghadapi cuaca bisa menjadi pelajaran berharga bagi pegolf Tanah Air yang kerap bermain di kondisi tropis yang berbeda. Selain itu, kehadiran pemain LIV Golf seperti McKibbin menambah warna tersendiri dalam lanskap golf profesional global, yang juga diikuti dengan saksama oleh penggemar di Asia Tenggara.
Dengan jadwal yang padat dan cuaca yang tidak bersahabat, ketahanan fisik dan mental para pemain akan diuji. Pertanyaan besarnya: akankah Penge mampu mempertahankan konsistensinya, atau justru Hillier yang memanfaatkan pengalamannya untuk merebut gelar? Atau mungkinkah McKibbin menjadi kuda hitam yang mengejutkan? Semua akan terjawab dalam putaran final yang diprediksi berlangsung dramatis di The Belfry.



