Bandara Soekarno-Hatta Kembali Perpanjang Penutupan: Abu Vulkanik Anak Krakatau Lumpuhkan 301 Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Operasional Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga Minggu pukul 21.30 WIB menyusul terdeteksinya abu vulkanik di ruang udara, mempengaruhi 301 penerbangan.
- Singapore Airlines membatalkan 19 rute Jakarta–Singapura, sementara enam bandara lain di Jawa dan Sumatra ikut ditutup; penumpang diimbau memantau status penerbangan.
- Aktivitas Anak Krakatau yang meningkat sejak Juli memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan, meski otoritas memastikan tak ada ancaman tsunami dan terus memantau perkembangan.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali memperpanjang penghentian operasional penerbangan hingga Minggu pukul 21.30 WIB menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Keputusan ini diambil setelah otoritas bandara mendeteksi partikel abu di ruang udara sekitar bandara, yang memaksa 301 penerbangan dibatalkan, ditunda, atau dialihkan ke bandara lain sejak Sabtu malam.
Erupsi yang terjadi sejak Sabtu itu tidak hanya melumpuhkan bandara tersibuk di Indonesia, tetapi juga berdampak pada enam bandara lain, termasuk Husein Sastranegara di Bandung dan Radin Inten II di dekat Bandar Lampung. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan sejumlah bandara di Semarang dan Surabaya telah disiapkan sebagai lokasi pendaratan alternatif. Kondisi ini memicu antrean panjang di terminal, dengan penumpang berusaha mengubah jadwal atau mencari informasi kepastian penerbangan.
Maskapai asing pun ikut terkena imbas. Singapore Airlines (SIA) tercatat membatalkan 19 penerbangan pulang-pergi Singapura–Jakarta pada Minggu. Juru bicara SIA menyebut situasi masih dinamis dan penerbangan lain antara Singapura dan Indonesia berpotensi terganggu. Selain rute Singapura, sejumlah penerbangan internasional menuju Kuala Lumpur, Guangzhou, Hong Kong, dan Doha juga mengalami penundaan atau pembatalan, sebagaimana tertera di situs resmi bandara.
Bagi Indonesia, gangguan ini bukan sekadar masalah logistik penerbangan. Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda merupakan pengingat akan kekuatan alam yang pernah memicu tsunami mematikan pada 2018. Meski demikian, Kepala Badan Geologi Lana Saria menegaskan bahwa peningkatan aktivitas sejak Juli—yang memuncak pada Sabtu—tidak otomatis mengindikasikan erupsi besar. "Erupsi yang sering terjadi tidak berarti akan ada letusan yang lebih besar," ujarnya dalam konferensi pers, seraya menambahkan bahwa pemantauan terus dilakukan.
Dampak sosial pun terasa. Henny Yensan, seorang pengusaha yang hendak mudik bersama ibunya, mengaku kecewa karena harus menunda perjalanan hingga Selasa. "Semua kecewa, tapi tidak ada yang marah karena ini bencana alam," katanya. Samuel Guiberteau, eksekutif Danone yang tengah berada di Lombok, juga kesulitan mencari penerbangan alternatif ke Jakarta. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga tetap tenang namun waspada, terutama terhadap hujan abu yang dapat mengganggu pernapasan dan penglihatan.
Secara historis, Anak Krakatau lahir dari kaldera Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883, menewaskan lebih dari 36.000 orang. Erupsi 2018 yang memicu tsunami juga menelan ratusan korban jiwa. Meski otoritas memastikan tidak ada ancaman tsunami saat ini, sejarah panjang ini menegaskan bahwa setiap aktivitas gunung berapi di Indonesia memerlukan kewaspadaan tinggi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama gangguan ini akan berlangsung. Dengan status siaga yang masih berlaku, bandara-bandara di Indonesia—khususnya yang berada di sekitar Selat Sunda—harus siap menghadapi kemungkinan penutupan berkepanjangan. Akankah industri penerbangan dan pariwisata nasional mampu beradaptasi dengan ancaman vulkanik yang semakin sering terjadi? Jawabannya akan menentukan ketahanan infrastruktur transportasi kita di tengah dinamika alam yang tak pernah benar-benar berhenti.



