Enam Bandara Lumpuh Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau, Husein Sastranegara Menyusul
Baca dalam 60 detik
- Kemenhub menutup enam bandara di Jawa dan Sumatera, termasuk Soekarno-Hatta dan Husein Sastranegara, karena sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau.
- Penutupan bertahap sejak pagi hingga siang ini memicu pembatalan dan penundaan penerbangan, dengan prioritas utama keselamatan penumpang.
- Operasional bandara akan dievaluasi berkala berdasarkan data BMKG, namun potensi gangguan berlanjut jika erupsi masih berlangsung.

Kementerian Perhubungan memperluas penutupan bandara imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Bandara Husein Sastranegara di Bandung resmi berhenti melayani penerbangan mulai pukul 12.00 WIB, menyusul enam bandara lain yang lebih dulu ditutup. Langkah ini diambil setelah uji sebaran abu vulkanik menunjukkan dampak yang meluas ke wilayah Jawa Barat.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengonfirmasi penutupan tersebut dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026). Sebelumnya, lima bandara telah ditutup sejak pagi, yakni Radin Inten Lampung, Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta, Pondok Cabe, serta Budiarto Curug di Tangerang. Dengan tambahan Husein Sastranegara, total enam bandara kini tidak beroperasi untuk sementara waktu.
Penutupan ini merupakan respons cepat atas informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mendeteksi persebaran abu vulkanik. Dudy menjelaskan bahwa keputusan diambil setelah melakukan serangkaian tes di sejumlah bandara. "Pada kondisi sekarang ini, berdasarkan informasi yang kami peroleh dengan melakukan tes, pukul 12.00 untuk Bandara Husein Sastranegara di Bandung terindikasikan sudah terdampak," ujarnya.
Dampak langsung terasa bagi ribuan penumpang. Bandara Soekarno-Hatta, sebagai gerbang udara utama Indonesia, terpaksa menangguhkan operasionalnya. Hal ini memicu kekacauan jadwal penerbangan domestik dan internasional. Maskapai penerbangan diimbau untuk mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan. "Kami sampaikan kepada airlines untuk senantiasa mengedepankan keselamatan dan keamanan penerbangan," tegas Dudy.
Kemenhub berkoordinasi intensif dengan BMKG, otoritas bandara, dan maskapai untuk memantau perkembangan. Penutupan ini bukan tanpa preseden; sebelumnya, erupsi Gunung Kelud pada 2014 sempat melumpuhkan bandara-bandara di Jawa. Namun, kali ini cakupannya lebih luas, menjangkau hingga Sumatera. Hal ini menunjukkan skala erupsi yang signifikan dan potensi dampak ekonomi yang tidak kecil.
Bagi masyarakat Indonesia, gangguan ini mengingatkan kembali pada kerentanan infrastruktur transportasi terhadap bencana alam. Selain itu, penutupan bandara di tengah musim liburan atau hari kerja bisa berdampak pada mobilitas dan perekonomian. Para pelaku usaha dan wisatawan yang bergantung pada transportasi udara perlu memantau perkembangan erupsi dan mencari alternatif moda transportasi.
Keputusan untuk menutup bandara bukan tanpa pertimbangan. Keselamatan penerbangan adalah prioritas mutlak. Abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan mengganggu visibilitas. Oleh karena itu, langkah preventif ini dianggap perlu meskipun mengorbankan kenyamanan penumpang. Dudy menegaskan, "Tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan atau belum memungkinkan."
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan bandara-bandara tersebut akan dibuka kembali. Evaluasi akan terus dilakukan berdasarkan perkembangan data dari BMKG. Jika erupsi berlanjut, bukan tidak mungkin penutupan diperpanjang atau diperluas ke bandara lain. Pertanyaannya, seberapa cepat maskapai dan otoritas bandara dapat memulihkan jadwal penerbangan setelah situasi membaik? Kesiapsiagaan dan koordinasi yang baik akan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak jangka panjang.



