Tiga Eks Legislator Demokrat Jabar Merapat ke NasDem, Siap Bertarung di Pileg 2029
Baca dalam 60 detik
- Achdar Sudrajat, Wawan Setiawan, dan Toto Purwanto resmi menyandang status kader Partai NasDem usai melalui proses kaderisasi di Akademi Bela Negara.
- Perpindahan ini menandai gelombang rekrutmen politik NasDem yang kian agresif menjelang Pemilu 2029, dengan menyasar politisi senior dari partai lain.
- NasDem mengusung jargon 'politik tanpa mahar' sebagai daya tarik utama, yang dinilai mampu mengurangi beban moral calon legislatif dalam menjalankan amanah publik.

Menjelang kontestasi legislatif 2029, Partai NasDem kembali menambah amunisi dengan merekrut tiga politisi senior asal Jawa Barat yang sebelumnya bernaung di Partai Demokrat. Mereka adalah Achdar Sudrajat, Wawan Setiawan, dan Toto Purwanto, yang masing-masing telah mengantongi pengalaman sebagai anggota legislatif di daerah tersebut. Langkah ini diumumkan langsung di Akademi Bela Negara (ABN) NasDem, Jakarta, pada Minggu (8/2), menegaskan strategi partai pimpinan Surya Paloh dalam memperkuat basis kader menjelang pemilu mendatang.
Ketua DPW NasDem Jawa Barat, M. Rahmat, mengonfirmasi bahwa ketiganya telah resmi ditetapkan sebagai kader oleh Sekretaris Jenderal DPP NasDem, Hermawi Taslim. "Ada yang keluar, ada yang masuk. Hari ini NasDem kedatangan anggota baru yang siap berjuang," ujarnya di sela-sela acara, sembari menyebut bahwa Wawan Setiawan sempat menduduki posisi Sekretaris DPD Demokrat Jawa Barat.
Perpindahan ini bukan sekadar rotasi individu, melainkan cermin dinamika peta politik yang kian cair jelang 2029. NasDem, yang pada Pemilu 2024 lalu berhasil meloloskan kadernya ke kursi presiden melalui Anies Baswedan, kini tampak serius membangun mesin politik yang lebih solid di tingkat akar rumput. Dengan merekrut politisi yang telah malang-melintang di legislatif, partai berlambang bola dunia ini berharap dapat mempercepat konsolidasi di daerah-daerah kunci seperti Jawa Barat, yang dikenal sebagai lumbung suara.
Menariknya, Toto Purwanto, salah satu kader anyar, mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada NasDem sudah tumbuh sejak 2019. Namun, baru tahun ini ia memutuskan untuk bergabung. "Ketertarikan saya pada NasDem sejak 2019, dan baru terealisasi sekarang. Apa sebabnya? Karena ideologi politik tanpa mahar yang mereka usung," jelas Toto. Ia menilai prinsip tersebut menjadi pembeda utama dibanding partai lain yang kerap kali membebani calon legislatif dengan biaya politik tinggi.
Fenomena perpindahan antarpartai memang bukan hal baru dalam politik Indonesia, namun intensitasnya cenderung meningkat menjelang pemilu. Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Firman Manan, menilai bahwa perpindahan ini sering kali dilatarbelakangi oleh kalkulasi pragmatis, seperti peluang keterpilihan yang lebih besar atau ketidakpuasan terhadap dinamika internal partai lama. "Dalam kasus ini, NasDem menawarkan platform yang lebih terbuka dan tanpa beban finansial, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi politisi yang ingin fokus pada pelayanan publik," ujarnya.
Bagi NasDem, perekrutan ini bukan hanya soal menambah jumlah kader, tetapi juga memperkuat posisi tawar dalam koalisi nasional. Dengan mengantongi politisi yang memiliki jejaring lokal yang kuat, partai ini berharap dapat meningkatkan perolehan kursi di DPRD Jawa Barat maupun DPR RI. Pada Pemilu 2024, NasDem memperoleh sekitar 10% suara nasional, dan target untuk 2029 tentu lebih tinggi.
Di sisi lain, langkah Demokrat yang kehilangan kader-kader seniornya bisa menjadi sinyal adanya dinamika internal yang belum tuntas. Namun, Ketua DPP Demokrat, Herman Khaeron, menanggapi santai. "Setiap kader memiliki hak untuk menentukan masa depannya. Kami fokus pada kader yang tetap setia pada perjuangan partai," ujarnya singkat. Meski demikian, kehilangan tokoh-tokoh seperti Wawan Setiawan yang pernah menjabat sekretaris DPD tentu menjadi catatan tersendiri bagi Demokrat.
Ke depan, publik akan mencermati apakah gelombang perpindahan ini akan berlanjut dan bagaimana dampaknya terhadap peta kekuatan partai di Jawa Barat. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah strategi rekrutmen NasDem yang agresif ini akan mampu menggeser dominasi partai-partai besar lain di provinsi tersebut, atau justru menjadi bumerang karena kader yang direkrut tidak memiliki loyalitas yang kuat? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, panggung politik Indonesia semakin menarik untuk diamati.



