Swiatek Justru Nyaman di Grandstand: Keheningan Lebih Berbicara daripada Gemuruh Ashe
Baca dalam 60 detik
- Petenis Polandia itu mengaku tak keberatan tampil di lapangan kecil berkapasitas 8.000 penonton, menyebut atmosfernya lebih 'normal' dibanding stadion utama.
- Sejumlah unggulan seperti Zverev dan Cobolli justru mengeluhkan kebisingan dan intervensi penonton di Flushing Meadows, yang dinilai mengganggu konsentrasi.
- Fenomena ini memicu pertanyaan tentang standar perilaku penonton tenis, terutama dengan turnamen besar yang semakin ramai dan atraktif.

Di tengah hingar-bingar Arthur Ashe Stadium yang mampu menampung hampir 24.000 penonton, Iga Swiatek justru memilih ketenangan. Unggulan kedelapan asal Polandia itu mengaku tidak keberatan tampil di Grandstand, lapangan dengan kapasitas sekitar 8.000 kursi, saat mengalahkan Marie Bouzkova 7-6(3), 7-6(3) pada putaran ketiga Amerika Terbuka, Sabtu (5/9) waktu setempat.
Bagi Swiatek, atmosfer Ashe yang riuh justru terasa berlebihan. "Ashe itu benar-benar hidup. Kadang terlalu hidup," ujarnya kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa Grandstand, dengan layar yang lebih sedikit dan ukuran yang lebih manusiawi, memberikan kesan yang lebih bersahabat. "Lapangan ini bagus. Jujur, saya tidak melihat sisi negatifnya," tegas peraih lima gelar Grand Slam itu.
Pernyataan Swiatek menjadi kontras dengan keluhan sejumlah pemain top lainnya. Alexander Zverev, unggulan teratas, bahkan melayangkan sindiran tajam kepada seorang penonton yang mencoba memberi instruksi saat ia mengalahkan Alejandro Tabilo. "Saya sudah punya pelatih dan saya membayarnya mahal," kata Zverev ketus, sebelum akhirnya tampil impresif. Jakub Mensik, petenis Ceko, juga melaporkan ejekan penonton di Louis Armstrong Stadium, bahkan satu penonton lain harus dikeluarkan petugas keamanan.
Fenomena ini bukan sekadar soal kenyamanan. Flavio Cobolli, unggulan kelima asal Italia, menyoroti perbedaan fundamental antara atmosfer turnamen tenis pada umumnya dengan keriuhan di New York. "Kami terbiasa bermain dalam keheningan, tanpa ada yang bergerak atau berbicara. Di sini sangat berbeda. Suasananya luar biasa, tapi sangat, sangat bising. Sulit bagi kami untuk bermain," tuturnya setelah kalah dari Alexander Blockx.
Bagi penggemar tenis Indonesia, dinamika ini menarik dicermati. Turnamen seperti Indonesia Terbuka atau ajang internasional yang digelar di dalam negeri kerap menghadirkan penonton yang antusias namun belum sepenuhnya memahami etiket menonton tenis. Suara kamera, teriakan, atau bahkan ponsel yang berdering sering kali menjadi 'pemain ketiga' di lapangan. Jika para petenis papan atas saja merasa terganggu, bagaimana dengan petenis lokal yang sedang berjuang menembus level dunia?
Persoalan ini juga membuka diskusi lebih luas tentang arah kebijakan turnamen. Di satu sisi, panitia ingin menciptakan pengalaman yang meriah dan menghibur untuk menarik minat generasi muda. Di sisi lain, esensi tenis sebagai olahraga yang membutuhkan konsentrasi tinggi bisa tergerus. Beberapa turnamen seperti Wimbledon telah menerapkan aturan ketat, sementara AS Terbuka justru dikenal lebih longgar dan 'membiarkan' penonton berekspresi.
Swiatek mungkin menemukan kenyamanan di Grandstand, tetapi pertanyaannya, akankah para petenis top lainnya mulai memilih lapangan kecil untuk menghindari tekanan? Atau justru turnamen besar akan beradaptasi dengan membuat regulasi baru yang lebih tegas? Yang jelas, keseimbangan antara hiburan dan sportivitas menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas bagi penyelenggara tenis dunia.



