AS Serang Tanker Minyak Iran, Eskalasi di Timur Tengah Kian Memanas
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak Iran yang diduga menjadi bagian dari jaringan pendanaan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan proksinya di kawasan.
- Serangan ini menandai baku tembak pertama setelah sebulan jeda, sekaligus mempertegas meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global.
- Di tengah eskalasi, Duta Besar AS untuk Israel menyebut aksi kekerasan pemukim Yahudi di Tepi Barat sebagai 'teror', dan Mesir mendesak AS serta Iran kembali ke meja perundingan.

Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik Iran, menyusul tuduhan bahwa Teheran menargetkan kapal perang AS di kawasan tersebut. Insiden ini menjadi baku tembak pertama setelah sekitar sebulan relatif tenang, sekaligus menandai babak baru ketegangan yang berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang memasok sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Dalam pernyataannya, militer AS menyebut ketiga kapal tanker itu merupakan bagian dari jaringan bayangan yang digunakan untuk mendanai Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kelompok proksi Iran di Timur Tengah. Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa empat rudal AS menghantam sebuah kapal tanker sekitar 10 kilometer dari Pulau Kharg, terminal utama ekspor minyak Iran. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Pulau Kharg sendiri telah berulang kali menjadi sasaran sejak perang meletus, termasuk serangan AS pada Maret lalu. Serangan terbaru ini terjadi hampir sepekan setelah AS kembali melancarkan serangan ke target-target Iran setelah jeda sebulan, seiring meningkatnya pertempuran di sekitar Selat Hormuz. Militer AS mengklaim bahwa sebuah kapal induk dan kapal perusak berhasil menghindari "beberapa serangan Iran yang tidak beralasan" selama patroli, tanpa ada korban di pihak AS.
Di sisi lain, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, kembali mengkritik keras kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi di Tepi Barat. Dalam kunjungannya ke desa Turmus Ayya, Huckabee menyebut tindakan pemukim sebagai "aksi teror", sebuah istilah yang biasanya digunakan untuk militan Palestina. Ia mencontohkan pembakaran mobil, masjid, hingga perusakan rumah sebagai tindakan kriminal yang melampaui batas dan layak disebut teror. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Huckabee juga mengecam kerusuhan di Qusra, di mana pemukim mengepung rumah-rumah warga, termasuk milik seorang warga Palestina-Amerika. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memang mengutuk aksi "segelintir perusuh", namun pemerintahannya yang paling ultranasionalis dan religius dalam sejarah Israel justru mempercepat pembangunan permukiman di Tepi Barat, yang dianggap ilegal oleh sebagian besar komunitas internasional.
Sementara itu, kelompok Houthi yang didukung Iran menuduh pasukan pemerintah Yaman membunuh sedikitnya tiga orang dalam serangan di provinsi Hodeida dan Taiz, Jumat lalu. Serangan ini terjadi saat militer Yaman mengklaim melancarkan lebih dari 15 serangan udara terhadap Houthi. Otoritas Houthi di Hodeida melaporkan seorang ayah dan anak perempuannya tewas ketika rumah mereka diserang, sementara di Taiz, satu orang tewas dan satu lainnya luka-luka. Konflik di sepanjang pantai barat Yaman, dekat jalur pasokan penting, memang meningkat akhir-akhir ini. Di sisi lain, kantor berita SABA yang dikendalikan pemerintah Yaman melaporkan bahwa militer telah menguasai distrik Hais di Hodeida, dengan puluhan pemberontak tewas atau terluka, meski klaim ini belum dikonfirmasi Houthi.
Di Lebanon, Kementerian Kesehatan setempat menyatakan serangan Israel menewaskan tiga orang dan melukai hampir dua lusin lainnya di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa timur. Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang posisi kelompok Hizbullah sebagai respons atas drone yang diluncurkan ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan. Drone tersebut berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban. Serangan ini terjadi di tengah mandeknya implementasi kesepakatan yang dimediasi AS pada Juni lalu, di mana Israel diharapkan menarik pasukan dari Lebanon selatan sebagai imbalan pelucutan senjata Hizbullah. Namun, Hizbullah menolak keras perundingan langsung, dan perang terbaru yang dimulai setelah serangan roket Hizbullah ke Israel pada 28 Februari masih menyisakan pendudukan Israel di sebagian besar wilayah selatan Lebanon.
Di tengah gejolak ini, Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, pada Sabtu mendesak AS dan Iran untuk kembali ke meja perundingan. Dalam percakapan telepon terpisah dengan mitranya dari Bahrain dan Oman, Abdelatty menekankan prioritas de-eskalasi dan pentingnya menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, yang lalu lintasnya masih berkurang karena Iran terus menguasai jalur air tersebut.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini bukan sekadar berita asing. Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga energi, yang pada akhirnya berdampak pada harga BBM dalam negeri dan inflasi. Indonesia, sebagai importir minyak, sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipasi, termasuk diversifikasi sumber energi dan penguatan kerja sama diplomatik untuk mendorong perdamaian di kawasan. Akankah tekanan internasional mampu meredam konflik sebelum berdampak lebih luas pada ekonomi global?



