Pangeran Hisahito Genap 20 Tahun: Pewaris Takhta Kedua Jepang Mulai Tunjukkan Peran di Panggung Internasional
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Hisahito, keponakan Kaisar Naruhito dan pewaris kedua Takhta Krisan, merayakan ulang tahun ke-20 pada 6 September 2026, setahun setelah menjalani ritual kedewasaan.
- Di sela studi biologi di Universitas Tsukuba, pangeran aktif dalam tugas resmi, termasuk kunjungan ke Hiroshima dan perjamuan kenegaraan untuk Presiden Filipina.
- Ulang tahun ini menggarisbawahi tantangan suksesi di Keluarga Kekaisaran Jepang yang kekurangan pewaris laki-laki, memicu diskusi tentang masa depan monarki.

Pangeran Hisahito, keponakan Kaisar Naruhito yang menempati posisi kedua dalam garis suksesi Takhta Krisan, resmi menginjak usia 20 tahun pada Minggu (6/9). Momen ini menjadi penanda penting bagi keluarga kekaisaran Jepang yang tengah menghadapi tantangan regenerasi di tengah minimnya pewaris laki-laki.
Berbeda dengan anggota keluarga kekaisaran lain yang umumnya menjalani ritual kedewasaan pada usia 18 tahun, perayaan untuk Hisahito sengaja diundur setahun agar tidak mengganggu persiapan ujian masuk universitasnya. Keputusan ini mencerminkan upaya istana untuk menyeimbangkan tradisi dengan kebutuhan pendidikan modern, sebuah langkah yang jarang terjadi dalam sejarah kekaisaran Jepang.
Sejak resmi dianggap dewasa pada September tahun lalu, Hisahito telah mulai dipercaya menjalankan berbagai tugas resmi. Ia tercatat menghadiri upacara kenegaraan seperti Salam Tahun Baru dan Pembacaan Puisi Tahun Baru untuk pertama kalinya. Pada Mei lalu, ia debut di jamuan kenegaraan yang digelar Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako untuk menyambut Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Dalam kesempatan itu, Hisahito terlihat bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan tamu yang duduk di sebelahnya, menunjukkan kemampuan diplomatik yang mulai diasah.
Di sela kesibukannya sebagai anggota keluarga kekaisaran, Hisahito tetap fokus pada pendidikan. Saat ini ia duduk di tahun kedua Universitas Tsukuba, mengambil kelas bahasa Inggris untuk membaca jurnal biologi serta mengikuti kuliah dan praktikum laboratorium di bidang biologi. Selama musim panas, ia aktif dalam kerja lapangan dan kegiatan klub bersama teman-temannya. Pangeran yang memiliki tempat tinggal di Tsukuba ini juga rutin kembali ke kediaman keluarga di Akasaka Estate, Tokyo, untuk berkebun sayur dan padi serta mengamati habitat capung—hobi yang telah lama digelutinya.
Kunjungan ke Hiroshima pada Agustus lalu menjadi salah satu momen paling mengharukan. Hisahito meletakkan bunga di Tugu Peringatan Korban Bom Atom dan mengunjungi pameran tentang sekolah dasar yang banyak kehilangan murid akibat tragedi 1945. Menurut Imperial Household Agency, pangeran kembali tersentuh oleh kedahsyatan bom atom. Ia juga menghadiri perkemahan pramuka di Jinsekikogen, Hiroshima, dan untuk pertama kalinya menyampaikan pidato dalam upacara resmi.
Kiprah Hisahito tidak hanya terbatas di dalam negeri. Pada November tahun lalu, ia bersama keluarga menghadiri upacara pembukaan Deaflympics Tokyo, ajang olahraga internasional bagi tunarungu. Ia bahkan mengunjungi Pulau Izu Oshima bersama Putri Mahkota Kiko untuk menonton pertandingan dan mengaku senang bisa berinteraksi dengan para atlet menggunakan bahasa isyarat yang telah dipelajarinya. Seorang ajudan dekat menggambarkan Hisahito sebagai pribadi yang "menjalankan setiap acara dengan hati-hati dan berbincang sepenuh hati dengan orang-orang yang ditemuinya."
Bagi Indonesia, dinamika suksesi kekaisaran Jepang menarik dicermati mengingat Jepang merupakan mitra strategis utama di kawasan. Stabilitas politik dan kelangsungan institusi monarki Jepang kerap dianggap sebagai salah satu pilar stabilitas Asia Timur. Meski peran Kaisar kini lebih bersifat simbolis, kekosongan kepemimpinan atau krisis suksesi dapat memicu gejolak politik yang berdampak pada hubungan bilateral, termasuk investasi dan kerja sama keamanan.
Di tengah sorotan publik, Hisahito tampak berusaha menjalani peran gandanya sebagai mahasiswa dan bangsawan. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: akankah ia mampu mempertahankan keseimbangan antara tuntutan tradisi dan kehidupan pribadi? Dan yang lebih krusial, bagaimana keluarga kekaisaran Jepang akan mengatasi persoalan suksesi di masa depan, mengingat hanya ada sedikit pewaris laki-laki yang tersisa? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa dekade mendatang, tetapi langkah Hisahito saat ini akan menjadi fondasi bagi masa depan monarki tertua di dunia.



