US Open 2025: Enam Unggulan Tumbang di Pekan Pertama, Zverev Makin Nyaman Menuju Final?
Baca dalam 60 detik
- Taylor Fritz dan Flavio Cobolli gagal memanfaatkan peluang emas setelah tersingkir di babak ketiga US Open, menyisakan hanya tiga pemain top-20 di paruh atas undian.
- Kejutan demi kejutan mewarnai pekan pertama Flushing Meadows, dengan enam unggulan 10 besar gugur, termasuk Novak Djokovic dan Felix Auger-Aliassime.
- Alexander Zverev berpotensi melaju ke final tanpa menghadapi lawan top-10, membuka peluang besar bagi petenis Jerman itu untuk merebut gelar Grand Slam pertamanya.

Flushing Meadows, New York โ Gelaran US Open 2025 kembali menyajikan drama yang mengejutkan. Enam unggulan 10 besar telah tersingkir di pekan pertama, menjadikan turnamen tahun ini salah satu yang paling tidak terduga dalam beberapa tahun terakhir. Kekalahan mengejutkan Taylor Fritz dari Francisco Cerundolo dan Flavio Cobolli dari Alexander Blockx pada babak ketiga membuka peta persaingan yang semakin liar di paruh atas undian.
Fritz, yang tahun lalu menjadi finalis di turnamen ini, sebenarnya tampil dominan di dua set awal. Ia bahkan unggul break lebih dulu di set ketiga. Namun, Cerundolo, petenis asal Argentina yang dikenal tangguh di lapangan tanah liat, mampu membalikkan keadaan dan menang dengan skor 3-6, 4-6, 6-3, 6-4, 6-4. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi harapan publik Amerika Serikat yang menantikan juara lokal pertama sejak Andy Roddick pada 2002. "Saya bahkan tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak ingin berbicara dengan siapa pun," ujar Fritz dengan nada frustrasi.
Kurang dari satu jam berselang, giliran Cobolli yang harus mengakui keunggulan Blockx. Petenis Italia berusia 22 tahun itu kehilangan arah setelah memenangkan tie-break di set pertama. Ia bahkan menyerah di set ketiga dengan skor telak 0-6 hanya dalam waktu 20 menit. "Saya merasa energi saya sedikit lebih rendah dari hari-hari sebelumnya. Saya merasa lebih tegang dan mungkin lebih lelah," kata Cobolli. Kekalahan ini tentu menjadi kekecewaan besar, mengingat ia sempat diunggulkan untuk melaju jauh setelah banyak unggulan lain gugur.
Runtuhnya para unggulan ini seharusnya menjadi berkah bagi Fritz dan Cobolli. Namun, keduanya justru gagal memanfaatkan peluang tersebut. Kini, di paruh atas undian, hanya tersisa tiga pemain top-20: Alexander Zverev (unggulan 1), Learner Tien (unggulan 14), dan Jakub Mensik (unggulan 17). Tien dan Mensik akan saling berhadapan di babak keempat, yang berarti satu di antara mereka akan melaju ke perempat final. Zverev pun berpotensi mencapai final tanpa harus menghadapi pemain top-10, sebuah skenario yang sangat menguntungkan baginya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kejutan-kejutan ini menegaskan bahwa persaingan di level tertinggi semakin terbuka. Meski tidak ada wakil Indonesia di turnamen ini, dinamika yang terjadi memberikan gambaran bahwa peringkat dan reputasi tidak selalu menjamin hasil akhir. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air untuk terus berani bermimpi menembus turnamen Grand Slam, mengingat peluang selalu ada bagi mereka yang siap mengambil kesempatan.
Kekalahan Fritz juga menjadi catatan tersendiri. Sebagai finalis tahun lalu, ia diharapkan menjadi andalan tuan rumah. Tanpa kehadiran Jannik Sinner yang absen dan Carlos Alcaraz yang baru pulih dari cedera pergelangan tangan, peluang untuk melihat juara Amerika Serikat kembali terbuka lebar. Namun, kegagalan di babak ketiga ini menunjukkan bahwa tekanan bermain di kandang sendiri bisa menjadi beban tersendiri. "Saya perlu keluar selama beberapa hari dan kemudian kembali bekerja. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa membiarkan hal itu terjadi hari ini," sesalnya.
Sementara itu, di sektor ganda putra, beberapa petenis Inggris justru menunjukkan performa apik. Arthur Fery dan Joshua Paris melaju setelah menang atas pasangan India-Belarus, sementara Neal Skupski dan Christian Harrison juga memastikan tempat di babak berikutnya. Namun, David Stevenson dan Marcus Willis harus mengakui keunggulan unggulan 11 asal Prancis.
Dengan semakin terbukanya peta persaingan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Alexander Zverev mampu memanfaatkan situasi ini untuk meraih gelar Grand Slam pertamanya? Atau akankah muncul kejutan lain dari pemain di luar top-10 yang siap merebut tahta? Pekan kedua US Open akan menjadi saksi apakah skenario yang tampaknya menguntungkan ini benar-benar berujung pada kemenangan, atau justru menjadi bumerang bagi para unggulan yang tersisa.



