Anak Krakatau Erupsi Menerus, Lava Fountain Muncul: Warga Banten-Lampung-Jabar Dikejutkan Dentuman
Baca dalam 60 detik
- Status Siaga Level III dipertahankan saat Anak Krakatau memuntahkan lava pijar dan dentuman yang terdengar hingga tiga provinsi.
- Badan Geologi menegaskan tubuh gunung yang baru tumbuh belum cukup besar untuk memicu longsoran dan tsunami.
- Rekomendasi larangan aktivitas radius 3 kilometer menjadi acuan utama bagi warga dan wisatawan di pesisir Selat Sunda.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan kegarangannya. Erupsi menerus sejak Sabtu (5/9/2026) malam memunculkan fenomena langka berupa lava fountain setinggi kolom yang tak terukur, sekaligus melontarkan dentuman yang terdengar hingga pesisir Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat. Status Siaga Level III masih dipertahankan, mengingatkan publik pada bayang-bayang tsunami 2018 yang menelan ribuan korban.
Berdasarkan laporan khusus Badan Geologi Kementerian ESDM, intensitas erupsi mulai meningkat tajam pada pukul 23.07 WIB dan berlangsung hingga dini hari. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa karakter erupsi kali ini menyerupai air mancur lavaโpancaran material pijar yang keluar dari kawah secara menerus. Meski kolom abu tak teramati secara visual, semburan api terekam jelas oleh kamera CCTV Lava93 pada tengah malam, menandakan suplai magma dari kedalaman masih kuat.
Dentuman yang menyertai erupsi menjadi perhatian tersendiri. Warga di pesisir Banten, Lampung, hingga beberapa titik di Jawa Barat melaporkan getaran dan suara gemuruh yang mengiringi aktivitas vulkanik tersebut. Badan Geologi menduga fenomena ini berkaitan langsung dengan letusan yang terjadi pada waktu yang sama, meski belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa.
Kekhawatiran terbesar masyarakat tentu mengarah pada potensi tsunami, mengingat tragedi 22 Desember 2018 yang dipicu longsoran tubuh gunung. Namun, hasil evaluasi Badan Geologi memberikan sedikit kelegaan. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dahsyat itu dinilai masih relatif kecil dan belum mencapai skala yang dapat mengancam stabilitas lereng secara signifikan.
"Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," tulis Badan Geologi dalam rilisnya. Pernyataan ini menjadi pegangan penting bagi warga pesisir yang selama ini hidup dengan trauma, namun tetap diimbau untuk tidak lengah terhadap potensi bahaya lain seperti awan panas, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar tontonan alam. Selat Sunda merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dan kawasan pesisir Banten-Lampung adalah pusat permukiman serta industri. Setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau selalu memicu kewaspadaan ganda: keselamatan warga dan kelancaran logistik. Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati gunung dalam radius 3 kilometer, serta mematuhi arahan BPBD setempat.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah seberapa lama fase erupsi ini akan bertahan dan apakah akan mereda seperti pola sebelumnya. Pengalaman menunjukkan bahwa Anak Krakatau dapat berganti-ganti antara erupsi efusif dan eksplosif dalam hitungan hari. Yang jelas, kewaspadaan tetap menjadi kata kunci, dan teknologi pemantauan seperti CCTV serta seismograf akan terus menjadi mata pemerintah dalam membaca perilaku gunung yang lahir dari sisa letusan dahsyat 1883 itu.



