Kebakaran Hutan Mendekati Ibu Kota Nusantara, Otoritas Minta Hujan Buatan Segera Dilakukan
Baca dalam 60 detik
- Api melalap sekitar 400 hektare di sekitar Ibu Kota Nusantara, dengan titik terbesar di Taman Hutan Bukit Suharto.
- Musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino membuat penanganan kebakaran di Kalimantan dan Sumatra kian sulit.
- Pemerintah mengerahkan 53 pesawat untuk water bombing dan seeding, sementara Jepang turut membantu; doa bersama meminta hujan digelar.

Kebakaran hutan dan lahan mulai merangsek ke area sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, memaksa otoritas proyek meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera melakukan rekayasa cuaca dan bom air. Hingga awal September, sedikitnya 400 hektare lahan di sekitar kawasan calon ibu kota baru telah terbakar, dengan titik terbesar berada di Taman Hutan Bukit Suharto yang mencapai 300 hektare.
Fenomena tersebut menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi proyek senilai US$32 miliar ini, yang sejak digagas era Presiden Joko Widodo pada 2019 memang belum rampung. Kini, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, proyek yang sempat mengalami penundaan dan pemangkasan anggaran harus berhadapan dengan musim kemarau terparah dalam satu dekade terakhir, yang diperkirakan dipicu oleh "super El Nino".
Direktur Kedaruratan BNPB, Agus Riyanto, mengungkapkan bahwa kebakaran yang sebelumnya berkobar di sejumlah titik di Pulau Kalimantan bagian barat dan tengah kini telah meluas ke timur, tempat IKN berada. "Kami telah meminta dukungan penuh untuk operasi water bombing dan cloud seeding di sekitar Nusantara," ujarnya. Bukit Suharto, yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota IKN, menjadi area yang paling mengkhawatirkan karena dekat dengan sejumlah proyek strategis yang telah dibangun.
Data BNPB mencatat total lahan terbakar di enam provinsi terdampak di Kalimantan dan Sumatra telah mencapai 73.311 hektare. Untuk menangani hal ini, pemerintah telah mengerahkan 53 pesawat untuk melakukan pengeboman air dan penyemaian awan. Jepang juga telah mengirimkan pesawat dan personel sebagai bentuk bantuan internasional. Sementara itu, satu helikopter dari Kalimantan Selatan akan diterjunkan untuk memperkuat operasi di sekitar IKN.
Namun, upaya cloud seeding terkendala minimnya awan di wilayah tersebut. "Kami akan melakukan penyemaian awan begitu kondisi memungkinkan," kata Agus. Di tengah keterbatasan teknologi, warga sekitar IKN memilih jalan spiritual. Jumat lalu, ratusan umat Muslim berkumpul di depan Istana Negara Nusantara untuk melaksanakan salat Istisqa, memohon turunnya hujan. "Kita harus memohon ampun kepada Allah, jika dikabulkan, Allah akan menurunkan hujan yang deras," ujar penceramah Rusdi Abdullah.
Pakar tata kota, Wisnubroto Sarosa, menilai IKN sebenarnya bukan lokasi ideal karena dikelilingi hutan dan memiliki keterbatasan pasokan air. Meski risiko kebakarannya lebih rendah dibandingkan provinsi Kalimantan Barat dan Tengah, tetap saja ancaman ini menjadi ujian serius bagi kelangsungan proyek ambisius tersebut. Kebakaran yang mendekati pusat pemerintahan baru ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga dapat menghambat operasional dan kepercayaan investor terhadap masa depan IKN.
Pertanyaannya kini, mampukah pemerintah mengendalikan api sebelum musim kemarau berakhir? Atau akankah IKN kembali menjadi sorotan karena kerentanan lingkungannya? Dengan El Nino yang diprediksi masih berlanjut, langkah mitigasi jangka panjang—mulai dari pengelolaan lahan gambut hingga sistem peringatan dini—menjadi keniscayaan yang tak bisa ditunda lagi.



