Festival Budaya China di Tokyo Tetap Ramai di Tengah Ketegangan Diplomatik
Baca dalam 60 detik
- Festival budaya China di Tokyo menarik pengunjung meski hubungan bilateral memburuk.
- Kedutaan China hanya berperan sebagai pendukung, bukan penyelenggara utama seperti tahun-tahun sebelumnya.
- Acara ini menjadi ajang diplomasi publik di tengah isu Taiwan yang memanas.

Di tengah memburuknya hubungan diplomatik Jepang-China, sebuah festival budaya China di Taman Yoyogi, Tokyo, tetap ramai dikunjungi pada Sabtu (6/9). Ratusan stan menjajakan kuliner khas Tiongkok dan merchandise panda, menarik perhatian warga lokal yang antusias meski ketegangan politik antara kedua negara meningkat.
Festival dua hari ini dibuka oleh mantan Duta Besar Jepang untuk China, Yuji Miyamoto, yang kini menjabat sebagai ketua panitia. Dalam sambutannya, ia menyatakan harapannya agar acara ini menjadi titik awal membangun fondasi hubungan bilateral yang lebih kokoh. Sementara itu, Duta Besar China untuk Jepang, Wu Jianghao, menyampaikan pesan video yang mengajak pengunjung merasakan perkembangan China di era baru.
Menariknya, meski sebelumnya Kedutaan Besar China di Jepang turut menjadi tuan rumah bersama dan duta besarnya menjabat ketua panitia, tahun ini kedutaan hanya berpartisipasi sebagai pendukung. Perubahan peran ini mencerminkan dinamika hubungan kedua negara yang sedang tidak harmonis, terutama setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi melontarkan pernyataan tahun lalu tentang kemungkinan respons militer Jepang jika China menyerang Taiwan.
Bagi pengunjung seperti Kaori Sasaki, penggemar berat panda Xiang Xiang yang lahir di Jepang dan kini kembali ke China, festival ini adalah kesempatan untuk lebih dekat dengan budaya China. Ia membeli map bergambar panda dan mengaku ingin suatu saat berkunjung ke China untuk melihat langsung Xiang Xiang serta menikmati kuliner lokal.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategisnya di kawasan. Sebagai negara yang juga memiliki hubungan dagang erat dengan China dan Jepang, Indonesia perlu mencermati bagaimana ketegangan kedua negara dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan regional. Festival semacam ini menjadi pengingat bahwa diplomasi publik tetap berjalan meski hubungan resmi merenggang.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah festival ini mampu menjadi jembatan yang efektif untuk meredakan ketegangan, atau justru hanya menjadi seremoni simbolis tanpa dampak nyata pada hubungan bilateral. Yang jelas, antusiasme masyarakat Jepang terhadap budaya China menunjukkan bahwa hubungan antarmasyarakat dapat tetap hangat meski politik sedang dingin.


