Kebakaran di Ambang Chew Jetty: 143 Petugas Damkar Berjibaku Selamatkan Warisan George Town
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 140 personel pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api yang berkobar kurang dari 20 meter dari Chew Jetty, kawasan klan bersejarah di George Town.
- Lima bangunan ludes atau rusak, termasuk bengkel mobil dan toko furnitur; kerugian ditaksir mencapai RM500.000, namun tidak ada korban jiwa.
- Penyebab kebakaran masih diselidiki, sementara pemerintah negara bagian berjanji membantu proses rekonstruksi dan meninjau status lahan yang disewa.

Kurang dari 20 meter memisahkan amukan api dari deretan rumah panggung kayu Chew Jetty yang menjadi ikon warisan budaya George Town, saat 143 personel pemadam kebakaran dikerahkan dini hari tadi untuk mencegah bencana yang lebih besar. Ketakutan akan merambatnya kobaran api ke permukiman klan bersejarah itu membuat puluhan relawan dari 18 brigade pemadam sukarela, termasuk yang berbasis di Valdor di seberang daratan, bahu-membahu dengan 25 petugas dari Departemen Pemadam dan Penyelamatan.
Api pertama kali dilaporkan melalap sederet bengkel kayu di Pengkalan Weld sekitar pukul 01.00 waktu setempat. Dalam hitungan menit, lima unit usaha—bengkel mobil, bengkel cat, bengkel furnitur, percetakan, dan toko barang bekas—menjadi sasaran keganasan si jago merah. Asisten Direktur Operasi Penang Fire and Rescue Department, John Sagun Francis, mengatakan panggilan darurat diterima pukul 01.08 dan pasukan tiba di lokasi hanya tiga menit kemudian. Api berhasil dijinakkan pada pukul 02.03, namun operasi pemadaman terus berlanjut hingga siang hari akibat tumpukan kayu besar di bengkel furnitur yang menyimpan bara tersembunyi.
"Tantangan terbesar adalah tumpukan kayu yang sangat besar. Masih ada titik api di bawah tumpukan yang tidak terlihat," ujar Francis di lokasi kejadian. Sebuah ekskavator diterjunkan sekitar tengah hari untuk memindahkan kayu-kayu tersebut agar petugas dapat menjangkau titik panas yang masih membara. Sementara itu, Gubernur Pulau Pinang, Chow Kon Yeow, memastikan Chew Jetty sendiri tidak tersentuh api. "Chew Jetty aman dan tidak rusak sama sekali," katanya setelah meninjau lokasi. Namun, kekhawatiran sempat melanda warga yang melihat percikan api dan hembusan angin kencang berpotensi menyulut struktur kayu di dermaga yang berdekatan.
Seorang warga, AL Chew, menuturkan suaminya mendengar bunyi berderak sekitar tengah malam, melihat api, lalu membangunkannya dan memberi tahu tetangga. Upaya memadamkan api dengan selang kebakaran dermaga gagal karena jarak yang terlalu jauh. "Kerabat dan tetangga saya berlari dari pintu ke pintu sambil berteriak menyuruh semua orang mengungsi. Banyak yang hanya sempat membawa dokumen penting," kenangnya. Meski api sempat terkendali sekitar pukul 02.00, tumpukan kayu kembali menyala sekitar pukul 03.00. "Saat angin kencang antara pukul 03.00 dan 04.00, percikan api memaksa kami menyiram atap dengan air. Sungguh menakutkan karena apinya begitu dekat," tambahnya.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan permukiman padat dan bangunan bersejarah berbahan kayu terhadap kebakaran. Di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, atau Palembang, banyak permukiman tradisional yang masih menggunakan material mudah terbakar dan minim akses bagi petugas pemadam. Kurangnya kepatuhan terhadap standar keselamatan kebakaran, seperti yang terlihat pada bengkel-bengkel di Pengkalan Weld yang beroperasi di lahan negara dengan izin sementara, juga menjadi masalah yang lazim di Indonesia. Insiden ini menegaskan pentingnya penegakan regulasi ketat dan kesiapsiagaan komunitas dalam menghadapi risiko kebakaran, terutama di area dengan nilai sejarah dan ekonomi tinggi.
Pemerintah negara bagian, melalui pernyataan Chow Kon Yeow, menyatakan akan menunggu hasil investigasi untuk menentukan penyebab pasti kebakaran. Lokasi kejadian diketahui berada di atas tanah milik negara, dan bangunan-bangunan tersebut diduga beroperasi dengan izin okupasi sementara atau perjanjian sewa dengan Chief Minister Incorporated. "Pemerintah negara bagian akan menangani masalah ini dan memberikan bantuan selama proses pembangunan kembali," janji Chow. Sementara itu, operator bengkel mobil, Datuk Leong Kah Fok (67), memperkirakan kerugian mencapai RM500.000 akibat kerusakan dinding dan kendaraan yang hangus. Sejumlah pejabat setempat, termasuk anggota dewan eksekutif negara Lim Siew Khim, anggota parlemen Tanjong Lim Hui Ying, dan anggota majelis Pengkalan Kota Wong Yuee Harng, turut meninjau lokasi untuk memastikan langkah-langkah pemulihan.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat akan memperkuat langkah mitigasi agar tragedi serupa tidak terulang, baik di George Town maupun di kawasan serupa di Indonesia. Akankah insiden ini menjadi momentum untuk meninjau ulang tata kelola lahan dan standar keselamatan bangunan di area rawan kebakaran? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi urgensi untuk bertindak kini semakin nyata.



