Bencana Longsor di Jiangxi Tewaskan Satu Warga, Belasan Hilang: Dampak Topan Saudel Masih Terasa
Baca dalam 60 detik
- Topan Saudel memicu longsor di Jiangxi, menewaskan satu orang dan menyebabkan 11 lainnya hilang.
- Di Fujian, lebih dari 100 rumah roboh dan sekitar 600.000 warga dievakuasi akibat banjir dan tanggul jebol.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di kawasan Asia Timur.

Bencana longsor yang dipicu hujan deras akibat Topan Saudel melanda sebuah desa di Kabupaten Suichuan, Provinsi Jiangxi, China timur, pada Jumat (6/9/2026) dini hari. Satu warga ditemukan tewas, sementara 11 lainnya masih dinyatakan hilang. Peristiwa ini tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga merusak belasan rumah warga, memaksa tim penyelamat bergerak cepat mengevakuasi penduduk ke tempat yang lebih aman.
Topan Saudel, yang sebelumnya telah dua kali menghantam Provinsi Zhejiang pada 28 Agustus, kembali membuat landfall ketiga di Provinsi Fujian pada Kamis (5/9/2026) sebagai badai tropis. Kedua provinsi tersebut berbatasan langsung dengan Jiangxi, sehingga dampak hujan ekstrem terasa hingga ke pedalaman. Di Fujian, otoritas setempat melaporkan sejumlah warga masih belum ditemukan setelah diguyur hujan lebat selama berhari-hari. Meski angka pastinya belum jelas, lebih dari 100 rumah ambruk di Kota Huating, Kota Putian.
Kondisi semakin pelik ketika sebuah tanggul jebol pada Kamis sore, menyebabkan air bah menerjang desa-desa dan menjebak warga di dalam rumah. Rekaman dari penyiar negara CCTV memperlihatkan jalan-jalan berubah menjadi sungai, sementara petugas penyelamat menggunakan perahu karet untuk menjangkau korban. Hingga Jumat malam, sekitar 600.000 warga telah dievakuasi dari wilayah pesisir dan daratan yang berisiko di Fujian, menurut laporan kantor berita Xinhua.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen bencana yang tangguh di tengah meningkatnya frekuensi siklon tropis di kawasan Asia. Meski Indonesia jarang dilanda topan secara langsung, perubahan iklim global berpotensi mengubah pola cuaca dan meningkatkan risiko hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di berbagai daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu terus memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi untuk mengurangi dampak bencana serupa.
Menurut para ahli meteorologi, intensitas topan yang semakin tinggi sering dikaitkan dengan pemanasan suhu laut. Hal ini membuat negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara harus bersiap menghadapi musim badai yang lebih ekstrem. โKita melihat pola di mana topan tidak hanya menjadi lebih kuat, tetapi juga membawa curah hujan yang lebih tinggi dalam waktu singkat,โ ujar seorang analis kebencanaan yang enggan disebutkan namanya. โIni menuntut sistem drainase dan tanggul yang lebih baik, serta kesiapsiagaan masyarakat yang lebih tinggi.โ
Pemerintah China sendiri telah mengerahkan tim penyelamat tambahan dan mendistribusikan bantuan logistik ke daerah terdampak. Operasi pencarian korban hilang masih berlangsung, sementara warga yang dievakuasi ditempatkan di lokasi penampungan sementara. Meski demikian, tantangan ke depan adalah memulihkan infrastruktur yang rusak dan memastikan tidak ada korban tambahan akibat penyakit pascabanjir.
Kejadian ini juga menyoroti pentingnya kerja sama regional dalam menghadapi bencana alam. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan risiko tinggi, dapat belajar dari pengalaman China dalam hal evakuasi massal dan koordinasi lintas sektor. Apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur kita sudah cukup siap menghadapi skenario cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu? Ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar rencana di atas kertas.



