Bournemouth Catat Rekor Buruk Premier League: Tiga Laga Unggul Lebih Dulu, Tiga Kali Gagal Menang
Baca dalam 60 detik
- Bournemouth menjadi klub pertama dalam sejarah Premier League yang selalu mencetak gol lebih dulu dalam tiga laga awal musim namun tidak pernah meraih kemenangan.
- Tujuh poin telah hilang dari posisi unggul, memicu kekhawatiran akan mentalitas tim asuhan Marco Rose menjelang jadwal padat Liga Europa dan Piala Liga.
- Newcastle justru menunjukkan ketahanan di bawah Matthias Jaissle meski kehilangan sejumlah pemain kunci, dengan Ramsey menegaskan timnya belum puas.

Bournemouth mengukir catatan yang tidak diinginkan dalam sejarah Premier League. Pada Sabtu (5/9), tim asuhan Marco Rose bermain imbang 2-2 melawan Newcastle United di St James' Park, sekaligus menjadi klub pertama yang selalu unggul lebih dulu dalam tiga pertandingan pembuka musim, tetapi gagal memenangkan satu pun di antaranya.
Dalam laga tersebut, Bournemouth sempat memimpin dua gol sebelum Newcastle bangkit dan menyamakan kedudukan lewat gol Jacob Ramsey pada menit ke-88. Ini adalah kali ketiga berturut-turut Bournemouth kehilangan poin dari posisi menang. Sebelumnya, mereka juga memimpin lebih dulu saat menghadapi Manchester City dan Everton, namun akhirnya hanya membawa pulang satu poin dari masing-masing laga. Total, tujuh poin telah melayang dari situasi yang seharusnya menguntungkan.
Fenomena ini menjadi sorotan karena Bournemouth selalu mampu mencetak gol pembuka sebelum menit ke-84 dalam tiga laga awal, tetapi ketidakmampuan mempertahankan keunggulan menjadi pekerjaan rumah serius. "Dua kali sudah terjadi dalam dua laga terakhir, tapi ya sudah," ujar Rose kepada TNT Sports. Ia mengakui timnya tampil percaya diri di babak pertama dan seharusnya bisa menambah gol ketiga, namun kemudian kebobolan "dari hampir tidak ada apa-apa".
Di sisi lain, Newcastle justru menunjukkan karakter yang kontras. Di bawah manajer anyar Matthias Jaissle, The Magpies belum terkalahkan dengan satu kemenangan dan dua hasil imbang, meski harus menjual sejumlah pilar seperti Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes. Ramsey, yang menjadi pahlawan penyeimbang, menilai tiga laga awal timnya sudah sangat baik, termasuk hasil impresif melawan Tottenham. "Ada banyak nada negatif sebelum musim dimulai, semoga kami bisa membungkam mereka," katanya, seraya menambahkan bahwa timnya tidak ingin terbawa euforia karena ini baru pekan ketiga.
Jaissle, yang seperti Rose pernah menukangi Red Bull Salzburg, memiliki perasaan campur aduk. Ia mengakui timnya kesulitan mengimbangi intensitas Bournemouth di babak pertama dan kebobolan dua gol, tetapi bangga dengan reaksi anak asuhnya. "Itu sesuatu yang seharusnya bisa dihindari, tapi saya bangga dengan reaksi tim," ujarnya kepada BBC.
Bagi Bournemouth, tekanan semakin besar mengingat jadwal padat menanti. Setelah laga ini, mereka akan menghadapi Lincoln City di Piala Liga pada Selasa, plus ambisi di Liga Europa. Rose menyadari betul tantangan yang dihadapi klub yang tidak terbiasa bermain di banyak kompetisi. "Kami harus tetap kompak. Saya tahu betapa beratnya bagi klub yang tidak terbiasa dengan banyak kompetisi. Ini akan sangat sulit, kami butuh hasil positif," tandasnya.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Bournemouth ini menjadi pengingat bahwa mentalitas mempertahankan keunggulan sama pentingnya dengan kualitas menyerang. Di tengah euforia kompetisi domestik yang juga kerap menyajikan drama comeback, pelajaran dari Premier League bisa menjadi cermin bagi klub-klub Indonesia yang sedang membangun konsistensi. Selain itu, dengan makin banyaknya pemain Asia Tenggara yang merambah liga Eropa, performa tim-tim seperti Bournemouth turut memengaruhi persepsi terhadap kompetisi sekunder Inggris.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Bournemouth segera memperbaiki diri sebelum kebiasaan buruk ini menjadi pola yang mengakar? Atau justru Newcastle yang akan terus melaju tanpa beban, membuktikan bahwa perombakan skuad tidak selalu berarti kemunduran? Dua laga ke depan akan menjadi ujian nyata bagi kedua tim untuk membuktikan konsistensi mereka.



