Werder Bremen Bangkit: Kemenangan 3-1 atas RB Leipzig Setelah Pekan Penuh Tekanan
Baca dalam 60 detik
- Werder Bremen memetik kemenangan perdana Bundesliga musim ini dengan skor meyakinkan 3-1 atas RB Leipzig di Weserstadion, mengakhiri puasa kemenangan atas lawan tersebut dalam 13 pertemuan terakhir.
- Gol cepat Eren Dinkçi pada menit keempat serta aksi Niclas Füllkrug dan Marco Grüll memastikan tiga poin krusial bagi tim besutan Daniel Thioune yang sebelumnya dibekap Freiburg dan kehilangan Jens Stage karena cedera.
- Hasil ini memberi sinyal bahwa Bremen mampu bersaing di papan tengah, meski pelatih Thioune mengingatkan bahwa konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah besar menjelang laga tandang melawan Köln.

Werder Bremen akhirnya memecah kebuntuan panjang atas RB Leipzig. Bertanding di hadapan pendukung sendiri di Weserstadion, Minggu (25/8) malam WIB, tim berjuluk Die Werderaner menang telak 3-1, sekaligus membungkam keraguan yang menyelimuti skuad setelah kekalahan memalukan 1-4 dari Freiburg pekan lalu.
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin biasa. Ia lahir di tengah badai masalah: cedera parah yang menimpa gelandang andalan Jens Stage, yang dipastikan absen hingga awal tahun depan, serta rentetan hasil buruk melawan Leipzig—sebelum laga ini, Bremen tak pernah menang dalam 13 pertemuan terakhir di semua ajang. Tekanan mental jelas terasa, namun anak asuh Daniel Thioune menjawabnya dengan performa menawan sejak menit awal.
Gol pembuka lahir hanya dalam empat menit. Tiga rekrutan anyar musim panas ini berkolaborasi apik: Niclas Füllkrug memberikan umpan kepada Chuki, yang kemudian melepaskan bola terobosan presisi kepada Eren Dinkçi. Pemain kelahiran Bremen itu, yang kembali memperkuat klub masa kecilnya dengan status pinjaman dari Freiburg, langsung menceploskan bola ke gawang lawan. Euforia memuncak di tribun Weserstadion. “Ini momen yang luar biasa, tidak ada yang lebih baik dari ini,” ujar Dinkçi penuh haru. “Mencetak gol di stadion ini selalu menjadi impian saya. Kami tampil agresif sejak awal dan hasilnya membayar lunas.”
Leipzig sempat mengancam balik. Ketika wasit Benjamin Brand menunjuk titik putih setelah kiper Karl Hein dianggap menjatuhkan Christopher Nkunku, jantung para pendukung Bremen hampir berhenti. Namun, campur tangan Video Assistant Referee (VAR) membatalkan keputusan tersebut. Tayangan ulang memperlihatkan Hein berhasil menyentuh bola lebih dulu sebelum bersentuhan dengan pemain Leipzig. Keputusan ini menjadi titik balik; Leipzig yang mendominasi penguasaan bola gagal menciptakan peluang berbahaya dan kehilangan kepercayaan diri.
Memasuki babak kedua, Bremen semakin percaya diri. Mereka yang sebelumnya bertahan kini berani menekan. Gol kedua datang dari sumber yang sudah tidak asing: Niclas Füllkrug. Penyerang berusia 33 tahun itu melompat tinggi menyambut umpan pojok Marco Grüll dan menanduk bola masuk ke gawang. Ini menjadi gol pertamanya di Weserstadion sejak kembali memperkuat Bremen untuk periode ketiga pada musim panas ini. Sebelumnya, Füllkrug telah mencetak gol ke-50 untuk klub saat melawan LSK Hansa di putaran pertama DFB Pokal. Namun, ia mengakui sensasi mencetak gol di depan tribun Ostkurve tidak tertandingi. “Keluarga saya hadir di sini hari ini. Perasaan ini sulit digambarkan dengan kata-kata, sesuatu yang akan selalu saya ingat,” tuturnya.
Leipzig berusaha bangkit, tetapi pertahanan Bremen yang solid mampu meredam setiap serangan. Grüll kemudian memastikan kemenangan dengan gol ketiga di masa injury time, membuat gol hiburan Ridle Baku di menit akhir hanya menjadi pemanis. Meski demikian, suasana hati di kubu Bremen tetap tenang. Füllkrug menegaskan bahwa kemenangan ini tidak boleh membuat tim berpuas diri. “Saya tidak ingin membesar-besarkan hasil ini, sama seperti kami tidak terlalu meratapi kekalahan dari Freiburg. Kami bermain dengan intensitas tinggi dan tampil sangat baik, tetapi laga pekan depan akan berbeda,” katanya.
Bagi pengamat sepak bola Jerman, kemenangan ini menjadi sinyal bahwa Bremen tidak akan mudah menyerah dalam perburuan posisi aman. Namun, Thioune tetap membumi. “Kemenangan ini terasa luar biasa setelah pekan yang penuh gejolak. Banyak yang memprediksi musim yang sulit bagi kami. Saya tidak menampik kemungkinan itu, tetapi kami telah membuktikan mampu memenangkan pertandingan. Para pemain layak mendapat pujian besar,” ujar pelatih asal Jerman itu.
Bagi publik Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena memperlihatkan bagaimana klub-klub Bundesliga di luar raksasa seperti Bayern Munich atau Borussia Dortmund mampu bersaing ketat. Kemenangan Bremen juga menegaskan bahwa kompetisi sepak bola Jerman selalu menyajikan kejutan, sesuatu yang bisa menjadi pelajaran bagi perkembangan liga domestik di Tanah Air. Pekan depan, Bremen akan bertandang ke markas Köln, tim yang musim lalu hanya unggul tiga poin dari zona degradasi. Akankah konsistensi mampu mereka jaga, atau justru kembali terpuruk? Pertanyaan ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi karakter tim asuhan Thioune.



