Krisis Kabut Asap Landa Asia Tenggara: Malaysia Siaga Darurat, Indonesia Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Malaysia mengaktifkan status darurat di wilayah dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (API) di atas 400, menyusul kabut asap lintas batas yang semakin pekat.
- Organisasi non-pemerintah (NGO) di Malaysia menggelar protes di depan Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, menuntut tindakan tegas atas kebakaran hutan dan lahan yang menjadi sumber utama kabut asap.
- Indonesia melakukan operasi pengeboman air (water bombing) untuk memadamkan titik api di dekat ibu kota baru Nusantara, sementara Malaysia bersiap menghadapi potensi darurat kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Malaysia menempatkan beberapa wilayah dalam status siaga darurat setelah indeks pencemaran udara (API) menembus angka 400, level yang membahayakan kesehatan, sementara kabut asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kian pekat. Pemerintah Malaysia menyatakan siap memberlakukan deklarasi darurat di area dengan API di atas 400, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang akan memicu evakuasi dan penutupan total aktivitas publik.
Krisis ini memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan. Sejumlah LSM di Malaysia menggelar aksi protes di depan Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, menuntut Jakarta bertindak lebih agresif memadamkan kebakaran yang melanda Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu, Indonesia dilaporkan melakukan operasi pengeboman air untuk mengendalikan titik api di dekat ibu kota baru Nusantara, namun upaya ini dinilai belum cukup untuk mengatasi luasnya area yang terbakar.
Di Sarawak, enam wilayah mencatatkan kualitas udara sangat tidak sehat pada Sabtu malam, dengan Serian menjadi zona paling parah. Meski sempat membaik tipis pada sore hari, kondisi tetap berada di level berbahaya, memaksa penduduk bekerja di bawah aturan ketat. Brunei juga dilaporkan diselimuti kabut asap, dengan semua distrik menembus level tidak sehat, sementara Singapura mulai merasakan dampaknya meski belum separah tetangganya.
Konteks Indonesia: Bagi warga Indonesia, krisis ini adalah pengingat pahit akan biaya ekonomi dan diplomatik dari praktik pembakaran lahan yang masih marak. Di tengah upaya pemerintah mengejar target investasi dan pembangunan ibu kota baru, kabut asap tidak hanya mengancam kesehatan jutaan jiwa, tetapi juga merusak citra Indonesia di mata tetangga dan dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan ribuan titik panas masih terdeteksi di wilayah rawa gambut, dan musim kemarau yang dipicu El Nino memperparah situasi.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa paparan kabut asap dalam jangka panjang dapat memicu lonjakan penyakit pernapasan, iritasi mata, dan gangguan kardiovaskular. Sejauh ini, Malaysia belum melaporkan kematian akibat kabut asap, dan jumlah kasus penyakit justru menurun, namun angka ini bisa berubah drastis jika kondisi berlanjut. Pemerintah Malaysia telah mengerahkan masker dan alat pembersih udara ke sekolah-sekolah, serta mengimbau warga untuk tetap di dalam ruangan.
Di sisi lain, Indonesia berdalih bahwa kebakaran sebagian besar terjadi di lahan konsesi swasta dan berjanji menindak tegas perusahaan yang lalai. Namun, kritik muncul karena penegakan hukum dianggap lemah, dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah masih tumpang tindih. Operasi water bombing yang dilakukan di dekat Nusantara menunjukkan keseriusan pemerintah, tetapi tanpa perubahan fundamental dalam pengelolaan lahan gambut, siklus kabut asap tahunan diprediksi akan terus berulang.
โIni bukan lagi masalah bilateral, tetapi krisis regional yang membutuhkan solusi kolektif,โ ujar seorang analis lingkungan dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya. โIndonesia harus berani mereformasi tata kelola lahan, sementara negara tetangga perlu mendukung, bukan sekadar menyalahkan.โ
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ASEAN mampu membangun mekanisme pencegahan kebakaran yang efektif, atau akankah kabut asap kembali menjadi momok tahunan yang merugikan ekonomi dan kesehatan kawasan? Dengan musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober, tekanan terhadap Indonesia untuk bertindak nyata akan semakin besar, dan kegagalan kali ini dapat merusak hubungan diplomatik yang telah dibangun dengan susah payah.



