Fulham Terpuruk: Tiga Kekalahan Beruntun, Suporter Boo, dan Tekanan Kian Menghimpit Arbeloa
Baca dalam 60 detik
- Fulham menelan kekalahan ketiga beruntun di Premier League setelah takluk 2-3 dari Crystal Palace, meski sempat unggul dua kali di babak pertama.
- Eks pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, menghadapi kritik suporter dan tekanan besar karena timnya belum mengoleksi satu poin pun dari tiga laga awal.
- Jadwal berat melawan Liverpool dan Manchester United menanti, dengan risiko Fulham terpuruk di dasar klasemen sebelum jeda internasional.

Craven Cottage menjadi saksi kekecewaan ketika Fulham harus mengakui keunggulan Crystal Palace dengan skor 2-3 pada pekan ketiga Premier League, Minggu (14/9). Kekalahan ini merupakan yang ketiga secara beruntun bagi tim asuhan Alvaro Arbeloa, dan sebagian suporter yang hadir langsung melontarkan ejekan keras kepada para pemain saat peluit panjang berbunyi. Dengan nol poin dari tiga pertandingan, Fulham kini tercatat sebagai salah satu dari dua tim yang memulai musim dengan hasil buruk, bersama Coventry City.
Arbeloa, yang ditunjuk menggantikan Marco Silva pada musim panas setelah Silva hengkang ke Benfica, belum mampu menemukan formula kemenangan. Pada laga kontra Palace, Fulham sempat unggul dua kali melalui gol Josh King dan Cesar Palacios di babak pertama. Namun, Tyrick Mitchell mencetak gol di masing-masing babak untuk menyamakan kedudukan, sebelum Ben Chilwell yang baru masuk sebagai pemain pengganti memastikan kemenangan Palace tiga menit setelah turun minum. Ini merupakan kekalahan ketiga Fulham dengan skor identik 2-3, setelah sebelumnya takluk dari Sunderland dan Chelsea.
Catatan statistik menunjukkan Fulham sebenarnya tampil dominan dengan expected goals (xG) 3,13 berbanding 1,97 milik Palace. Namun, sepak bola tidak hanya berbicara tentang peluang, melainkan juga penyelesaian akhir. Arbeloa, yang dikenal sebagai mantan bek tangguh, pasti tidak nyaman melihat timnya kebobolan tiga gol dalam tiga laga beruntun. "Kami tidak pantas kalah dalam pertandingan ini. Para pemain sudah melakukan segalanya, bersikap berani, dan menciptakan banyak peluang. Namun, mereka (Palace) mampu memanfaatkan peluang yang ada. Pada akhirnya, sepak bola adalah soal itu," ujar Arbeloa kepada BBC Match of the Day.
Kekhawatiran semakin menjadi karena jadwal Fulham ke depan tidak mudah. Setelah menghadapi Palace, anak asuh Arbeloa akan bertandang ke markas Liverpool, kemudian menjamu Manchester United di Craven Cottage. Dua laga ini akan menjadi ujian berat bagi mentalitas tim yang baru saja kehilangan kepercayaan diri. Sejarah mencatat, dari enam tim Premier League yang pernah memulai musim dengan lima kekalahan beruntun, hanya dua yang berhasil selamat dari degradasi. Jika tren negatif ini berlanjut, Fulham bisa terpuruk lebih dalam sebelum jeda internasional September-Oktober yang panjang.
Arbeloa bukanlah sosok asing dengan tekanan. Karier bermainnya yang gemilang bersama Real Madrid, Liverpool, dan West Ham, serta 56 caps bersama timnas Spanyol yang sukses meraih dua gelar Euro dan satu Piala Dunia, memberinya ketenangan dalam menghadapi situasi sulit. Namun, sebagai pelatih, ia masih perlu membuktikan diri. Sebelum menangani Fulham, Arbeloa sempat menjadi pelatih caretaker Real Madrid selama empat bulan, menggantikan Xabi Alonso, dengan catatan 18 kemenangan dari 28 pertandingan. Pengalaman itu mungkin membantunya secara mental, tetapi tidak cukup untuk mengubah hasil di atas lapangan.
Di tengah krisis, ada secercah harapan dari performa para pemain anyar. Cesar Palacios mencetak gol pertamanya untuk Fulham, sementara Gonzalo Garcia yang dipercaya menjadi ujung tombak utama, meski gagal mencetak gol kontra Palace, telah menunjukkan kontribusi dengan gol di laga debut melawan Chelsea dan di Piala EFL. "Cesar dan Gonzalo tampil hebat. Cesar mencetak gol, dan Gonzalo menunjukkan performa luar biasa. Semangat itulah yang saya inginkan dari para pemain," puji Arbeloa. Namun, pujian semata tidak akan mengubah papan klasemen yang masih menunjukkan angka nol.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Fulham ini menarik untuk disimak karena menunjukkan betapa kejamnya kompetisi level tertinggi. Tekanan langsung menghantam pelatih baru yang belum sempat membangun tim. Pertanyaan besarnya, apakah manajemen Fulham akan memberikan waktu kepada Arbeloa untuk membenahi tim, atau justru mengambil keputusan drastis seperti yang sering terjadi di Premier League? Dengan jadwal berat yang menanti, keputusan manajemen dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu arah musim Fulham.



