Kolaborasi Padamkan Karhutla Gambut di Jambi: Wamen LH Dorong Perusahaan Tiru Metode Estafet Air
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri LH Diaz Hendropriyono mengapresiasi kolaborasi multipihak yang berhasil memadamkan kebakaran lahan gambut di Tanjung Jabung Timur, Jambi.
- Metode estafet pompa air sepanjang 11 km dari Sungai Batang Hari menjadi kunci efektif membasahi gambut yang terbakar, mengalahkan cara konvensional seperti water bombing.
- Pemerintah kini mendorong perusahaan-perusahaan di sekitar titik api untuk mengadopsi praktik serupa guna mencegah karhutla berulang di masa mendatang.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, meminta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi untuk meniru metode pemadaman berbasis estafet pompa air yang terbukti efektif menjinakkan api di lahan gambut. Permintaan itu disampaikan setelah ia meninjau langsung lokasi kebakaran di Desa Parit Culum I, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan menyaksikan kolaborasi lintas sektor yang dinilainya sebagai praktik terbaik yang patut direplikasi.
Kebakaran di desa tersebut terdeteksi pertama kali pada 27 Agustus 2026 di luar wilayah konsesi PT Wirakarya Sakti (WKS), namun perusahaan bubar jalan dengan membentuk tim gabungan bersama Masyarakat Peduli Api, BPBD, TNI/Polri, serta warga sekitar. Dalam waktu empat hari, api di permukaan lahan berhasil dipadamkan, tetapi tantangan terbesar justru muncul di lapisan gambut di bawahnya yang tetap menyimpan panas dan berpotensi memicu kebakaran susulan.
Untuk menjangkau titik api di kedalaman gambut, PT WKS menginisiasi sistem pemindahan air dari Sungai Batang Hari menggunakan serangkaian pompa yang disusun berjenjang sejauh 11 kilometer hingga mencapai sekat kanal di area terdampak. Proses ini berlangsung 6โ7 hari sebelum air benar-benar tiba di lokasi, dan pemompaan terus dijalankan untuk menjaga kelembaban tanah. Metode ini dinilai lebih efektif dibandingkan water bombing yang hanya membasahi permukaan, sementara sambunesia atau alat semprot pemadaman digunakan untuk menembus lapisan gambut yang lebih dalam.
Setelah meninjau lokasi, Diaz Hendropriyono langsung mengumpulkan sejumlah perusahaan yang memiliki konsesi di sekitar titik panas. Dalam pertemuan itu, ia mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan sekat kanal dan membantu distribusi air dari sungai ke area rawan kebakaran. โSaya minta beberapa perusahaan di Jambi untuk ikut membantu bangun sekat kanal dan membantu transfer air dari sungai, kita sudah ada best practice-nya, semoga dengan ini kebakaran lahan gambut bisa diselesaikan,โ ujarnya dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Kehutanan yang sebelumnya menegaskan bahwa operasi darat menjadi andalan utama dalam menangani karhutla gambut, mengingat keterbatasan water bombing dalam menjangkau lapisan tanah yang terbakar. Bagi Indonesia, persoalan karhutla bukan sekadar bencana ekologis, melainkan juga ancaman ekonomi dan kesehatan publik yang kerap memicu kabut asap lintas batas. Keberhasilan metode estafet air di Jambi membuka peluang replikasi di provinsi lain yang memiliki karakteristik gambut serupa, seperti Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Namun, efektivitas jangka panjang tetap bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan. Pembangunan sekat kanal yang masif memerlukan investasi tidak kecil, sementara koordinasi antarperusahaan dan pemerintah daerah harus berjalan konsisten, bukan hanya saat musim kemarau tiba. Pertanyaannya, mampukah model kolaborasi yang berhasil di Tanjung Jabung Timur ini menjadi standar nasional, atau akan kembali menjadi catatan keberhasilan sesaat yang tenggelam ketika hujan turun?



