Marinir TNI AL Uji MLRS Vampire di Super Garuda Shield: Sinyal Modernisasi Alutsista?
Baca dalam 60 detik
- Korps Marinir menembakkan roket kaliber 122 mm dari sistem Vampire di Puslatpur Baturaja, Sumatera Selatan, dalam rangkaian SGS 2026.
- Latihan bersama 21 negara ini menjadi ajang unjuk kemampuan alutsista dalam negeri di hadapan mitra asing, termasuk AS yang membawa HIMARS.
- Keberhasilan uji tembak ini diharapkan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam diplomasi pertahanan dan mendorong industri pertahanan nasional.

Korps Marinir TNI Angkatan Laut menguji sistem peluncur roket MLRS Vampire kaliber 122 mm dalam latihan penembakan di Pusat Latihan Tempur Baturaja, Sumatera Selatan, Jumat (4/9). Aksi ini menjadi bagian dari Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (SGS) 2026 yang melibatkan ribuan personel dari puluhan negara.
Penembakan tersebut bukan sekadar demonstrasi kekuatan. Bagi TNI AL, ini adalah uji sesungguhnya terhadap kesiapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sekaligus kompetensi prajurit yang mengoperasikannya. Dalam ajang yang sama, Amerika Serikat turut memamerkan M142 HIMARS, sistem roket artileri berteknologi tinggi, sehingga terjadi perbandingan langsung antara alutsista lokal dan buatan asing.
Super Garuda Shield tahun ini berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September 2026. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyebut latihan tahunan ini diikuti 4.743 personel dari 21 negara dengan 12 materi latihan. Negara-negara peserta antara lain Australia, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Prancis, dan Brasil, menjadikan SGS salah satu latihan militer terbesar di kawasan.
Bagi Indonesia, partisipasi dalam SGS memiliki dimensi strategis yang lebih luas. Di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik, latihan ini menjadi instrumen diplomasi pertahanan untuk memperkuat kepercayaan antarnegara. Kehadiran alutsista seperti Vampire yang diuji di hadapan mitra asing juga menjadi sinyal bahwa Indonesia serius memodernisasi kekuatan militernya secara mandiri.
Menurut pengamat militer, pengujian alutsista dalam latihan gabungan semacam ini memberikan umpan balik berharga bagi industri pertahanan nasional. Data performa yang dikumpulkan dapat digunakan untuk pengembangan sistem berikutnya, sekaligus membuktikan keandalan produk lokal di mata calon pembeli. Namun, tantangan terbesar tetap pada kesinambungan anggaran dan transfer teknologi.
Seluruh rangkaian latihan dilaporkan berjalan lancar tanpa insiden berarti. Hal ini menunjukkan profesionalisme personel TNI dalam mengoperasikan peralatan canggih di lingkungan multinasional. Hubungan antarprajurit dari berbagai negara juga disebut berjalan harmonis, memperkuat aspek people-to-people contact yang sering kali menjadi fondasi kerja sama pertahanan jangka panjang.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Indonesia mampu mengoperasikan alutsista modern, tetapi sejauh mana latihan semacam ini dapat mendorong kemandirian industri pertahanan. Dengan semakin seringnya TNI terlibat dalam latihan internasional, tekanan untuk mempercepat modernisasi alutsista akan terus meningkat. Apakah Indonesia akan beralih dari sekadar pengguna menjadi produsen yang diperhitungkan di kawasan? Jawabannya bergantung pada konsistensi kebijakan dan komitmen pendanaan di tahun-tahun mendatang.



