Jefferson-Wooden Kalahkan Alfred di Silesia, Seville Kuasai Sprint Putra
Baca dalam 60 detik
- Juara dunia Melissa Jefferson-Wooden memutus tren kemenangan Julien Alfred di nomor 100 meter putri dengan catatan waktu 10,78 detik.
- Oblique Seville tampil impresif dengan 9,83 detik di nomor sprint putra, menegaskan kesiapannya menjelang Kejuaraan Dunia Atletik di Budapest.
- Kekalahan perdana Alfred musim ini membuka persaingan baru di nomor sprint putri jelang ajang internasional berikutnya.

SILESIA, Polandia โ Persaingan sprint putri dunia kembali memanas. Juara dunia Melissa Jefferson-Wooden sukses mematahkan dominasi peraih emas Olimpiade Julien Alfred pada ajang Silesia Diamond League, Minggu (23/8). Kemenangan dengan catatan waktu 10,78 detik itu sekaligus menjadi kekalahan perdana Alfred musim ini.
Lomba yang mempertemukan tiga besar Olimpiade dan Kejuaraan Dunia itu berlangsung ketat. Jefferson-Wooden langsung memimpin sejak start dan tak pernah membiarkan lawannya mendekat. Alfred yang berusaha mengejar di garis finis harus puas menempati posisi kedua dengan waktu 10,83 detik, yang juga merupakan catatan terbaiknya musim ini. Sementara peraih perak Olimpiade Sha'Carri Richardson melengkapi podium ketiga dengan 10,96 detik.
Kekalahan ini menghentikan rentetan kemenangan Alfred di nomor 100 dan 200 meter sepanjang musim. Meski mengakui kualitas lomba yang luar biasa, pelari asal Saint Lucia itu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Berlaga di race sehebat ini terasa luar biasa. Saya sangat merindukannya," ujarnya. "Tapi saya di posisi kedua, jadi kata 'hebat' kurang tepat. Lebih tepatnya kecewa."
Di nomor sprint putra, juara dunia Oblique Seville tampil perkasa. Pelari Jamaika itu mencatat waktu 9,83 detik, unggul tipis atas Kenny Bednarek dari Amerika Serikat yang finis kedua dengan 9,87 detik. Christian Coleman, mantan juara dunia, harus puas di posisi ketiga. Penampilan ini menjadi sinyal positif bagi Seville menjelang World Athletics Ultimate Championships di Budapest bulan depan, setelah sebelumnya finis kedua di London.
Persaingan sengit juga terjadi di nomor 400 meter gawang putra. Alison Dos Santos dari Brasil berhasil mengalahkan pemegang rekor dunia Karsten Warholm dengan waktu 46,43 detik. Keduanya bertarung ketat hingga tikungan terakhir, namun Dos Santos mampu melompati gawang terakhir lebih dulu dan mempertahankan keunggulannya. Warholm yang baru saja mempertahankan gelar juara Eropa di Birmingham pekan lalu, harus puas dengan waktu 46,52 detik.
Di nomor 400 meter putri, juara Olimpiade Marileidy Paulino tampil dominan. Pelari Republik Dominika itu mencatat waktu 48,87 detik, meninggalkan Nickisha Pryce dari Jamaika di posisi kedua dan Salwa Eid Naser dari Bahrain di posisi ketiga. Sementara di nomor 1.500 meter putri, Tsige Duguma dari Ethiopia mencuri perhatian dengan sprint akhir yang luar biasa. Ia berhasil melewati Jessica Hull dari Australia di garis finis dengan catatan waktu 3:55.06, sebuah personal best.
Duel yang dinanti di nomor 1.500 meter putra antara Cole Hocker dan Jakob Ingebrigtsen tak berjalan sesuai prediksi. Keduanya justru harus bersaing untuk memperebutkan posisi ketiga. Hocker finis lebih dulu dari Ingebrigtsen, sementara kemenangan diraih Ethan Strand dari Amerika Serikat dengan waktu 3:30.77, mengungguli Phanuel Kipkosgei Koech dari Kenya.
Yaroslava Mahuchikh, juara Olimpiade dan pemegang rekor dunia lompat tinggi putri, menjadi satu-satunya atlet yang berhasil melewati ketinggian 2.00 meter. Kemenangan ini terasa spesial karena bertepatan dengan Hari Bendera Nasional Ukraina. "Saya senang bisa mewakili Ukraina, ini sangat penting bagi saya mengingat perang yang sudah berlangsung lebih dari empat tahun," ujarnya. "Hari ini adalah hari bendera Ukraina dan ini membuat kemenangan saya lebih istimewa."
Mondo Duplantis kembali memenangkan nomor lompat galah, namun gagal memecahkan rekor dunianya untuk ke-16 kalinya. Setelah melewati 6.20 meter, ia mencoba ketinggian 6.32 meter namun gagal pada percobaan pertamanya dan memutuskan untuk mengakhiri perlombaan. Meski bukan bagian dari Diamond League, kehadiran Duplantis tetap menyedot perhatian penonton di Silesia Stadium.
Bagi atlet-atlet Indonesia, hasil ini menjadi bahan evaluasi penting. Meski belum ada wakil Indonesia di ajang ini, performa para atlet top dunia menunjukkan standar yang harus dikejar. Federasi Atletik Indonesia (PASI) dapat menjadikan catatan waktu ini sebagai tolok ukur dalam pembinaan atlet sprint nasional, terutama dalam menghadapi SEA Games dan Asian Games mendatang.
Dengan semakin dekatnya World Athletics Ultimate Championships di Budapest, persaingan di lintasan diprediksi akan semakin ketat. Mampukah Alfred bangkit dan merebut kembali dominasinya? Atau akankah Jefferson-Wooden dan Seville menjadi ancaman serius bagi para favorit? Jawabannya akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan.



