China Bela Iran, tapi Tak Mau Sampai Merusak Hubungan dengan AS
Baca dalam 60 detik
- Beijing diprediksi membatasi dukungannya untuk Teheran demi menjaga hubungan dagang dengan Washington dan negara Teluk.
- Investasi China di Iran yang dijanjikan US$400 miliar nyaris tidak terealisasi, menunjukkan kehati-hatian terhadap risiko sanksi AS.
- Ekspor minyak Iran ke China merosot drastis, tetapi Beijing memiliki banyak pemasok alternatif seperti Arab Saudi dan Rusia.

China tetap menjadi salah satu penyangga utama ekonomi Iran di tengah tekanan sanksi dan ancaman militer Amerika Serikat. Namun, Beijing diperkirakan tidak akan memberikan dukungan tanpa batas, mengingat kepentingan yang lebih luas dengan Washington dan negara-negara Teluk yang menjadi mitra dagang utama.
Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Iran, membantu Teheran bertahan dari isolasi internasional. Meski secara vokal menentang sanksi AS, para analis menilai Beijing tidak akan mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Amerika demi mempertahankan Iran. Hongda Fan, direktur Pusat China-Timur Tengah di Universitas Shaoxing, mengatakan bahwa China hanya bisa mendorong de-eskalasi konflik AS-Iran, tetapi tidak akan terlibat dalam pertarungan sengit dengan Washington untuk kepentingan Teheran. "Konflik AS-Iran pada akhirnya harus diselesaikan oleh kedua negara itu sendiri," ujarnya.
Ketergantungan ekonomi kedua negara memang tidak seimbang. Iran sangat membutuhkan China, sementara Beijing memiliki banyak alternatif pemasok energi seperti Arab Saudi, Rusia, Irak, dan Uni Emirat Arab. Kondisi ini membuat perusahaan-perusahaan besar China seperti Sinopec dan PetroChina enggan membeli minyak Iran karena takut terkena sanksi. Perdagangan lebih banyak dilakukan oleh kilang-kilang independen kecil yang tidak terhubung dengan sistem keuangan global berbasis dolar.
Secara politik, China memang menentang sanksi sekunder AS dan membela kepentingan komersialnya di Iran. Namun, Zichen Wang dari Center for China and Globalization (CCG) menegaskan bahwa sikap tersebut tidak berarti Beijing siap menopang ekonomi Iran tanpa batas. Bank-bank besar dan perusahaan milik negara China tetap sangat berhati-hati terhadap risiko sanksi Amerika. Batas dukungan ini juga terlihat dari realisasi investasi yang jauh dari janji awal.
Tekanan AS terhadap ekspor minyak Iran semakin terasa. Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak mentah Iran melalui Selat Hormuz, yang sebagian besar ditujukan ke China, merosot tajam dari sekitar 1,85 juta barel per hari pada Maret-April menjadi hanya 240.000 barel per hari pada Agustus. Meski minyak Iran penting bagi Teheran, Beijing masih bisa mendapatkan pasokan dari negara lain. Mordechai Chaziza, pakar kebijakan China di Timur Tengah, menilai bahwa Iran memang berharga bagi China, tetapi perannya bisa digantikan. "Minyak Iran penting, tetapi China bisa mendapatkannya dari Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, dan banyak pemasok lainnya," katanya.
China juga tidak ingin dukungannya terhadap Iran mengorbankan hubungan dengan Arab Saudi dan UEA, yang merupakan mitra penting di bidang energi dan perdagangan. Karena itu, kepentingan utama Beijing adalah menjaga Iran tetap stabil dan terhubung secara ekonomi, tetapi tidak sampai memaksa Teheran memilih kubu dalam konflik dengan AS, Israel, atau negara-negara Teluk. Kerri Bitsoff, mantan pejabat senior Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS, melihat hubungan China-Iran lebih bersifat pragmatis daripada aliansi. "Ini bukan bentuk aliansi sebagaimana yang dibayangkan sebagian orang, meskipun ada dukungan nyata. Saya lebih melihatnya sebagai hubungan pelanggan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh Iran," ujarnya.
Kehati-hatian Beijing juga dipengaruhi oleh pentingnya hubungan China-AS. Pada 14-15 Mei 2026, Trump dan Xi bertemu di Beijing untuk membahas isu bilateral, termasuk perdagangan. Keduanya dijadwalkan kembali bertemu pada 24 September 2026. Dengan agenda sebesar itu, Beijing memiliki kepentingan untuk menjaga agar dukungannya terhadap Iran tidak berkembang menjadi konfrontasi langsung dengan Washington.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi negara sebagai importir minyak dan anggota non-blok yang kerap menjalin hubungan dagang dengan semua pihak. Ketegangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi harga minyak global dan stabilitas pasokan energi dalam negeri. Selain itu, sikap China yang pragmatis menunjukkan bahwa aliansi ekonomi sering kali lebih menentukan daripada retorika politik, sebuah pelajaran yang bisa diambil dalam konteks hubungan internasional yang semakin kompleks.



