Pilot TNI dan AS Asah Kemampuan Terbang Malam dengan Apache di Sumatera Selatan
Baca dalam 60 detik
- Latihan bersama Super Garuda Shield 2026 mencakup simulasi penerbangan malam menggunakan helikopter AH-64 Apache di Martapura, Sumatera Selatan.
- Partisipasi 21 negara dengan 4.743 personel menegaskan posisi Indonesia sebagai poros diplomasi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik.
- Fokus pada interoperabilitas dan kesiapan operasional diharapkan memperkuat pertahanan Indonesia menghadapi dinamika keamanan regional.

Puluhan penerbang TNI Angkatan Darat dan personel US Army menjalani latihan terbang malam dengan helikopter serang AH-64 Apache di Pusat Latihan Tempur TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan, Rabu (2/9). Sesi yang berlangsung dalam kerangka Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield 2026 ini dirancang untuk mempertajam kemampuan manuver taktis dan penembakan sasaran dalam kondisi minim cahaya, sekaligus menguji kesiapan operasional kedua angkatan bersenjata.
Latihan ini bukan sekadar rutinitas militer. Ia menjadi bagian dari agenda besar yang melibatkan 4.743 personel dari 21 negara, berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September 2026 di sejumlah wilayah Indonesia. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyebutkan terdapat 12 materi latihan yang diujikan, mulai dari taktik infanteri, operasi amfibi, hingga penerbangan malam seperti yang baru saja digelar.
Yang menarik, dalam sesi ini TNI dan US Army menggunakan platform yang sama, AH-64 Apache, sebuah helikopter serang andalan yang dimiliki kedua negara. Hal ini memungkinkan para pilot untuk bertukar teknik dan pengalaman secara langsung, sebagaimana diungkapkan dalam siaran resmi Pusat Penerangan Mabes TNI. "Penerbangan dan manuver taktis hingga penembakan sasaran dalam skenario operasi, termasuk kemampuan mengoperasikan Helikopter Apache AH-64 pada malam hari," demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari keterangan resmi tersebut.
Bagi Indonesia, latihan semacam ini memiliki nilai strategis yang tidak bisa dianggap remeh. Di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar di Indo-Pasifik, kemampuan menerbangkan platform tempur canggih secara interoperabel dengan mitra asing menjadi aset penting. Kehadiran 21 negara, termasuk Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar tuan rumah, melainkan aktor yang diperhitungkan dalam arsitektur keamanan kawasan.
Namun, di balik gemerlapnya latihan gabungan, terdapat catatan yang perlu direnungkan. Sebagian besar materi yang diuji menggunakan alutsista buatan Amerika Serikat, seperti Apache. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang ketergantungan Indonesia pada teknologi asing. Meskipun interoperabilitas meningkat, kemandirian industri pertahanan nasional masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Jenderal Agus sendiri menegaskan bahwa latihan ini merupakan agenda tahunan yang digelar di berbagai wilayah Indonesia. "Super Garuda Shield ini dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Yang hadir ada 21 negara tahun ini," ujarnya saat membuka latihan di Bandung, Senin (31/8). Ia menambahkan bahwa latihan ditutup di Jakarta pada 11 September, menandai puncak dari serangkaian aktivitas yang telah berlangsung selama dua pekan.
Ke depan, keberhasilan Super Garuda Shield akan diukur bukan hanya dari kelancaran teknis di lapangan, tetapi juga dari seberapa besar kontribusinya terhadap stabilitas kawasan. Apakah latihan ini mampu menjadi katalis bagi lahirnya mekanisme keamanan bersama yang lebih inklusif di Indo-Pasifik? Atau justru akan semakin mempertegas polarisasi blok militer? Jawabannya masih menggantung, menunggu arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan yang baru.



