Saat Influencer Menguasai Tribun US Open: Antara Popularitas dan Etika Tenis
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 100 kreator konten bersertifikat hadir di US Open 2025, memicu perdebatan tentang batas antara hiburan dan sportivitas.
- Insiden foto saat Naomi Osaka dan Madison Keys bermain memaksa petenis top angkat bicara soal perlunya regulasi yang lebih ketat.
- Fenomena ini mencerminkan tarik-menarik antara upaya menjangkau generasi muda dan menjaga martabat olahraga kelas dunia.

New York, 3 September 2025 โ Gelaran US Open tahun ini tidak hanya menyajikan duel sengit di lapangan, tetapi juga pertarungan tak kasat mata di tribun: antara penggemar setia tenis dan gerombolan kreator konten yang berlomba mengabadikan momen untuk konsumsi media sosial. Kehadiran mereka yang masif memunculkan pertanyaan serius tentang sejauh mana batas antara mempopulerkan olahraga dan mengganggu konsentrasi atlet yang sedang bertanding.
Penyelenggara turnamen mengungkapkan bahwa sekitar 100 kreator konten diberikan akreditasi khusus, dengan 20 di antaranya bahkan bertugas khusus meliput kuliner, mulai dari chicken nugget dengan topping kaviar hingga koktail khas "Honey Deuce" yang dijamin viral. Ribuan pengguna media sosial amatir lainnya juga memadati area plaza dan tribun setelah membeli tiket sendiri, menjadikan turnamen ini ajang "lihat dan dilihat" yang sesungguhnya.
Namun, cinta segitiga antara influencer, turnamen, dan para pemain mulai menunjukkan gejala yang tidak sehat. Pada babak pertama, wasit kursi terpaksa menegur sekelompok penonton yang menggelar sesi foto di tengah servis Naomi Osaka. Pekan berikutnya, seorang pengguna media sosial memposting serangkaian foto di dalam Arthur Ashe Stadium saat Madison Keys sedang bersiap memukul bolaโsebuah pelanggaran etika tenis yang mendasar.
Osaka, yang dua kali menjadi juara di Flushing Meadows, menilai bahwa kehadiran kreator konten sebenarnya bisa menjadi angin segar untuk memperluas basis penggemar tenis. Namun, ia menegaskan bahwa hal ini harus dikelola dengan lebih baik. "Jika Anda datang ke acara olahraga, Anda harus menghormati olahraga itu sendiri," ujarnya. Ia mencontohkan insiden di babak pertama yang dianggapnya mengganggu ritme permainan.
Pendapat senada disampaikan Jessica Pegula, finalis edisi 2024. Menurutnya, influencer memang membantu mempromosikan pengalaman US Open, tetapi ketika mereka menggunakan lampu selfie dan berfoto di tengah pertandingan, hal itu terasa tidak menghormati para atlet yang sedang bekerja. "Sepertinya sudah keterlaluan," katanya, menyiratkan kekesalan yang mendalam.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari strategi tur tenis dalam menjangkau generasi muda. Asosiasi Tenis Profesional (ATP) telah memperluas kemitraan dengan TikTok, dan melaporkan peningkatan lebih dari 25 persen unggahan dengan tagar #tenis sepanjang 2025. Daniil Medvedev, juara 2021, menyambut baik peningkatan popularitas ini, tetapi juga mengingatkan bahwa jika ada gangguan seperti kilatan cahaya saat poin sedang berlangsung, pemain selalu bisa melapor ke wasit.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Dengan semakin dekatnya penyelenggaraan turnamen internasional di kawasan Asia Tenggara, termasuk potensi Indonesia menjadi tuan rumah ajang serupa, pengelolaan interaksi antara penonton dan atlet menjadi krusial. Budaya selfie dan konten instan memang menggiurkan, tetapi regulasi yang jelas dan penegakan aturan yang tegas di tribun akan menentukan apakah sebuah turnamen dipandang profesional atau sekadar panggung hiburan semata.
Ke depan, US Open dan turnamen Grand Slam lainnya dituntut untuk mencari keseimbangan: antara memanfaatkan gelombang kreator konten untuk mendongkrak popularitas dan menjaga agar esensi olahraga tidak tergerus. Apakah akan ada aturan baru yang membatasi pergerakan influencer di area tribun, atau justru menciptakan zona khusus bagi mereka? Pertanyaan ini menggantung, menunggu keputusan bijak dari para pengambil kebijakan olahraga dunia.



