Empat Korps Marinir Uji Akurasi Tembak di Lampung, Sinyal Penguatan Aliansi Indo-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Latihan menembak bersama Marinir Indonesia, AS, Jepang, dan Korea Selatan berlangsung di Teluk Pandan, Lampung, sebagai bagian dari Super Garuda Shield 2026.
- Ajang yang melibatkan 4.743 personel dari 21 negara ini menegaskan posisi Indonesia sebagai poros diplomasi pertahanan kawasan.
- Ke depan, kapasitas tempur dan interoperabilitas TNI diuji untuk menjawab dinamika keamanan regional yang semakin kompleks.

Sebanyak empat korps marinir dari Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan mengasah kemampuan menembak dalam latihan bersama yang berlangsung di Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Kamis (3/9/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (SGS) 2026 ini bukan sekadar uji akurasi, melainkan cermin penguatan interoperabilitas militer di kawasan Indo-Pasifik yang kian dinamis.
Latihan yang dinamakan Infantry Marksmanship Training Program (IMTP) ini mempertemukan prajurit Marinir TNI AL, United States Marine Corps (USMC), Amphibious Rapid Deployment Brigade (ARDB) Jepang, dan Republic of Korea Marine Corps (ROK MC). Dalam sesi tersebut, para prajurit dilatih menembak dalam posisi statis dan bergerak, termasuk teknik mengisi ulang amunisi dengan cepat tanpa kehilangan akurasi. Setiap korps bergantian menunjukkan kemampuan, dan seluruh rangkaian berjalan tanpa insiden berarti.
Super Garuda Shield 2026 sendiri merupakan latihan militer terbesar yang digelar Indonesia, berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September di sejumlah wilayah, termasuk Bandung, Jakarta, Lampung, Baturaja di Sumatera Selatan, dan Nunukan di Kalimantan Utara. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyebut partisipasi 21 negara dengan total 4.743 personel serta 12 materi latihan menjadi bukti kepercayaan internasional terhadap Indonesia. "Super Garuda Shield ini dilaksanakan setiap tahun di Indonesia," ujarnya saat pembukaan di Bandung, Senin (31/8).
Di luar aspek teknis militer, latihan ini memiliki makna strategis yang lebih luas. Kehadiran negara-negara seperti Australia, Inggris, Jerman, Kanada, hingga Prancis menunjukkan bahwa Indonesia semakin menjadi simpul penting dalam arsitektur keamanan regional. Bagi Indonesia, ajang ini bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tetapi juga sarana diplomasi pertahanan yang memperkuat posisi tawar di tengah rivalitas kekuatan besar. Keikutsertaan Jepang dan Korea Selatan, dua sekutu utama AS di Asia Timur, menegaskan bahwa Poros maritim dunia mulai melihat Indonesia sebagai mitra yang kredibel.
Bagi publik Indonesia, latihan ini berdampak langsung pada kesiapsiagaan TNI dalam menghadapi spektrum ancaman, mulai dari terorisme hingga sengketa maritim. Kolaborasi dengan pasukan asing juga membuka ruang transfer teknologi dan taktik, yang pada gilirannya memperkuat industri pertahanan nasional. Namun, di sisi lain, intensitas latihan militer asing di dalam negeri kerap memicu perdebatan tentang kedaulatan dan netralitas Indonesia di tengah persaingan AS-China. Pemerintah perlu terus mengomunikasikan manfaat strategis dari keterbukaan ini kepada publik.
Keberhasilan pelaksanaan SGS 2026 sejauh ini menunjukkan bahwa TNI mampu menjadi tuan rumah bagi latihan multilateral berskala besar. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kemandirian pertahanan, bukan sekadar menjadi lokasi latihan. Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah, kemampuan Indonesia untuk menyeimbangkan hubungan dengan berbagai kekuatan akan menjadi kunci. Apakah latihan tahunan ini akan terus menjadi ajang unjuk kekuatan, atau justru menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk memimpin inisiatif keamanan kawasan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi langkah yang diambil hari ini akan menentukan posisi Indonesia di panggung global.



