Usai Insiden Jakarta, MAG Wajibkan Tes Narkoba Tahunan untuk Pilot dan Awak Kabin
Baca dalam 60 detik
- Malaysia Aviation Group (MAG) kini menerapkan skrining narkoba tahunan yang wajib bagi seluruh pilot dan awak kabin, menggantikan kebijakan tes satu kali sebelumnya.
- Langkah ini dipicu oleh penangkapan seorang kopilot di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, pada akhir Juli lalu, dan diikuti hasil negatif dari 1.260 pilot aktif Malaysia Airlines.
- Kebijakan ini berpotensi memengaruhi standar keselamatan penerbangan di kawasan, termasuk menjadi acuan bagi maskapai Indonesia dalam memperketat pengawasan personelnya.

Malaysia Aviation Group (MAG), induk usaha Malaysia Airlines, resmi mewajibkan tes narkoba tahunan bagi seluruh pilot dan awak kabinnya. Kebijakan ini menggantikan prosedur skrining satu kali yang sebelumnya berlaku, sebagai respons atas insiden penangkapan seorang kopilot di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, pada akhir Juli lalu.
Presiden dan CEO MAG, Kapten Nasaruddin A Bakar, mengonfirmasi perubahan ini dalam konferensi pers di Kuala Lumpur, Jumat (4/9). Selain tes tahunan, MAG juga menjalankan pemeriksaan acak mingguan untuk komunitas pilot. "Kami sebelumnya melakukan skrining satu kali, tetapi sekarang menjadi prosedur wajib setahun sekali bagi semua pilot dan awak kabin. Kami juga melakukan tes acak setiap minggu, dan hasilnya negatif," ujarnya.
Hingga saat ini, 98,8% awak kabin MAG telah menjalani tes narkoba dengan hasil nihil positif. Sisa karyawan dijadwalkan menjalani pemeriksaan pada hari yang sama. Langkah ini merupakan kelanjutan dari tes massal yang dilakukan terhadap 1.260 pilot aktif Malaysia Airlines pada pertengahan Agustus, yang semuanya dinyatakan negatif. Insiden di Jakarta menjadi pemicu utama dilakukannya pengawasan lebih ketat terhadap personel penerbangan.
Di luar isu keselamatan, MAG juga mengumumkan rencana ekspansi jaringan. Malaysia Airlines akan kembali melayani rute ke Busan, Korea Selatan, pada Desember mendatang, sementara anak usahanya, Firefly, baru saja membuka rute perdana ke Kunming, China. Nasaruddin menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari penguatan jejak maskapai di Asia Timur. "Dengan menghubungkan kembali Kuala Lumpur dengan pasar utama ini, kami meningkatkan jaringan regional dan memberikan fleksibilitas lebih bagi pelanggan," katanya.
Di sisi lain, MAG menghadapi tekanan biaya operasional yang signifikan akibat lonjakan harga bahan bakar jet. Nasaruddin menyebut harga sempat mencapai puncak US$230 per barel sebelum stabil di kisaran US$160. "Kejutan harga bahan bakar ini berdampak pada banyak industri di dunia, bukan hanya maskapai. Kami berharap dukungan pemerintah dapat membantu kami mengelola jaringan dengan baik," ujarnya. Menjelang penyusunan Anggaran 2027, MAG tengah berdiskusi dengan pemerintah federal untuk mencari keringanan, termasuk penyesuaian biaya terkait bandara.
Untuk memperkuat layanan, MAG juga meresmikan MAG Culinary Solutions (MAGCS), anak usaha yang mengelola katering penerbangan. Sejak menginsourcing operasi katering pada 2023, kepuasan pelanggan terhadap makanan dan minuman naik dari 72% menjadi 78% pada 2026, dengan ketepatan waktu katering konsisten di angka 99,9%. MAGCS tengah membangun fasilitas katering baru yang ditargetkan beroperasi pada 2029, dengan kapasitas produksi sekitar 50.000 makanan per hariโhampir dua kali lipat kapasitas saat iniโserta menciptakan lapangan kerja baru.
Bagi Indonesia, kebijakan MAG ini menjadi sinyal penting. Maskapai di kawasan, termasuk Indonesia, mungkin perlu mengevaluasi prosedur skrining narkoba mereka untuk menjaga standar keselamatan yang setara. Insiden di Jakarta yang memicu kebijakan ini juga menjadi pengingat bahwa pengawasan personel penerbangan harus bersifat berkelanjutan, bukan hanya reaktif. Pertanyaannya, apakah regulator dan maskapai di Indonesia akan mengadopsi langkah serupa untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap industri penerbangan nasional?



