Desain Urinal di Stasiun MRT Singapura Tuai Kritik: SBS Transit Janji Tinjau Ulang
Baca dalam 60 detik
- Foto enam urinal yang saling berhadapan di Stasiun Farrer Park memicu perdebatan publik soal kelayakan desain fasilitas umum.
- Pendiri World Toilet Organization, Jack Sim, membuktikan langsung bahwa jarak antar urinal terlalu sempit, berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.
- SBS Transit berkomitmen melakukan perbaikan, namun penyesuaian desain membutuhkan waktu dan perencanaan matang agar tidak mengganggu pengguna.

Keputusan desain yang buruk pada fasilitas publik kerap kali baru disadari setelah menuai protes. Hal serupa kini menimpa operator transportasi Singapura, SBS Transit, yang tengah mengkaji ulang tata letak urinal di Stasiun MRT Farrer Park setelah foto-foto yang memperlihatkan enam urinal dipasang terlalu berdekatan dan saling berhadapan viral di media sosial.
Foto yang beredar menunjukkan urinal-urinal tersebut hanya berjarak sangat dekat, sehingga dua orang yang menggunakannya secara bersamaan akan kesulitan bergerak, bahkan punggung mereka bisa bersentuhan. Kondisi ini dinilai tidak ergonomis dan berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pengguna. Kritik pun bermunculan di platform seperti Facebook dan Reddit, banyak yang mempertanyakan bagaimana desain semacam ini bisa lolos proses persetujuan.
Menanggapi sorotan publik, SBS Transit melalui juru bicaranya, Grace Wu, menyatakan pihaknya telah mengetahui masalah ini dan sedang meninjau kemungkinan perbaikan. "Setiap pekerjaan perlu direncanakan dengan hati-hati untuk meminimalkan ketidaknyamanan bagi penumpang. Kami mohon kesabaran dan pengertian penumpang karena ini mungkin memakan waktu," ujarnya, Kamis (3/9).
Jack Sim, pendiri World Toilet Organization (WTO), menjadi salah satu yang paling vokal mengkritik desain tersebut. Awalnya, ia mengira foto-foto itu telah direkayasa digital. Rasa penasarannya membawanya untuk mengunjungi langsung toilet di stasiun tersebut. Setelah melihat sendiri, ia mengonfirmasi bahwa desainnya memang tidak masuk akal. "Bahkan dengan akal sehat, desain ini tidak akan berfungsi," tegasnya.
Sim menjelaskan bahwa desain seperti ini akan menyulitkan pengguna. "Dengan desain ini, pasti akan ada orang yang berjalan masuk ke urinal yang lebih dalam, dan sebelum dia bisa keluar, dia harus menunggu orang lain selesai," paparnya. Ia menekankan perlunya koridor yang cukup untuk memudahkan pergerakan pengguna. Sim, yang organisasinya kerap memberikan masukan kepada pembuat kebijakan di berbagai negara, menilai perlu ada perubahan desain segera.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa detail kecil dalam infrastruktur publik, sekecil apa pun, dapat berdampak besar pada kenyamanan dan kepuasan pengguna. Di Indonesia, kasus serupa juga sering terjadi, mulai dari desain toilet di rest area tol hingga fasilitas umum lainnya yang seringkali mengabaikan aspek ergonomi dan aksesibilitas. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan yang matang dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pengguna, sangatlah krusial.
Pakar desain interior dan fasilitas publik di Jakarta, Andi Wijaya, menilai bahwa kesalahan desain seperti ini seringkali terjadi karena kurangnya uji coba dan simulasi penggunaan. "Desain yang baik seharusnya mempertimbangkan berbagai skenario penggunaan, termasuk pengguna dengan berbagai ukuran tubuh dan kebutuhan khusus. Sayangnya, hal ini seringkali terabaikan," ujarnya.
Langkah SBS Transit untuk meninjau ulang desain merupakan respons yang tepat. Namun, publik tentu berharap perbaikan tidak hanya bersifat kosmetik, melainkan benar-benar mengakomodasi kebutuhan pengguna secara menyeluruh. Pertanyaannya, apakah kejadian ini akan menjadi pelajaran bagi pengelola infrastruktur lain di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk lebih memperhatikan detail desain yang humanis?



