Prabowo di EEF Vladivostok: Gotong Royong dan Pepatah Rusia, Sinyal Perkuat Kemitraan Strategis
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memaknai pepatah Rusia 'Odin v pole ne voin' sebagai padanan filosofis gotong royong dalam pidatonya di EEF ke-11.
- Pidato tersebut menjadi panggung bagi Prabowo untuk mendorong institusionalisasi hubungan bilateral RI-Rusia di bidang perdagangan, konektivitas, dan sistem pembayaran.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya Indonesia menyeimbangkan diplomasi di tengah rivalitas kuasa besar, dengan fokus pada manfaat konkret bagi rakyat.

Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan arah kebijakan luar negerinya yang pragmatis dengan merangkai diplomasi melalui persamaan nilai budaya. Di hadapan para pemimpin Asia dan Rusia dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Kamis (5/9), ia menyandingkan pepatah Rusia kuno 'Odin v pole ne voin' dengan konsep gotong royong yang lekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Bagi Prabowo, dua frasa dari bahasa yang berbeda itu sama-sama mengandung pesan universal tentang kekuatan kolektif dalam mencapai tujuan.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika pemanis pidato. Dalam forum yang juga dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin, Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang, serta sejumlah pemimpin kawasan, Prabowo secara eksplisit mengajak Rusia untuk melembagakan kedekatan personal yang telah terjalin lama. Ia menyebut sejumlah bidang yang ingin diperluas: perjanjian perdagangan bebas (FTA), koridor transportasi, sinkronisasi sistem pembayaran, hingga proyek-proyek industri bersama. Ini sinyal bahwa Jakarta serius menaikkan level hubungan bilateral dari sekadar wacana menjadi kesepakatan yang terukur.
Pilihan Vladivostok sebagai panggung diplomasi bukan kebetulan. Kota pelabuhan di Timur Jauh Rusia itu tengah digarap Moskow sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang menghadap Asia-Pasifik. Bagi Indonesia, kehadiran Prabowo di forum ini mempertegas strategi diversifikasi mitra dagang dan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Apalagi, Rusia tengah menghadapi tekanan sanksi Barat, sementara Indonesia membutuhkan akses pasar dan teknologi untuk mendorong hilirisasi industri.
Yang menarik, Prabowo tidak hanya berbicara tentang angka dan perjanjian. Ia merangkai pidatonya dengan narasi kemanusiaan yang menyentuh: "Agar seorang nelayan di Indonesia dan seorang pembuat kapal di Rusia dapat melihat anak-anak mereka dan percaya hari esok akan lebih baik dari hari ini." Kalimat ini bukan sekadar pemanis, melainkan penegasan bahwa setiap kerja sama antarnegara pada akhirnya harus berujung pada kesejahteraan warga biasa. Ini sejalan dengan janji kampanyenya untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja.
- EEF ke-11 digelar di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia.
- Prabowo berbagi panggung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Wakil PM China Ding Xuexiang, PM Mongolia, dan Wakil Presiden Myanmar.
- Pidato Prabowo menekankan perluasan kerja sama di bidang FTA, transportasi, sistem pembayaran, dan industri.
- Forum ini menjadi ajang Indonesia memperkuat posisi di kawasan Asia-Pasifik di tengah rivalitas kuasa besar.
Para pengamat hubungan internasional menilai langkah Prabowo ini sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan diplomasi Indonesia di antara dua kutub kekuatan, Amerika Serikat dan China. Rusia, yang kini semakin dekat dengan Beijing, menjadi mitra yang tidak bisa diabaikan. Dengan menjalin hubungan yang lebih erat dengan Moskow, Indonesia berusaha mengamankan kepentingan nasionalnya tanpa harus terjebak dalam salah satu blok. Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana Jakarta akan menyikapi potensi benturan dengan sanksi Barat yang menjerat Rusia.
"Kita memiliki bahasa yang berbeda, tetapi kita memiliki kebijaksanaan kuno yang sama dari para leluhur kita," ujar Prabowo, menekankan bahwa perbedaan budaya tidak menghalangi kerja sama yang saling menguntungkan.
Bagi pembaca di Indonesia, pidato ini memberikan sinyal bahwa pemerintah sedang membuka peluang ekonomi baru di luar pasar tradisional. Jika terealisasi, perjanjian dagang dan investasi dengan Rusia dapat membuka akses bagi produk-produk Indonesia seperti kelapa sawit, kopi, dan tekstil ke pasar Rusia yang selama ini belum tergarap maksimal. Di sisi lain, kerja sama sistem pembayaran yang disinggung Prabowo bisa menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, meski implementasinya tentu tidak mudah dan membutuhkan kajian mendalam.
Ke depan, publik akan mencermati apakah ajakan Prabowo ini akan diikuti dengan langkah konkret, seperti penandatanganan nota kesepahaman atau percepatan negosiasi FTA. Pertanyaan besarnya, mampukah Indonesia menjaga keseimbangan antara memperluas kerja sama dengan Rusia dan tetap mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara Barat yang selama ini menjadi mitra utama? Jawabannya akan menentukan apakah diplomasi gaya baru ini benar-benar membawa manfaat nyata bagi rakyat atau hanya menjadi wacana di atas panggung internasional.



