Pajak Premier League: Klub Inggris Bayar Dua Kali Lipat untuk Pemain Domestik, Eropa Cemas
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata biaya transfer antar klub Premier League mencapai £39,4 juta, hampir dua kali lipat dari pembelian pemain luar negeri yang hanya £20,2 juta.
- Jumlah transfer senilai £40 juta atau lebih antar klub Inggris melonjak tiga kali lipat dalam dua tahun, dari 6 menjadi 18 kesepakatan pada bursa musim panas ini.
- Dominasi finansial Premier League memicu kekhawatiran inflasi harga di liga Eropa lainnya dan memperlebar kesenjangan kompetitif, terutama bagi klub seperti Porto.

Bursa transfer musim panas Premier League kembali mencetak rekor belanja, namun yang lebih mencolok adalah fenomena baru: klub-klub Inggris kini membayar "pajak Premier League" yang nyaris dua kali lipat lebih mahal untuk merekrut pemain dari sesama klub domestik dibandingkan memboyong bintang dari luar negeri. Data menunjukkan rata-rata biaya transfer pemain antar klub Premier League mencapai £39,4 juta, sementara untuk pemain asing hanya £20,2 juta. Fenomena ini tidak hanya mengubah peta persaingan di Inggris, tetapi juga memicu kekhawatiran di seluruh Eropa tentang inflasi harga dan kesenjangan yang semakin lebar.
Kieran Maguire, profesor keuangan sepak bola dari Universitas Liverpool, menyebut fenomena ini sebagai "Premier League tax". Menurutnya, klub-klub Inggris kini semakin nyaman berbisnis satu sama lain, bahkan dengan rival sekalipun. Hal ini terlihat dari lonjakan jumlah transfer bernilai tinggi. Pada musim panas 2024-25, hanya ada 13 kesepakatan senilai £40 juta atau lebih; musim panas ini jumlahnya melonjak menjadi 27. Yang lebih mencengangkan, transfer antar klub Inggris dengan nilai tersebut meningkat tiga kali lipat, dari 6 menjadi 18 kesepakatan, sementara transfer dengan klub Eropa hanya naik dari 7 menjadi 9.
Maguire menjelaskan bahwa salah satu pemicunya adalah strategi rekrutmen klub-klub "algorithm kids" yang gencar memantau pemain muda berbakat dari seluruh dunia. Mereka membawa pemain-pemain tersebut ke Premier League, lalu klub-klub besar seperti "Big Six" akan memburu yang terbaik. Contohnya adalah Carlos Baleba, yang dibeli Brighton dari Lille seharga £23 juta tiga tahun lalu, kemudian dijual ke Manchester United dengan nilai £70 juta pekan lalu. "Ini seperti menciptakan petri dish untuk menguji pemain asing sebelum mereka dijual dengan harga selangit," ujar Maguire.
Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah klub Eropa mampu membayar mahal seperti yang dilakukan Tottenham untuk Savio (£75 juta) atau Everton untuk Iliman Ndiaye (£65 juta)? Faktanya, hanya Barcelona, Bayern Munich, dan Paris St-Germain yang mampu melakukan transfer senilai £40 juta atau lebih antar klub Eropa musim panas ini. Trevor Watkins, mantan ketua Bournemouth yang kini menjadi pengacara olahraga, menegaskan bahwa Premier League beroperasi dalam gelembungnya sendiri. "Pendapatan mereka jauh melampaui liga lain. Mereka adalah satu-satunya yang mampu membayar gaji dan biaya transfer yang sangat tinggi," katanya.
Di balik deretan angka tersebut, ada logika finansial yang rumit. Keuntungan dari penjualan pemain menjadi kunci bagi klub untuk mematuhi aturan baru seperti Squad Cost Ratio (SCR). Contohnya, Elliot Anderson yang dibeli Nottingham Forest seharga £35 juta dari Newcastle, kemudian dijual ke Manchester City dengan nilai £116 juta. Namun, karena biaya transfer diamortisasi selama masa kontrak, keuntungan yang dihitung hanya £95 juta, yang kemudian dirata-ratakan selama tiga tahun untuk memenuhi SCR. Hal ini membuat klub tidak bisa lagi mengandalkan penjualan pemain sebagai solusi instan untuk menyeimbangkan keuangan.
Aturan SCR ini jelas menguntungkan klub-klub besar dengan pendapatan komersial raksasa. Big Six—Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham—menghabiskan total £1,658 miliar untuk pemain baru. Mereka telah mempersiapkan diri dengan meningkatkan pendapatan di luar lapangan, seperti yang dilakukan Tottenham dengan stadion multifungsi mereka. Sementara itu, 14 klub lainnya yang total belanja mencapai £1,833 miliar sangat bergantung pada aktivitas jual-beli pemain untuk bertahan. Aston Villa dan Newcastle, misalnya, hanya bisa melakukan pembelian besar setelah menjual pemain senilai ratusan juta poundsterling.
Dampaknya mulai dirasakan di seluruh Eropa. Javier Gomez, direktur umum La Liga, mengkritik model bisnis Premier League yang dianggapnya merugikan. "Model yang merugi ini adalah masalah eksklusif Premier League. Ini menginflasi seluruh sektor—liga Inggris, Bundesliga, liga Prancis, dan akhirnya kami juga," ujarnya. Andre Villas-Boas, presiden FC Porto, bahkan menyatakan klubnya kini bersaing untuk mendapatkan talenta bukan dengan Manchester City atau Liverpool, melainkan dengan Coventry City atau Brentford. "Fakta bahwa mereka memiliki daya beli seperti itu membuat kami kesulitan. Premier League terpisah dari yang lain, dan ini membuat klub Inggris semakin dominan di kompetisi Eropa," katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya regulasi keuangan yang ketat dalam sepak bola. Meskipun Liga 1 Indonesia tidak berada dalam skala ekonomi yang sama, tren ini menunjukkan bahwa tanpa pengawasan yang baik, kesenjangan finansial dapat membunuh daya saing klub-klub kecil. Selain itu, bagi para penggemar dan calon investor, memahami dinamika transfer ini penting untuk menilai arah industri sepak bola global, terutama dengan semakin maraknya investasi asing di klub-klub Eropa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah gelembung belanja Premier League ini akan pecah? Dengan aturan SCR yang semakin ketat dan potensi penurunan pendapatan televisi, klub-klub Inggris mungkin harus berpikir ulang sebelum mengeluarkan dana besar. Namun, selama pendapatan mereka terus tumbuh, dominasi ini tampaknya akan bertahan. Yang jelas, sepak bola Eropa semakin terpecah menjadi dua kasta: mereka yang berada di dalam gelembung Premier League, dan mereka yang hanya bisa menonton dari luar.



