Bencana Nepal: Pekerja Bantuan Asal Inggris Dikira Korban Selamat, Begini Kronologinya
Baca dalam 60 detik
- Seorang relawan asal Inggris secara keliru diumumkan selamat oleh otoritas Nepal setelah namanya tercatat saat kembali dari misi kemanusiaan.
- Insiden ini memicu gelombang konfirmasi dari puluhan jurnalis dan menyoroti kekacauan data dalam penanganan bencana yang menewaskan lebih dari seribu orang.
- Pemerintah Inggris mengirim pejabat tinggi ke Kathmandu untuk meninjau upaya pemulihan, sementara 36 warganya masih belum ditemukan.

Seorang pekerja kemanusiaan asal Inggris harus meluruskan kabar keliru yang menyebut dirinya selamat dari banjir bandang di Nepal. Alastair Chambers, pria 45 tahun asal Gloucester, secara tidak sengaja terdaftar sebagai korban yang berhasil dievakuasi, padahal ia justru tengah menjalankan misi bantuan di daerah terdampak.
Kekeliruan ini bermula saat Chambers kembali ke Kathmandu dengan helikopter bantuan dari sebuah desa di dekat Sungai Trishuli. Begitu tiba di barak militer, seorang petugas kepolisian meminta data dirinya untuk keperluan administrasi. Tanpa penjelasan lebih lanjut, petugas tersebut menganggapnya sebagai salah satu dari 119 orang yang dinyatakan selamat lewat operasi udara pada Selasa lalu.
"Saya hanya mengikuti aturan dengan memberikan identitas. Tidak ada yang bertanya apakah saya korban atau bukan. Eh, ternyata mereka langsung menganggap saya diselamatkan," ujarnya kepada Press Association. Konsekuensinya, dalam beberapa jam saja, sekitar 15 jurnalis menghubunginya untuk meminta konfirmasi. "Saya harus bilang, maaf, saya tidak pernah diselamatkan," tambahnya.
Peristiwa ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang melanda Nepal dan Tibet. Data resmi menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas, sementara 3.900 lainnya masih hilang. Bencana yang dipicu hujan deras ini juga memutus akses jalan dan jembatan, mempersulit distribusi bantuan. Chambers, yang terbang ke Nepal pekan lalu, menuturkan bahwa perjalanan yang biasanya hanya 1,5 jam dari Kathmandu kini memakan waktu 8โ9 jam karena banyaknya tanah longsor dan pohon tumbang.
Di tengah kondisi berbahaya itu, Chambers bersama relawan lain membagikan kantong tidur, alat penjernih air, makanan, dan kebutuhan pokok untuk warga yang terisolasi. Ia juga membantu pencarian jenazah dan evakuasi warga yang terjebak. "Kami sempat panik saat air naik lagi, tapi untungnya tidak sebesar banjir pertama. Kami menunggu hingga surut lalu melanjutkan pencarian korban," kisahnya.
Kekeliruan identitas ini menyoroti lemahnya koordinasi data dalam penanganan bencana. Bagi Indonesia, yang juga rawan bencana hidrometeorologi, insiden ini menjadi pengingat pentingnya verifikasi data korban selamat dan hilang. Sistem pendataan yang akurat sangat krusial untuk menghindari kesalahan informasi yang dapat memicu kepanikan atau pun sebaliknya, kelengahan.
Pemerintah Inggris bergerak cepat merespons krisis ini. Menteri untuk Indo-Pasifik, Baroness Winterton, dijadwalkan mengunjungi Kathmandu pada RabuโKamis untuk bertemu pejabat Nepal, PBB, dan tim respons cepat yang membantu keluarga warga Inggris. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Stephen Doughty akan bertemu komunitas Inggris-Nepal di London untuk membahas dukungan bagi para korban.
Chambers sendiri berencana kembali ke Inggris untuk menggalang dana bagi desa yang ia bantu, sebelum kembali dengan membawa perlengkapan dan memasang penerangan tenaga surya. Meski misinya penuh tantangan, ia mengaku sangat berterima kasih bisa membantu. "Ini sangat berat, tapi juga sangat memuaskan," pungkasnya.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Nepal dan komunitas internasional dapat membangun sistem manajemen bencana yang lebih tangguh, tidak hanya dalam hal respons fisik, tetapi juga akurasi data dan komunikasi publik. Akankah insiden seperti ini menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki protokol penanganan bencana di kawasan rawan seperti Asia Selatan dan Asia Tenggara?



