TNI Terjunkan 442 Personel Tim Alfa: Siaga Udara hingga Fast Rope Hadapi Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Mabes TNI mengirim 442 prajurit gabungan untuk memperkuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah rawan.
- Personel disebar ke Riau, Sumatera Selatan, Kaltim, dan Kalteng dengan fokus pada pemadaman dini dan patroli udara.
- Teknologi paramotor dan pelatihan fast rope menjadi andalan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) mengerahkan 442 personel dari satuan khusus yang tergabung dalam Tim Alfa untuk memperkuat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai provinsi. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran meluasnya titik api yang kerap memicu kabut asap lintas batas dan mengganggu aktivitas warga.
Kepala Pusat Penerangan (Puspen) Mabes TNI, Mayor Jenderal Mohammad Nas, menjelaskan bahwa pasukan tersebut tidak hanya diterjunkan untuk memadamkan api secara langsung, tetapi juga melakukan deteksi dini dan pemetaan area terdampak. Sebagian personel telah bergerak menuju Pekanbaru, Riau, untuk mempersiapkan peralatan pemantauan udara, sementara kelompok lain menjalani pelatihan khusus di Palembang, Balikpapan, dan Palangka Raya.
Yang menarik dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (28/8), adalah penggunaan paramotor—sejenis parasut bermesin—untuk memantau wilayah terbakar dari ketinggian. Dengan alat ini, tim dapat mengidentifikasi titik api baru dan mencari sumber air terdekat secara lebih efisien. Di Palembang, personel tengah berlatih teknik fast rope, yaitu menurunkan pasukan dari helikopter dengan tali, agar siap diterjunkan ke lokasi yang sulit dijangkau melalui darat.
“Di Pekanbaru, personel melaksanakan pengecekan parasut paramotor dan uji coba mesin paramotor,” ujar Nas. Sementara itu, di Balikpapan, koordinasi dilakukan dengan Lanud Dhomber untuk memastikan sarana fast rope siap digunakan. Di Palangka Raya, pasukan menerima pengarahan teknis dan memeriksa kelengkapan sebelum ditugaskan ke lapangan.
Kehadiran Tim Alfa menjadi penting karena karhutla di Indonesia kerap terjadi di lahan gambut yang sulit dipadamkan dari permukaan. Dengan kemampuan pemantauan udara dan mobilitas helikopter, diharapkan respons terhadap kebakaran bisa lebih cepat, sehingga mencegah kerugian ekonomi dan kesehatan yang lebih besar. Sepanjang tahun ini, sejumlah daerah seperti Kalimantan Barat dan Sumatera telah mencatat peningkatan hotspot, mendorong pemerintah pusat untuk mengerahkan sumber daya militer.
Bagi masyarakat Indonesia, pengerahan ini bukan sekadar operasi militer; ia menyentuh langsung kualitas udara yang kita hirup. Kabut asap akibat karhutla telah berulang kali menyebabkan sekolah diliburkan, penerbangan terganggu, dan meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan. Dengan adanya tim yang mampu bekerja dari udara dan darat, diharapkan dampak buruk tersebut dapat ditekan, terutama menjelang musim kemarau yang diprediksi masih berlanjut.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah api bisa dipadamkan, tetapi bagaimana mencegah karhutla terjadi kembali. Tim Alfa, dengan peralatan canggih dan personel terlatih, adalah salah satu jawaban taktis. Namun, solusi jangka panjang tetap membutuhkan pengelolaan lahan yang berkelanjutan dan penegakan hukum yang tegas. Apakah operasi militer ini akan diikuti dengan kebijakan preventif yang lebih kuat? Waktu yang akan membuktikan.



