Festival Mifune di Jepang Digelar Kembali: 100 Perahu Iringi Prosesi Dewa Shinto di Danau Kitaura
Baca dalam 60 detik
- Prosesi air tahunan Kashima Jingu melibatkan sekitar 100 perahu dan 2.500 peserta, menandai perayaan yang hanya terjadi sekali dalam 12 tahun.
- Ritual yang berusia sekitar 2.000 tahun ini menghubungkan dua kuil besar di Jepang timur, memperlihatkan kontinuitas tradisi sejak era Nara.
- Perhelatan ini menjadi magnet wisata budaya, berpotensi menarik minat wisatawan Indonesia yang tengah melonjak ke Jepang.

Ribuan peserta mengenakan busana zaman perang dan seratus perahu hias memadati perairan Danau Kitaura, Prefektur Ibaraki, saat Kashima Jingu membuka perayaan Mifune Matsuri pada 2 September. Prosesi air ini bukan sekadar karnaval tahunan; ia merupakan ritual agung yang hanya digelar sekali dalam dua belas tahun, tepatnya pada tahun Kuda dalam kalender zodiak Jepang.
Perayaan yang berakar pada kepercayaan Shinto ini menampilkan mikoshi—kuil portabel yang diyakini menjadi singgasana dewa—diarak keluar dari gerbang utama Kashima Jingu. Para penunggang kuda berseragam perang memimpin barisan, diikuti ribuan orang dengan pakaian tradisional seperti hitatare dan chihaya, menciptakan pemandangan yang seolah memutar ulang lembaran sejarah abad pertengahan. Dari sana, mikoshi dinaikkan ke perahu upacara berhias kepala naga di haluan, berlayar menuju Katori Jingu di Prefektur Chiba, kuil yang menjadi mitra ritual dalam tradisi kuno ini.
Keunikan Mifune Matsuri tidak hanya pada kemegahannya, tetapi juga pada usianya yang disebut telah berlangsung sekitar dua milenium. Jejak festival ini bahkan terekam dalam "Hitachi no Kuni Fudoki", laporan provinsi kuno yang disusun pada periode Nara (710-784). Artinya, ketika Indonesia masih berada di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya atau Mataram Kuno, masyarakat Jepang timur telah memelihara ritus serupa di tepi danau dan sungai mereka.
Bagi pengamat budaya, festival ini adalah contoh langka bagaimana ritual keagamaan mampu bertahan di tengah modernitas. Tidak seperti matsuri lain yang sering kali telah dikomersialisasi, Mifune Matsuri mempertahankan esensi spiritualnya: mikoshi yang diarak bukanlah replika, melainkan objek sakral yang diyakini membawa kekuatan dewa. Prosesi air ini juga merefleksikan hubungan historis antara dua kuil yang sama-sama memuja dewa perang, sebuah ikatan yang telah dijalin selama berabad-abad.
Di tengah menguatnya minat wisatawan Indonesia ke Jepang—yang menurut data Japan National Tourism Organization terus meningkat pascapandemi—perhelatan seperti Mifune Matsuri menawarkan daya tarik yang berbeda dari destinasi urban seperti Tokyo atau Osaka. Wisatawan yang mencari pengalaman autentik dapat menyaksikan langsung bagaimana masyarakat setempat merawat warisan leluhur mereka. Namun, akses menuju lokasi festival di Kashima, yang berada sekitar dua jam perjalanan dari Tokyo, masih menjadi pertimbangan bagi wisatawan mancanegara yang umumnya mengandalkan transportasi umum.
Meski prosesi utama telah berlangsung, rangkaian acara Mifune Matsuri biasanya berlanjut selama beberapa hari dengan berbagai ritual pendukung. Pertanyaannya, mampukah tradisi sebesar ini bertahan di tengah regenerasi peserta yang semakin sulit, dan akankah generasi muda Jepang—yang kerap disebut semakin sekuler—tetap antusias menjaga warisan ini? Jawabannya mungkin akan terlihat pada dua belas tahun mendatang, saat festival ini kembali digelar.



