Danantara dan Bakrie Group Garap Kendaraan Listrik Komersial: Modal Negara Masuk ke Bisnis Bus dan Truk
Baca dalam 60 detik
- Dana kelolaan negara melalui Danantara meneken nota kesepahaman awal dengan VKTR dan Bakrie & Brothers untuk berinvestasi di ekosistem kendaraan listrik komersial.
- Skema mobility as a service (MaaS) menjadi tulang punggung kolaborasi ini, dirancang untuk mengatasi hambatan pembiayaan dan mendorong adopsi bus listrik oleh operator daerah.
- Kesepakatan yang masih bersifat non-binding ini membuka peluang hilirisasi industri baterai nasional, namun realisasinya masih menunggu hasil uji tuntas dan perjanjian definitif.

PT Danantara Investment Management (Persero) resmi menggandeng PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk dan PT Bakrie & Brothers Tbk melalui penandatanganan nota kesepahaman awal untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik komersial di Indonesia. Langkah ini menandai masuknya modal negara ke dalam bisnis bus dan truk listrik yang selama ini digarap swasta, sekaligus menjadi uji nyata komitmen pemerintah dalam transisi energi di sektor transportasi.
Dalam kerangka kerja sama yang masih bersifat non-binding ini, ketiga pihak sepakat menjajaki investasi strategis yang berfokus pada pengembangan industri mobility as a service (MaaS). Model ini dirancang untuk mengatasi dua hambatan utama adopsi kendaraan listrik komersial: mahalnya harga unit dan terbatasnya akses pembiayaan bagi operator armada. Melalui skema MaaS, operator bus listrik di berbagai daerah diharapkan bisa beralih dari kepemilikan aset menjadi layanan transportasi, sehingga beban awal investasi dapat ditekan.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa investasi di bidang elektrifikasi mobilitas komersial merupakan bagian dari strategi jangka panjang transisi energi. Menurutnya, kolaborasi ini sejalan dengan prioritas pemerintah untuk menekan emisi karbon, memperkuat industri dalam negeri, dan mendorong hilirisasi mineral kritis. "Kami melihat ini sebagai upaya membangun fondasi ekonomi yang lebih berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
Bagi VKTR, kerja sama ini bukan sekadar suntikan modal, melainkan pengakuan atas kapasitas perusahaan dalam merancang solusi mobilitas listrik. Direktur Utama VKTR, Anindra Ardiansyah Bakrie, menyebut kolaborasi ini sebagai amanah untuk membawa perusahaannya memasuki fase pertumbuhan berikutnya. "Kami ingin membentuk masa depan mobilitas Indonesia agar lebih maju, berkelanjutan, dan mandiri. Dampak besar bisa dicapai ketika berbagai kekuatan yang saling melengkapi diarahkan pada tujuan nasional yang sama," kata Ardiansyah.
Kesepakatan ini juga menyentuh agenda hilirisasi mineral yang selama ini menjadi prioritas investasi Danantara. Dengan memperdalam rantai nilai industri baterai nasional, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan lapisan nilai tambah di dalam negeri, bukan hanya menjadi pasar bagi produk impor. Namun, perlu dicatat bahwa nota kesepahaman ini masih bersifat awal. Proses uji tuntas yang komprehensif akan menentukan apakah transaksi ini benar-benar menghasilkan nilai komersial yang optimal bagi semua pihak.
Bagi pasar Indonesia, kerja sama ini membawa angin segar bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di sektor transportasi publik. Namun, publik perlu mencermati apakah keterlibatan BUMN melalui Danantara akan benar-benar menurunkan biaya operasional bus listrik atau justru menciptakan monopoli baru. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah skema MaaS ini mampu menjangkau operator-operator kecil di luar Jawa, atau hanya akan dinikmati segelintir pemain besar?



